Sabtu, 15 Oktober 2011

cerpen

Egioni Yudi,
Saat itu hujan turun derasnya, kilat menghiasi dinding langit tanpa pilih kasih. Di dalam kamar yang sempit aroma tubuhku melayang-layang seperti  terbakar ruang pengakuan. Ya, semua orang benar. Akulah pembunuh hubungan dua keluarga yang sudah saling menghargai sejak usiaku masih remaja. Aku tidak mengerti kalau semuanya akan serunyam ini.
Seminggu yang lalu, sebelum semua orang bersiap dengan beberapa keranjang seserahan, aku meminta waktu rehat. Yang seharusnya tak kulakukan karena aku telah menyetujui pejodohannya.” Sepertinya, aku harus membatalkannya, pernikahan yang akan terjadi ini bukan pernikahan sungguhan..”
“ opo maksudmu?” ibu mulai terpancing, aku tahu jika aku telah memutuskan untuk mengakhiri secara sepihak akan timbul kontra. Tapi aku sudah siap dengan segala resikonya. Aku meneruskan dialog-ku dengan tenang,
“ belum menjadi menantunya saja, Pak Rojat sudah meminta yang aneh-aneh padaku Bu, Pak, sepertinya, mereka sengaja menukarkan anak gadisnya untuk memperoleh kedudukan yang lebih baik, aku tidak bisa menjamin apakah pernikahan yang demikian itu akan berjalan lama,” ibu, dan bapak tampak sedang menekuk wajah masing-masing. Kupikir semuanya diam mengiyakan tindakanku, tidak ada komentar lagi setelah semua orang berdiam diri.
Kecuali ketika malam menjadi sangat gelap, awan hitam menebal dan menutupi cahaya bulan yang biasanya menerangi tabir. Telepon di ruang tengah berdering, ini hari kedua, setelah kami membatalkan pergi untuk prosesi lamaran yang telah orang tua dalam kedua keluarga rencanakan.
“ halo,” tidak ada jawaban, penelpon itu diam tanpa banyak berkata. Aku mengulangi teguranku hingga tiga kali, tak ada jawaban lagi setelah beberapa kali kuulangi, terakhir, kudengar suara seorang gadis menggertak penelpon untuk segera turun.” Mbak, kenapa belum siap-siap...bapak sudah menunggu.”
Tut..tut..tut..
Begitu saja dan tiba-tiba tertutup.
Aku meletakkan gagang telepon seperti semula.
@
Esok harinya, di pagi yang tidak pernah berkabut sebab suhu udara selalu lebih tinggi dari curah hujannya, Said, teman sekampusku dulu yang merupakan sepupu dari mantan calon istriku, Reista Dafarius. Kami membuat janji, di tempat biasa di Ibukota Yogjakarta, kami bertemu. Said, mungkin memang sengaja melipat lidahnya karena dia tak mengerti harus memulai darimana.
“ bagaimana, kau sudah mengatakannya, bagaimana reaksi Pak Rojat, dia pasti sangat kecewa karena anaknya tidak jadi menikah dengan laki-laki mapan pilihannya.” Aku mengharapkan Said mengiyakan, aku tahu betapa hebatnya kekacauan yang timbul saat Said menyampaikan berita buruk pada keluarga Pak Rojat, sudah kuperhitungkan berapa kadar kemarahannya padaku, mungkin resiko tinggi yang harus dihadapi Said juga, dia pasti berat hati menyampaikannya. Selain sebagai keponakan yang tak dapat dipercaya, dia juga pasti terlihat sangat menakutkan saat itu.
“ aku berterima kasih padamu karena telah membantu banyak.” Said tetap diam, kulihat dia hanya terus mengempaskan napas kesal sambil menunduk.
“ kalau begitu aku harus kembali ke kantor, sekali lagi terima kasih, kau benar-benar sahabatku.”
“ ya, sampai hari ini saja.”
“ apa maksudmu?” aku sudah tahu apa yang akan terjadi, tapi seperti ucapku, aku sudah sangat siap denga segala sesuatu yang kulakukan.
“ kau pikir apa? Sudah kulakukan sebaik mungkin untuk mengenalkanmu pada keluarga besar Paklekku, mendekatkanmu dengan anak gadisnya, sudah kulakukan sebaik itu sedangkan kau,  apa yang kau lakukan? Merusaknya tanpa kompromi lebih lanjut. Kau pikir siapa, yang tidak marah jika anak gadisnya tidak jadi menikah sesuai rencana, kau pikir hati orangtua mana yang tidak akan sakit dan hancur saat mengetahui calon besannya membatalkan rencana yang sudah dirakit bersama-sama, kalau kau jadi Reista pun, apa yang akan kau rasakan,”
“ dia hanya terpaksa mengiyakan menerimaku sebab tidak ingin mengecewakan bapaknya, seperti semua orang tahu, dia gadis penurut yang tidak pernah punya hak mengatur hidupnya...”
“ dia memang tidak bicara sedikit pun saat aku menyampaikan berita buruk dari keluargamu, kau tahu kenapa? Karena dia marah, aku mengenalnya separuh hidupku, dia selalu diam saat dia marah, dia memang penurut, karena menurutnya, kau yang bisa membuatnya terbuka dan mulai memainkan kartunya sendiri, bukan ayahnya,  bukan siapa saja yang selalu membuatnya melipat wajah dan menurut saja. Dia pikir kau,” aku terperanjat, ada sedikit bilisan sesal, kalau ditanya seberapa berat akun penyesalanku aku tidak tahu, mungkin sebesar rasa terimakasihku karena Said sudah membantuku membatalkan perjodohan. Said, dia bangkit dari bangkunya, dan hendak berlalu...
“lain kali jika bertemu denganku, anggap saja kita tidak pernah bertemu, anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita.”
“ Kau mengerti maksudku, kan?” tambah Said menanyakan pengertianku.” Mereka bilang padaku untuk menyampaikan ini padamu, terimakasih, sudah mempermalukan keluarga kami di depan tetangga yang sudah membantu persiapan acara lamaran, dan terimakasih sudah mengenalakan pada Reista yang polos itu pada hal yang disebut sakit hati. Tidak perlu memikirkan apa yang membuat Pak Rojat marah padamu, mereka sudah mengkaliskan harta mereka yang tersisa untuk acara sialan itu! Kau tahu mereka keluarga tak berada, kau juga pasti tahu seandainya kau menjadi mereka, bagaimana kacaunya perasaanmu?”
Aku membiarkannya pergi, melihat punggungnya berlalu dan menjauh, sementara aku sedang menimbang betapa memang mereka sangat sakit hati akibat perbuatanku.
“bodo!”
@@@
Reista Dafarius,
Kami mendapatkan kabar baik setelah berita buruk yang dibawa Mas Said sejam yang lalu. Kabar baik yang membuat bapak percaya bahwa aku tida berbohong, aku bisa membuatnya terlihat lebih berwibawa selain harus melalui jalan aku menikahi laki-laki yang memiliki pekerjaan bagus dan pendapatan yang dapat menjamin hidup keluarganya.
Setelah mas Said pulang, bapak tengah duduk menghadap kebun di beranda belakang, sementara ibu sedang mengopor bayam di dapur besarnya. Dapur besar di rumah ini memang sengaja di bangun bersebelahan dengan arah beranda belakang, tujuannya, kata bapak, agar lebih muda mengetahui apa yang sedang istrinya masak setiap pagi.” Jangan menyesali apa yang sudah terjadi, itu artinya, mereka berdua memang ndak berjodoh,” cibir ibu keras-keras, ibu tahu betapa besar rasa kecewa bapak pada rencana yang tidak dapat diteruskan sepihak itu. Selain sejak awal, ibu memang tidak menghendaki ada perjodohan di rumah kami, menurutnya, dia dan suaminya saja menikah bukan karena perjodohan, tidak adil saja baginya jika melihatku harus menerima sebuah perjodohan, apalagi dengan seorang yang jauh lebih tua dari usia anak gadisnya.
“ lagian buat apa, kita mempertahankan besan dan mantu yang ndak bisa menghargai usaha kita. Kita ini sudah mati-matian keluar duit banyak Cuma untuk acara yang berakhir menyedihkan semalam itu, bukannya datang kemari minta maaf sendiri malah menyuruh Said menyampaikan kabar buruk, apa namanya kalau mereka keluarga yang ndak tahu malu!” aku sedang menguping di balik pintu ruang tengah saat perbincangan diantara orangtuaku pecah membelah isi halaman yang sebelumnya sepi.
Bapak hanya diam, tidak ada gunanya melempar alasan, menurutnya kali ini istrinya benar dan ia serba salah. Bapak menekuk wajahnya, semakin masuk dalam pandangan ke satu sisi yang memperlihatkan interaksi natural semut dan bunga menik, si putih bunga cabai.  tak lama kemudian telepon berdering, aku keluar bermaksud agar bapak tidak tahu kalau sedari tadi aku menguping perbincangannya dengan ssang istri.” Angkat teleponnya, siapa tahu itu mantan besan yang ndak tahu malu itu! Siapa tahu, mereka mau menyampaikan permintaan maaf,”
Bapak tetap diam, seraya bergegas  masuk ke dalam ruang tengah.” Kalau mereka minta maaf setidaknya mereka ndak punya hutang, impas dan kita ndak punya urusan apa-apa lagi dengan mereka...” suara ibu masih terdengar tangguh menyalahkan keluar Mas Yudi. Tetapi semarahnya mereka, mereka tidak akan pernah mengundat-undat masalah yang telah berlalu. Bagi mereka waktu memang terkadang tidak berpihak pada mereka, mungkin saat ini mereka sedang sial.
@
Bapak, lelaki yang usianya ganjil menjadi empat puluh tiga tahun saat ini, ia sedang tampak repot menata hati. Pertama, dia mengambil napas tiga detik, kemudian mengempaskannya lima sekon. Begitu mulai merasa rileks, kelima jemarinya mulai merenggang gagang telepon yang berwajah masam baginya.” Assalamualaikum...” tegurnya penuh hati-hati, kubilang dalam keadaan semarah apapun, bapak bukanlah orang yang gampang menuduhkan emosi kepada orang yang tak tersangkut pada masalah yang tengah ia hadapi. Ibarat dalam sebuah perusahaan, dia adalah salah satu karyawan profesional,
“ dari mana? Penerbit apa?” aku mendengar kalimat terakhir bapak yang meruyap bingung, aku mendekat, memperlihatkan diri di hadapan bapak terangterangan. Seteguk kemudian, bapak menoleh padaku, setengah matanya seperti sedang diracuni rasa bahagia tak terkira. Aku membalas tatapan bapak yang serius itu,” ya baik, besok kami usahakan datang tepat waktu, Pak. Ya terimakasih,”
“ waalaikumsalam warohmatulloh...” sungguh, terlukis besar sumringah yang tak pernah kulihat di hari-hari yang lalu, bibir bapak mengembang penuh, mata ynag biasanya berirama datar kini berbinar dalam gelap yang indah.
Isi wajahnya kini berubah sangat tampan dari yang dulu kukenal.” Ada apa, Pak. Kelihatannya bapak sangat senang sekali...” ujar Trias, adik lelakiku.
Bapak tak lekas menjawab, dia hanya memandangi wajahku searah dengan keterkaguman yang tak sudah dimatanya yang mulai tua.
“siapkan beberapa potong baju, bawa sedikit hal yang kau perlukan menurutmu, Nak.” Tukas bapak mendadak,
“ ada apa, Pak?”
“ kabar baik, naskah yang katamu sudah hampir enam bulan mengendap di penerbit itu, oleh penerbit akhirnya, hendak di proses...”
“ alhamdulillah...” serobot adikku, ia bersujud menghadap kiblat tanpa pikir panjang, menyebut nama tuhan semampunya, mengucap syukur sepuasnya.
“ aku sudah bilang, mbak. Penerbit pasti akan menghubungimu dalam minggu ini, aku sudah meminta Alloh untuk segera  menyampaikan kabar gembira pada keluarga kita, dan lihat, Dia mengabulkan...” adikku mengulangi tindakannya sekali lagi, sampai ia benar-benar merasa kegembiraannya telah mereda, dia menawarkan diri untuk turut.
“boleh, asalkan kau tidak mengganggu mbakmu saat kami bicara serius.”
“ aku janji bapak.” Dua jari yang membentuk huruf v tampat tegar diperlihatkan pada bapakku. Mereka segera mempersiapkan semuanya, mulai barang-barang seperti bolpen, kertas hvs, baju, dan lain-lain. Untuk kali pertamanya aku melihat, bapak dan ibu akrab karena memang ada sesuatu yang harus dikerjakan bersama.
Kami berangkat,
Ibu, bapak, Trias dan aku. Kami menyewa sebuah mobil milik kenalan. Harganya tidak terlalu mencekik kantung, masih terjangkau dan kami mampu membayar.
“saat kau sudah menjadi orang besar mbak, maka jangan pernah lupa bahwa tokoh yang kau pakai untuk novelmu adalah aku, artinya aku adalah keberuntungan bagimu, ingat! Jangan menyia-nyiakan keberadaanku.” Aku mengerutkan dahi, sedangkan semua orang dalam mobil terlihat tertawa terbahak.
@
Sejak saat itu, aku punya banyak penggemar, kata mereka karena tulisanku menimbulkan energi ketika mereka membacanya. Senin yang indah di kota semarang, bapak memutuskan untuk membeli sebuah rumah di daerah terpencil di kota santri, Jombang. Sungguh suatu kegembiraan yang tiada tandingannya jika dapat melihat bapakku merasa bangga dengan keadaannya sekarang, memiliki rumah sendiri, tidak bergantung papan panggonan lagi pada ibu bapaknya, kami hidup mandiri diluar keluarga besar bapak yang memang sejak awal sangat menginginkan kami keluar dari daerah mereka.
Seperti impian bapakku, rumah kami berdiri tegak menghadap jalan menuju masjid, setiap subuh kami sering mendengar suara merdu hafidz hafidzah membaca alqur’an penuh hati dan pemahaman. Sungguh selalu timbul rasa syukur yang melimpah setiap kami mendengar angin menyemilir menyibak wajah selembut ciuman kain sutera.
Bapak mengantarkanku menghadiri seminar di kota Semarang itu, aku merupakan salah satu undangan yang ditunggu ketdatangannya, sebenarnya ini memang acaraku, aku menyelenggarakan launching buku keduaku yang bertajuk tiga hal. Hidup, pengabdian, dan mati. Ada banyak pengunjung yang meminta tandatangan dan mempertanyakan buku ketiga.
Luar biasa, menjadi orang yang bermanfaat sangat menyenangkan, Tuhan. Banyak hal yang menjadi pelajaran dan peraturan.
@
Tetapi kami terhenti didepan toko buku, yang membuat bapak mengerem mobil adalah ketika seorang lelaki dengan sengaja menghadang perjalanan pulang kami.
Kami duduk bertiga, dengan urutan, lelaki yang tidak kukenal tetapi dikenal serta mengenal bapak, bapak lalu aku. Kami sudah lama berdiam diri satu sama lain, tidak pembicaraan tidak ada topik yang membuka hal ringan pun di antara kami.
Aku tidak berani berkata, meski sejujurnya aku snagat ingin merenggangkan situasi ynag sedang merebak. Aku sangat ingin tahu siapa lelaki yang duduk di sebelah bapak yang sejak tadi memandangku penuh senyum.
“ sepertinya, Nak Yudi baik-baik saja.” Geras Bapak tiba-tiba dengan mata kosong.
“ kami sekeluarga baik-baik saja. Mas Yudi? ”
“ sebenarnya waktu itu...”
“ itu, saya rasa hanya masalah tidak berjodoh. Reista tidak apa-apa, dia sudah bilang tidak kecewa, dan merasa di permainkan.”
“ saya, sungguh ingin meminta maaf atas kejadian itu, Pak. Sebenarnya diluar itu semua saya ingin menikahi Reista.”
“ tunggu,” sedatku, aku merasa perlu memotong pembicaraan karena dialog mereka menyangku pautkanku ke dalamnya.
“dia yang namanya Mas Yudi, Pak?” potongku dengan suara yang tenang kami memang tidak pernah saling bertemu sebelumnya bahkan pada acara perjodohan waktu lalu, aku tidak hadir. Pemilik nama lengkap Egioni yudi tersebut menelak bibir, dia membiarkan hiasan yang tak seharusya membuat wajahnya tampak wajar dan tak berdosa. Senyumnya memancar kuat penuh harapan bahwa akan ada akhir yang baik yang ia dapatkan dengan meminta maaf.
“ Ta, duduklah. Semua pasti ada penjelasannya.” Reda bapak. Aku menggeleng kuat,
“ndak perlu bapak, untuk apa, toh kita sudah tahu dari awal.”
“ biarkan saya menjelaskan, semua ini, membuat saya menyesal, saya sudah datang dua kali ke rumah, tapi bapak dan keluarga katanya sudah pndah, sementara mbah ndak ingin memberitahukan kepada saya dimana rumah baru panjenengan sekeluarga..
Sungguh, saya sangat ingin memutar waktu jika bisa, saya ingin menghapus semua masalah yang saya timbulkan, yang membuat batal rencana Pak Rojat dengan orangtua saya. Kalau saja saat itu saya memiliki lebih banyak pikiran baik, mungin saja saya dan Reista sudah melangsungkan pernikahan...”
“ ndak perlu, saya juga tidak menyesal jika akhirnya saya tidak menikah, sebab menikah bukanlah tujuan utama manusia dalam hidupnya.”
“ Reista,”sebut pemilik nama lengkap Egioni Yudi itu, matanya bulat pepat oleh ketidakmengertian.
Benar, aku adalah seburuk-buruknya perempuan saat aku sedng marah, jika di sampingku ada sebuah taman yang indah, maka aku adalah ulat bulu yang merusak keidahan serta ketenteraman yang mengisi sudut-sudutnya.
@
Pertemuan kami pada saat itu ternyata sama sekali tak membuat Mas Yudi jera mendatangiku maupun bapak, dia meminta kami masing-masing untuk berpikir berulangkali mengenai lamaran keduanya.
Selasa malam di Rumah, Mas Yudi beserta keluarga memang sengaja datang tanpa keluarga besar, mereka hanya berempat. Yakni Ibu, Bapak, Mas yudi dan adiknya. Kulihat ada segerombol perasaan bersalah yang menutupi setiap wajah yang menghadap pada bapakku. Itu yang membuat bapak memutar kembali keputusannya, mungkin aku akan menikahi lelaki itu, mungkin juga tidak.
Seperti hari sebelumnya, dengan pertanyaan yang tidak berbeda Mas Yudi memintaku menjawab apakah berkehendak untuk menerima lamarannya. Ada satu jawaban yang memang harus dikatakan seolah hanya ini yang menjadi solusi andalan bagiku. Aku mereguk dada dalam napas pendek penuh pertimbangan.
“ baik, saya akan menikah, dengan Mas Yudi jika bapak  mengijinkan.”
Senyum mereka merekah, aku tidak tahu sejak kapan  ternyata kalimatku barusn adalah berita baik untuk keluarga yang sudah datang kerumah kami lima kali berturut-turut sebelumnya. Sebenarnya mereka tahu bahwa tidak akan ada kata menolak yang meluntur dari bibir bapakku, sebab dari awal memang bapak yang menginginkan agar aku menikah dengan lelaki yang baik dan memiliki pekerjaan bagus, optimisme mereka terjawab sepadan dengan harapan. Mereka menang.
 Namun sekai lagi, menikah bukanlah tujuan utama dalam hidup manusia, menurutku aku adaah salah satu dari orang yang berpandangan demikian. Tidak ada keinginan lain di hatiku selain, hidup sesuai apa yang dikatakan bapak, atau ibu yang sudah membesarkanku...
@@@




Pernikahan Atau Pengabdian.





































Tidak ada komentar:

Posting Komentar