Ada sebuah cerita, cerita ini sering sekali dikisahkan oleh ibu sebelum aku pergi ke kamar mematikan lampunya, kemudian tidur. Ibu bilang tidak ada unsur muslihat dalam kisah yang selalu mengundang perhatianku saat dia kembali dari kantor dan duduk di depan kami sambil tersenyum melepaskan ikatan rambutnya, tali sepatu olah raga yang selalu macth dengan setelan yang ia pakai ke kantor, serta kacamata min duanya. Kami selalu ingin memeluknya saat ia datang dari balik pintu menyerukan sapaan selamat sore. Ibu kami adalah wanita berusia sekitar tiga puluh lima dua tahun, kecuali saat dia terlihat sangat serius, di hari biasa wajahnya sepuluh tahun terpajang lebih muda dari usianya tersebut. Kami tahu penyebabnya, selain seorang fruits n’vegetables consumer, life styler, dia juga wanita yang sangat ramah, setiap pagi katanya, merupakan awal terpenting dalam hidup manusia. Apalagi sebagai seorang yang sudah bau usia sepertinya, tersenyum adalah jamu yang ampuh untuk mengurangi jumlah kerutan di dahi dan sudut matanya.” Dan agar kelihatannya kita mengenal baik seseorang yang berpapasan dengan kita, meski pun sebenarnya tidak, bukankah sok kenal itu perlu di beberapa tempat dan waktu?” dia selalu membuat kami bingung akan ucapannya, semua hal yang ia katakan ada benarnya, walau terkadang samasekali tak ada hubungannya dengan pertanyaan yang kami ajukan.
Aku dan Mahesa, duduk memerhatikan tingkah ibu yang mirip sekali dengan gadis tujuh belas tahun sikapnya itu. Ibu suka sekali memainkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara, katanya dia sedang praktek melemaskan bibir sebelum melemaskan suara saat bicara dalam bahasa asing. Dia masuk ke dalam kamar mandi, kami membuntutinya, sambil menunggunya selesai membereskan diri, kami menyiapkan makanan di meja makan seperti hari biasa.” Dia lama sekali, aku sudah tidak sabar mendengar apa yang ia lakukan hari ini.” Tegas Mahesa. Anak kecil ini memang sedang mengerjakan sebuah proyek sederhana, meski dia tampak sangat bodo dengan usia sembilan tahun, tetapi dia berhasil dengan sangat mudah memikat seorang pemilik penerbitan buku untuk mengontraknya membuat buku kedua. Aku juga seorang penulis, tetapi tak sepopuler Mahesa. Aku hanya kalah selangkah darinya, ibu bilang itu tak buruk, hanya masalah waktu. Aku terlalu sibuk dengan berbagai ujian sebelum menamatkan pendidikan dasarku tahun ini.
Ibu tidak pernah membatasi apalagi meminta kami melakukan kegiatan yang ia kehendaki, dia selalu menyukai apa yag kami kerjakan sepanjang kami masih dapat mengendalikan jumlah waktu kami dan menyisakan seperlunya untuk istirahat. Yang paling aneh darinya yang tak kami temui dari orangtua lain adalah dia sama sekali tidak pernah marah bila kami memberantakkan rumah atau sedang berusaha mengundang agar dia melontarkan kata-kata keras pada kami. Kedua, dia tida pernah memaksa kami belajar, mengarjakan tugas atau menuntut kami agar mendapat juara kelas atau minimal peringkat lima ata sepuluh besar saja. Padahal setahu kami, dia adalah seorang siswa teladan, dia selalu mendapat ranking pertama di sekolah saat dia muda, bahkan baru-baru ini kami dengar dia di promosikan ke jabatan yang lebih tinggi oleh atasannya karena prestasi kerjanya. Kalau orang bilang kami harus sepertinya, maka ia malah membalikkan kalimatnya,” Menjadi seseorang yang berhasil itu dari kemauan, bukan keharusan.” Tutur pemilik nama lengkap Husnadari Yuar itu.
Menjadi apakah diri kita, sesungguhnya bukan urusan orantua yang mengasuh kita, menyusui kita, mengasihi kita sejak kita masih bayi pun. Seorang ibu, atau ayah yang baik, adalah ibu dan ayah yang dapat mengarahkan dan mendukung apa yang anaknya lakukan untuk dirinya sendiri. Bukan membatasi, memilihkan atau malah memaksa agar anaknya menjalankan apa yang mereka pilihkan itu, tindakan orangtua semacam itu merupakan tindak pidana secara halus yang melanggar hak asasi anak dan hak asasi manusia. Terkadang ada anak yang dapat dengan mudah menuruti apa yang di pilihkan orangtuanya,tetapi dalam hati mereka sembilanpuluhsembilan persen adalah ketidak relaan, padahal sebenarnya hidup dengan ketidak relaan itu tidak akan pernah berakhir dengan baik. Aku melihat matanya berkunang saat menjelaskan pada kami apa maksud ibu mengatakan pada tetangga kami suatu pagi saat kami pulang dari upacara peresmian pabrik konveksi yang ibu dirikan sekitar sebulan lalu.
” Pabrik berjalan dengan baik kan, Bu?” tedas Mahesa tiba-tiba begitu ibu keluar dari kamar mandi. Ibu tampak terheran, aku juga. Anak kecil ini mana pernah ikut campu urusan pabrik datang untuk melihat-lihat saja enggan, mengapa mendadak dia tamak ingin tahu keadaan pabrik?
” Jangan mengganggu ibu dulu, dia baru saja pulang, dia pasti sangat lapar dan lelah setelah seharian bekerja. Silakan duduk Bu, kami sudah menyiapkan makanan.” Aku menyeret sebuah kursi dan menembaskan sponsnya seakan memang dalam keadaan kotor.
” Tidak terlalu capek, hari ini berjalan dengan sangat baik, ada banyak orang di kantor yang melakukan banyak kemajuan. Emh, kalian sudah makan?”
” Kami baru saja selesai. Kami tidak memasak bayam hari ini, kami hanya beli tiga kubis dan empat terung ungu ukuran besar. Ada seseorang yang menawarkan di depan sekolah tadi Bu, kami lihat orang itu sering menanam sayurannya tanpa pestisida di belakang rumah, kami kira sayuran itu sama baiknya untuk dikonsumsi, setara dengan sayuran yang dijual di supermarket.”
” Salah, jauh lebih baik dari apa yang sering kita beli di supermarket. Karena kita tahu cara pedagang itu menanam, dan merawat tanamannya. Dia juga menjual beberapa bungkus tomat, ukurannya sama besar dengan tomat buah, tapi bapak itu bilang dia mengambil bibit tomat biasa.” Ibu kami tidak menyukai makanan mewah yang sering kami temui di restoran saat kami sedang keluar jika ibu tidak terlalu sibuk. Setiap hari di meja makannya, sarapan pagi, makan siang hingga makan malam tidak ada yang terhidang kecuali tahu, tempe goreng, sambal terasi, selada sebagai lalapan. Khusus untuknya, makanan itu setiap hari menambah daftar nutrisi tubuhnya, katanya. Ibu tidak melarang kami makan ayam atau daging, dia sering membuatkan kami masakan yang berisi ayam atau daging, kami menyukai apa yang ibu masak. Dia sangat pintar mengundang lidah kami untuk mencicipi. Sepertinya selain sukses di karirnya dia juga pernah menjuarai setidaknya lomba masak tingkat RT.
” Ibu yakin semuanya berlalu baik-baik saja? Atasan ibu bagaimana setelah dia tahu kalau ibu punya pabrik diam-diam?”
” bicara apa kau? Siapa yang mendirikan pabrik diam-diam? Ibu membangunnya sejak kita masih kecil, mesin jahit ibu yang sekarang di pindahkan ke sebuah ruangan kantor di pabrik jadi saksinya, mesin itu bertahun-tahun menjadi teman ibu, memangnya kau tidak ingat ibu sering membuatkanmu sepotong baju setiap sebulan sekali? Semua orang tahu kalau ibu seorang penjahit, sampai dia mempekerjakan beberapa orang sambil menyewa sebuah tempat di urat jalan kota. Menurutku ibu tidak mendirikan pabrik diam-diam, semua yang ibu kerjakan ada kisah dan perjalanannya, jadi sedikit saja hargai apa yang ibu kerjakan dan dapatkan.”
” Kalimatmu panjang sekali Mas Firman, aku hanya bertanya satu pertanyaan saja.”
Apa…
Ibu memandangku bulat,
Tidak ada yang salah denganku, aku hanya mencoba membela dan menjelaskan, apa itu terdengar berlebihan, kurasa tidak. Aku menunduk tergerun.” Makanlah, Bu. Jangan menghiraukan apa yang Mahesa katakan. Dia mungkin hanya terobsesi dengan proyeknya.” Alihku, ibu mungkin tak bisa ku bohongi. Aku memang sedang tidak seratus persen dalam keadaan baik, sejumlah kader dalam diriku memang masih di lumuri rasa irihati yang semakin lama semakin mengembang dan seolah mengalami perkembang biakan tak terbatas. Apa yang ku piirkan?
*
Ibu duduk di depan kami, setelah beberapa waktu membantu kami menyelasaikan membereskan rumah.” Ada tugas sekolah yang ingin kalian tanyakan pada ibumu? Hari ini aku sangat bersemangat, jadi kalau ada setidaknya katakan saja.” Kami berdua saling pandang. Tentu saja, ini bukan ibu kami, selama ini dia tidak pernah ikut campur urusan sekolah kami, dia lebih suka membiarkan kami memahami, mengerjakan apa yang menjadi kewajiban kami.” Tidak apa-apa kalau tidak ada.” Potongnya sedikit kecewa, matanya mencari remote TV, dia bersandar pada jok sofa, lalu mulai menikmati apa yang ia nyalakan, sebenarnya mungkin dia agak kesal karena merasa kami tak ingin walau sedikit-sedikit dia mencampuri apa yang kami kerjakan.
” Ada! Aku sudah menunggumu sejak tadi, untuk apa memangnya?” sudat Mahesa, dia mulai membual.
Jujur dia memang yang selalu membuatku terlihat kaku dan tidak memerhatikan ibu seperti seorang anak memerhatikan anaknya. Dan ibu mungkin menilaiku giris dan acuh tak acuh padanya.
” Katakan,”
Ibu tampak menyelipkan rambutnya ke belakang telinga agar seisi telinganya tampak serius mendengarkan pertanyaan anak keduanya.” Untuk pertama kalinya, kapan ibuku merasa tidak diperhatikan orangtuanya?”
“ Pertanyaan apa itu? Kau pernah melihat kakek tidak menyayangi ibu? Dia sangat memerhatikan ibu. Diamlah Bu, itu kan hanya kalimat retorik.”
“ Mas Firman tidak punya otoritas untuk ikut campur aku hanya ingin mendengar jawaban ibu. Meski kelihatannya Kakek sangat sayang pada ibu, aku tahu pada saay-saat tertentu ibu pasti pernah merasa tidak diperhatikan, semua orang pernah mengalaminya, sebagai salah satu wujud kesalahpahaman saja minimal, bukan begitu Bu.”
“Benar,” Ibu mengiyakan. Sejak awal kalimat Mahesa, dia memang sengaja ingin mengeruk informasi itu untuk bahan marginal novel terbarunya, anak itu._
“ Jangan hiraukan dia Bu, dia memang sangat terobsesi dengan pengalaman hidup seseorang belakangan, jangankan ibu, beberapa orang yang lewat di depannya atau yang berpapasan dengannya saja ditanyainya hal yang sama.”
“ Itu bagus,”
“ apa maksud Ibu, itu konyol. Mahesa membuatku malu karena harus meminta maaf berulangkali setiap saat dia memulai bertanya pada semua orang.”
” Terkadang, kita tidak harus duduk memerhatikan saja apa yang terjadi pada setiap orang, pada waktu tertentu jika kita tak dapat menemukan jawaban dari apa yang ingin kita ketahui. Bertanya pada orang yang bersangkutan, mendengarkan jawaban yang pasti adalah salah satu jamu manjur untuk memecahkan rasa penasaran.
Tenang saja, Nak. Kau benar ibu pernah merasa kakekmu tidak memerhatikan ibu, yaitu ketika dia memiliki banyak pilihan yang membuatnya bingung mengambil yang mana, dan saat adik pertama ibu lahir. Rasanya sangat sedih sekali, karena baik ibu atau ayah selalu melebih-lebihkan kasih sayang mereka pada anak keduanya. Tentu saja anak seusia ibu yang baru saja mengenyam umur lima tahun itu salah mengartikan jika orangtuanya sedang emban cindhe emban siladan.”
“ istilah baru, apa artinya itu Bu?” Mahesa pura-pura tak mengerti
“ Pilih kasih. Tidak adil.” Tutup ibu singkat
“ Terima kasih, jawaban ibu sangat memuaskan, aku tidak menyangka kalau ibu sangat jauh lebih pintar ber argumen dari perkiraanku.”
“ Tapi lain kali, saranku.” Tembakku menembus percakapan mereka. Ibu dan anak keduanya yang terengah saling berbalas senyum kemudian memandangku seisi matanya.” Jangan sampai adikku, menanyakan hal ini, kapan kau merasa Tuhan tidak memerhatikanmu….”
“ hahaha.” Tawanya mengejek,” Mas Firman lucu sekali kan Bu?”
“ aku tidak bercanda, mereka tidak akan bisa menjawabnya. Kalau mereka sampai bisa menjawab, artinya kau sudah membuat mereka gila.” Tutupku.
“ aya-aya wae akang iye the.” Tukar Mahesa lugas ala kadarnya. Ternyata aku salah, tidak ada cerita hari ini. Padahal sesuatu yang kutunggu ketika ibu duduk melepas lelah tak lain adalah bibirnya yang bergeming memulai sebuah tema cerita yang sama, seperti hari-hari lain, menggunakan wajah kekanak-kanakan yang dinamis, serta suara dan gaya bicara imitasi yang selalu berganti setiap kali. Ya, salah satu hobi ibuku selain membuat anak pertamanya merasa iri terhadap sikap yang terlalu memihak anak keduanya, ia juga panda sekali meniru karakter orang lain, sekalipun jenis orang yang baru ia temui satu detik lalu.
***
Kami bertemu tukang sayur itu lagi.
Kami dengar orang yang saat ini bersamanya tak lain adalah adik lelaki terakhirnya, sementara dalam silsilah keluarganya tukang sayur yang memiliki nama komplit Ummar Gashaf itu adalah anak kedua dari pasangan campuran Sampang dan Tulungagung. Dari keempat anaknya mereka, Ummar Gashaflah yang belum mengakhiri masa lajangnya hingga nyaris kepala empat usianya.
Konon menurut kabar, sebenarnya Gashaf pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis tetangga, menurutnya tidak gadis yang ia kagumi itu merupakan gadis kaku yang memiliki banyak keutamaan untuk di spesialkan dihatinya. Laki-laki itu mungkin benar adalah tipe orang setia yang tidak mudah menghapus masa lalunya demi masa depan cerah yang lebih menjanjikan. Pada kenyataannya, memang kulihat ada satu pos gambaran sifat tersebut. Meski tidak seratus persen aku percaya tapi beberapa sikapnya, caranya bicara yang tenang namun tangguh, gayanya memandang seseorang, caranya tersenyum kepada semua orang yang ia kenal, semua hal darinya membuatku ingin memperhatikannya saja sampai aku menemukan apa sebenarnya yang magis dari diri Gashaf.
“ Mas Firman berpikir akan membeli sayuran sama Pak Gashaf lagi? Jangan dulu deh, dirumah masih banyak sayuran. Lagian buat apa? Sayurannya saja masih sejenis yang sudah pernah kita beli kemarin lusa.” Ujar Mahesa ketika dia mendapati mataku sedang mengawasi Gashaf lebih dalam.
“ pernah terpikir olehmu Sa? Kalau Pak Gashaf itu memang masih lajang?” Alihku begitu dia terlalu serius ingin tahu apa yang ku perhatikan dari Gashaf.
“ Maksud Mas? Jomblo?” Mahesa meneliti sebentuk tubuh yang memacung seribu hal menarik.“ Sudahlah, apa yang kita bisa ketahui soal itu? Bahkan untuk ukuran lelaki yang sudah beristri saja kita ndak akan tahu, seperti orang bilang, sebab kita anak ingusan, apa yang anak ingusan ketahui, di tambah lagi apa yang dapat di percaya dari usulan anak kecil?” Mahesa tersenyum sungging.” Lebih baik kita diam saja, dan bertingkah seolah kita tidak tahu apa-apa, meski kita tahu lebih banyak dari kelihatannya,”
“ Benar juga, ayo masuk.” Ajakku. Walau aku tampak sudah tak peduli pada Gashaf, malahan sebenarnya aku sangat lebih dari sekedar peduli.
Tanpa sepengetahuan Mahesa, setiap pulang sekolah aku sering mengikuti kemana Gashaf pergi, ternyata benar, lelaki yang bersamanya setiap berjualan sayur di depan pagar sekolah kami itu merupakan adik lelakinya. Dan nama si adik kudengar adalah Rhufin Ma’dad,ia biasa dipanggil Rhufin saja. Sepertinya semu anggota keluarganya memang selalu dipanggil dengan nama depannya saja, di lingkungan rumah kami, nama panggilan adalah nama yang mudah untuk di ingat setiap orang yang mengenla kami, mereka bisa memanggil kami di nama belakang saja, nama depan saja, atau mix antara nama depan dan nama belakang, yang penting masih terkait nama lengkap kami.
Aku pergi kesebuah tempat dimana Gashaf biasa duduk membuka Al-kitab, lalu melagukannya menggunaka n sura yang biasa digunakan sehari-hari untuk adzan. Penduduk setempat bilang jika ada suara lelaki yang sangat renyah sedang melantun lafadz adzan di mesjid itu adalah suara emas milik Gashaf, aku tidak menyangka kalau sesungguhnya pria itu sangat terkenal di desanya. Kupikir dia laki-laki biasa yang sama dengan semua lelaki seumurnya yang kami kenal sebelumnya.
*
Minggu pagi yang diluangkan ibu kami untuk pergi mengunjungi rumah orangtuanya, kami bertemu dengannya lagi, Ummar Gashaf, penjual sayur itu. Kami tak tahu apa hubungannya dengan keluarga kakek kami, tetapi mereka kelihatan sangat akrab. Cara mereka berjabat tangan sebelum Gashaf berpamit undur diri. Tetapi begitu ibu kami masuk ke ruang tamu sambil menggoyangkan salam, Gashaf terenti dari langkahnya, tampaknya ibu juga sedang terenti dari langkahnya.” Na,” mereka saling bertatapan, kami tidak mengerti apakah yang sedang terjadi pada keduanya. Ibu tak berkedip seolah dia tengah terkejut oleh sesuatu yang terduga, sementara Gashaf tak meletupkan kelopak matanya semacam sedang terpesona pada pandanga pertama. Walau aku tak pernah tahu apa artinya Love at first sight, tapi aku tahu ciri-ciri orang yang sedang mengalami fase tersebut, terkadang karena terlalu mendalaminya seperti aku sendiri yang sedang mengalaminya.
Tahun ganjil di usia ganjil ibuku,
Kami duduk berhadapan, aku dan Mahesa. Anak kedua ibuku sedang memainkan bibirnya, seperti apa yang sering dilakukan ibu. Dia memang seorang imitator lihai, segala apa yang dikerjakan seseorang selalu ia tirukan dengan jenius. Sementara aku, aku tetap melihat apa yang sedang terjadi di luar sana, bersama puluhan pertanyaan berkeliang dalam otak. Tentang apakah kedua orang yang sedang duduk berhadapan itu, apakah mereka pernah memiliki hubungan di masa lalu mereka sebelumnya. Kulihat Mahesa sedang asik memakan setoples kacang mede yang memang di sediakan khusus untunya anak kedua ibuku.” Mas Firman lihat apa? Kalau mau makan mede ambil saja sendiri.” Dia berpikir aku sedang menginginkan makan medenya,
“ Aku sedang berpikir ,”
“ Jangan terlalu sering berpikir, nanti Mas stress.”
“Benar, tapi semua manusia yang masih hidup pasti harus berpikir, kata Bu Diana, salah satu tugas manusia saat berada di dunia adalah berpikir. Kecuali manusia yang tidak hadir pada acara pembagian brain.” Mahesa tampak melotot tak mengerti.
“ Apa hubungannya?”
“ Sebagai contoh, kalau saja Mahesa tidak hadir pada pembagian otak, pasti kepala Mahesa tidak akan sejernih pikiran penulis jenius yang menggondol seribu penghargaan dan seratus macam tempat di kotak kosong penerbit, belum apa-apa saja Mahesa sudah mendapatkan kontrak buku kedua kan?”
“Seribu penghargaan darimana? Satu saja belum kudapat. Mas Firman mengada-ada atau sedang mengejekku?”
“ Bukan mengejek, kenyataan untuk seorang penulis jenius, selain sebagai tuladha pernyataanku barusan, ndak berlebihan kan?” usilku, sebenarnya iya. Kami memang pasangan kakak adik yang serasi dan kontras kecocokan. Dalam segala hal yang berhubungan dengan dunia tulis menulis, dunia khayal mengkhayal. Nyaris semua sisi dari kami sejajar sama.
Ku tengok kembali apa yang sedang ibu dan Gashaf lakukan, kami kira mereka pasti sedang bicara satu sama lain yang tak boleh diketahui orang lain. Gelagat mereka sedikit mengundang penasaranku. Sesekali tanpa membuang perhatian dari Mahesa si tukang ikut campur yang jenius itu, aku memberanikan diri untuk mengambil langkah yang jauh. Aku duduk di belakang daun pintu, menutupi diri dengan kelambu yang terpasung pada kerai jendela yang berdiri saling berdampingan dengan yang lain. Seraya memainkan game kecil yang baru di beli adikku pada tukang elektro diujung kompleks rumah kami di Bandung. Aku hanya ingin tahu apakah yang terjadi di antara keduanya, jika aku berada sedekat ini dengan mereka, aku bisa lihat sekaligus dengar lebih banyak.
“Kenapa tidak katakan kalau waktu itu kalian akan menetap juga di Bandung? Kami bisa menawarkan tumpangan, setidaknya sampai kalian mendapatkan rumah yang layak.” Suara Gashaf terdengar tangguh dalam angin yang merepaskan. Ibuku tampak tenang, tetapi tangannya sedang bergetar tak beraturan, begitu pula napasnya yang beberapa bulan belakangan memang sering tak terkendali alurnya, aku kerap mendapati keadaan ibu sedang tak baik jika irama napasnya bergerak seperti tengah terpantul-pantulkan.
Aku segera ingin mengecek bagaimana kondisi ibu, tapi kemudian seolah ada angin padat yang menahan aku tak jadi melangkahkan kaki, kembali memasang telinga dan mata dengan tingkat ketelitian lebih.” Tidak perlu, sejak kami pergi dari panti asuhan, kami sudah mendapatkan tempat untuk menetap dengan mudahnya. Kami saja tidak akan pernah tahu kalau kami akan menetap di sebuah tempat.”
“ Apa kesalahan masa lalu itu sungguh sangat besar? Kelihatannya Husna sama sekali tak bisa memaafkan saya?”
Apa hubungan Gashaf dengan ibu… aku menempelkan daun telingaku ke dalam corong yang tersembunyi dalam kaca jendela. Aku ingin tahu lebih banyak, namun aku tidak dapat begitu saja membiarkan keadaan ibu semakin buruk sebab gemetar tangannya yang semakin kacau tampak tidak dapat di redakan olehnya. Meski dia tampak dapat mengendalikan dirinya dengan sangat sempurnanya, sebetulnya dia lebih rapuh dari kelihatannya.
“ Tidak ada kesalahan, dan tidak ada yang perlu dimaafkan. Orang bilang, karena kita tidak akan hidup di sebuah tempat yang sama selamanya.”
Ku tampak ibu sedang menanggalkan dialognya, segera saja mengakhiri semua yang mereka bicarakan, lalu pergi meniggalkan Gashaf. Sementara aku sempat menyaksikan tangan Gashaf menahan ibu untuk pergi.” Jangan lagi, saat itu, aku tidak sedang betul-betul mengusirmu, aku hanya sedang termakan hasutan Indah, Husna juga tahu sendiri bukan bagaimana seseorang ketika dia sedang dibawah pengaruh emosi? Aku juga manusia biasa, bukan mustahil bagiku untuk mempercayai seseorang yang datang padaku dengan membawa bukti yang kuat untuk menudingkan kesalahan yang sama sekali tak Husna perbuat.”
Ibu terdiam, gadis itu menghentikan langkahnya dan mulai mencermati apa yang akan terjadi padanya jika dia tak segera menanggapi apa kata gashaf. Husnadari Yuar itu mengembuskan napas tak beraturan. Itu bentuk ketaksanggupannya menanggapi, entah mungkin saja dia sedang kehilangan keseimbangan untuk mengatur kata-kata. Dalam kondisi kacau apa pun bisa terjadi pada ibuku, termasuk berubah manjadi sangat jahat dan sadis.” Tidak, kecuali laki-laki itu sejenak memiliki banyak pilihan, dan ia takut untuk memilih salah satunya. Pada saat itu, aku memang harus pergi, karena jika tidak Mas tidak akan menemukan mana yang harus di pilih. Saat pertama kali kita duduk di kursi pengantin Mas yang bilang agar aku mempercayai Mas dalam keadaan apapun, sebab lewat kepercayaan itu aku bisa menunjukkan kepadamu berapa besar rasa cintaku. sungguh, kemana pun aku pergi bukanlah urusanmu, sekarang aku lebih percaya pada Tuhanku, karena selama mengabdi padanya kau tidak pernah di sakiti segorespun olehnya.”
“ Itu tidak benar. Aku melihat kau masih mencintaiku, Na. meski pun kau sudah memiliki dua orang anak dari laki-laki lain.”
Aku,
Apakah masalah serumit ini, tidak perlu kucampuri? Tapi gadis yang sedang di rundung pertanyaan yang tak ada jawabannya itu ibuku. Salahkah jika aku sekedar ingin tahu?
*
Kami tidak tahu siapa ayah kami, ibu bilang ayah kami sudah meninggal. Tapi meski begitu setidaknya harus ada selembar foto di dalam rumah kami seorang laki-laki yang ia sebut-sebut sebagai ayah kami. Tapi untuk foto itu pun, kami tidak menemukannya.
Kami tidak memiliki banyak waktu untuk membicarakannya, terkadang jika memang ada, dan kami menyinggung masalah yang terkait dengan ayah, ibu lebih sering mangalihkannya ke topik lain dan meminta kami untuk memerhatikan apa yang ia katakan.
***
Gashaf duduk menghadap langit,
Kalau dilihat dari atas, posisi Gashaf terlihat sedang duduk melipat lutut, dia sedang menangis. Kami akan pergi segera, karena besok hari efektif sekolah dan kerja. Maka mau tak mau kami haruslah kembali ke Bandung. Sejak saat ibu menjalankan UKM berupa pabrik konveksi, rumah nenek kami lebih mirip bangunan minimalis masa kini. Rumah yang dulunya cukup menampung tiga kamar saja, sebulan belakangan menjadi hunian yang cukup megah di bandingkan dengan sisi kiri maupun kanannya. Nenek kami tentu saja sangat bersyukur dengan keberhasilan cucunya, ditambah lagi meskipun si cucu telah berhasil ia tak pernah melupakan kewajiban kepada para tetuahnya.
Kami berada di lantai tiga, tidak ada kamar luas di atas sini, kecuali hamparan luas taman yang dibubuhi lampu-lampu warna pale saat dinyalakan.” Laki-laki itu, apa yang sedang ia lakukan, Mas.” Mahesa tiba-tiba muncul di sampingku tanpa memberi tanda.
Tentu saja aku kaget, terkadang, anak kedua ibuku itu memang tampak menakutkan saat mencoba ingin tahu sesuatu. Bibirnya selalu moncong lima meter kedepan sambil menunggu jawaban yang ia inginkan, mata yang melotot seperti tak tahu perih itu,” Kapan kau datang, Sa?”
“ O, Mas menyebalakan sekali, mengapa selalu memanggilku hanya dengan nama belakang saja,” gerutunys. Tetapi jika di lihat lebih lama, dia menyebalkan juga.
Sebenarnya hubungan kami tidak sebaik kelihatannya, anak kedua ibuk itu cukup menjadi duri dalam daging untukku, mungkin karena dalam setiap waktunya belakangan dia memang cukup menunjukkan bahwa dia memang unggul selangkah dariku. Ya, bisa dibilang begitu. Aku merasa terhina dengan keberhasilan anak kedua ibuku itu.
Mahesa sedang duduk mengawasi apa yang sedang dilakukan oleh Gashaf.” Apa kau pernah berpikir bahwa ibu dan dia memiliki hubungan yang tak di ketahui banyak orang. Bahkan kedua orangtua mereka pun.”
“ apa-apaan kau ini,”
“memang, aku tidak tahu apa-apa, tapi semua orang mulai mencurigai siapa ayah kita, mungkin saja…”
“ berhenti bicara begitu, kau tidak percaya pada ibumu sendiri? Siapa yang kau dengar sedang menggunjingkan ibumu? Apa mereka tahu siapa dan bagaimana ibumu?” aku berenti untuk menghela napas sebentar.” Mengapa harus jauh pertanyaanku, kau sendiri, hidup berapa tahun dengan ibu, apa kau tahu bagaimana ibumu?”
“ setidaknya yang mereka katakan tidak benar.” Bagus.
“ lain kali pikirkan apa yang akan kau katakan, ingat kata pepatah, lidahmu bisa menjadi hari kematianmu.”
“ kau ini, bicara apa Mas? Setahuku tidak ada pepatah seperti itu, Kau pasti mengarangnya sendiri ‘ kan.”
“ kalau artinya mengena pada kenyataan apa salahnya menciptakan peribahasa sendiri?”
“ mmmh. Ya deh, di dialog mana kau tidak menang.”
Tapi sejujurnya aku sangat ingin tahu apa yang benar-benar terjadi dalam keluarga ini. Aku merasa perlu ada yang mengatakan sebuah kenyataan kepadaku, sebab, aku adalah anak pertama dari anak pertama keluarga ini.
*
Kami sudah selesai mengemasi barang-barang kami, besok pesawat kami berangkat sekitar pukul enam sore, kudengar ibu membuat reservasi tiket kami lebih awal beberapa jam sebelum penerbangan sebelumnya, tetapi kata petugas reservasi kami tak bisa memindahkan jam terbang karena setiap kelas sudah terjual habis tak bersisa. Akhirnya kami harus menunggu sampai pukul enam seperti rencana awal.
“ kenapa harus mengubah penerbangan kita, Bu. Bukannya malah lebih enak jika kita pulang sore hari. Lagi pula macetnya sama saja.”
“ tidak apa-apa ‘kan.? Jika di pikir panjang kalian berdua bisa istirahat lebih lama kalau kita mengambil pesawat yang jam lepaslandasnya setengah hari sebelumnya.”
“ terserah ibu saja.” Mahesa sunguh sangat keterlaluan, sikapnya itu cukup menunjukkan bahwa dia tidak percaya pada apa yang kuingatkan padanya pagi tadi.
Mahesa tampak sedang ingin berlalu. Mau kemana dia.
***
Aku tidak segera tidur begitu Mahesa tertidur pulasnya. Sama dengan apa yang keras kepala pada diri Mahesa, rasa penasaran akan hubungan ibu kami dengan Gashaf, ada apa sebenarnya di antara mereka. Rasanya, setiap tempat yang ada dalam tidurku per jam berubah menjadi apa yang ingi ketahui. Untuk beberapa waktu aku hanya bisa terduduk mengurap isi wajah yang menyemaikan jutaan ketidakmengertian, memainkan bibir, mengedipkan mata berulang-ulang, atau hanya menatap sudut demi sudut ruangan bergantian.” Akhirnya, aku di buat gila.” Pikirku dalam hati yang setengahnya semakin galau tak tertandingi.” Jangan ikut campur urusan orang dewasa , Mas. Kau bisa gila karena tak tahu apa yang harus kita perbuat…”
Aku menolehnya, Mahesa tampak masih pulas mendengkur. Sangat tidak mungkin baginya jika mendengarku sedang menggerutu atau,,
“ Hei, dasar anak nakal… duduklah di dekatku, akan ku ajarkan padamu apa yang dinamakan, genggaman cara barat dalam permainan tennis..”
“ Dasar sok tahu sekali kau!!”
“ Kemari kau !!”
Dia,,, mengigau?
*
Aku duduk di taman lantai tiga, semua orang memang sedang tidur dengan pulas. Aroma dingin malam yang ditutupi siluet langit yang padhang rembulan, aku rasa pada saat yang sama mungkin beberapa orang dari manusia uyang pernah hidup di dunia ini terengah menyendiri untuk menemukan suatu jawaban dari pertanyaan yang sengaja dan tak sengaja mereka ada-adakan sendiri,
Seperti cerita sekaligus rencana awal.
Aku harus tahu apa yang disembunyikan oleh ibuku, bagaimana pun caranya dan apa pun hukumnya dalam agama dan
Aku tidak tahu sejak kapan, kami hanya tinggal bertiga sejak ibuku menyewa sebuah kamar berukuran tiga kali empat mengecat bagian depan dindingnya dengan warna dasar hijau berselang pale. Aku tidak tahu siapakah yang sebenarnya dinamakan sosok ibu itu, sementara yang kulihat dari Husnadar Yuar itu adalah seseorang yang sedang berjuang menghidupi kedua anaknya dengan keringat keringnya tetapi juga keringat basahnya.
Aku mulai ingat, ketika itu Mahesa sedang berusia tujuh bulan. Di usia sedini tersebut dia sudah pandai memanggilku dengan sebutan Ma.., dan juga sudah bisa berjalan. Sedangkan ibu bekerja pada sebuah pabrik sandal. Ibuku membeli satu set perkakas jahit, sebuah mesin butterfly lengkap dengan gunting kain, gunting benang, aneka macam warna benang jahit hingga jarum chrysanthermum.
Pada malam dimana mesin jahit ibu datang, kami melihatnya sedang memainkan kuas di atas kanvas, dia melukis. Aku, dengan keluguan bocah berusia tiga tahun, mulai bertanya dan sok ingin tahu sekali.” Ibu sedang apa?” ku lihat ibu yang tengah serius saat itu mnenghantamkan diri dan menjawabnya dengan senyuman sebagai pembukanya,” Hanya menuliskan sesuatu yang akan menguntungkan kita nantinya.” Aku memang masih berusia tiga tahun, tetapi aku tahu apa yang pernah kulihat sekarang tiris dengan apa yang nampak di tuliskan ibu pada kanvas seukuran separuh tinggi jendela. Rumah kontrakan yang kami tinggali itu. Setidaknya aku masih ingat kalau ibu menuliskan dua kata di balik poin bunga yang ia pin-kan sebagai bullet. Menerima jahit baju pria, dan wanita.
Sepertinya, ibuku, adalah orang yang dalam masa hidupnya sama sekali tak pernah mengalami apa yang disebut kebanyakan orang di dunia ini dengan kemalangan. Ibu kami, selalu memperlihatkan barisan giginya yang agak acak-acakan dan menguning karna terlalu banyak mengopi tubruk begitu malam menjelang.
Entah pada tahun berapakah,
Kami selalu duduk berhadapan sejak Mahesa bisa duduk dan bicara dengan jelasnya. Setiap pulang bekerja dari pabrik dia melepas sepatu kets-nya, kacamata yang sampai saat ini framenya belum pernah diganti sama sekali. Wanita yang saat aku berusia delapan tahun sedang menindaklanjuti karirnya di dunia tulismenulis dengan debutan novel The Ramon’s Won Description. Aku tidak tahu apakah isi pokok dari novel tersebut tetapi menurut kabar, omzet penjualannya sedikit dapat membantu kehidupan kami.
Tak lama setelah kabar tersebut, ibu membeli sebuah novel karyanya, melukis kover depan yang di usulkan redaksi untuknya, mengabadikan beberapa kalimat motivasi yang tersebut dalam novelnya. Ada sebuah kalimat yang pernah diucapkannya yang membuatku terkesan, ibu memang sudah lama bergelut dengan dunia mengarang. Tetapi sepertinya ini adalah hal yang paling indah, bisa menciptakan beberapa kata ber motivasi, seolah ini adalah kali pertamanya ibu terjun ke dunia baru yang menyanangkan.
*
Ibu kami adalah seorang wanita yang lembut, tetapi juga seorang laki-laki yang tangguh saat mendidik kami untuk tegas, atau sekedar tak mudah lembek. Aku selalu menyebutnya gadis tujuh belas tahun, tingkah laku yang selalu datar dan kekanak-kanakan ketika sedang sendiri, membuat kami yakin bahwa saat itu dia memang masih seorang gadis perawan yang baru saja berusia tujuh belas tahun. Dia memang satu-satunya orang tua yang kami miliki, rasanya, begitu ia menampakkan kasih sayang yang sungguh sangat besar dan tak bisa terkalahkan, kami tak ingin dan bahkan tak akan pernah menginginkan untuk melepaskannya lebih jauh satu milimeter saja dari daerah terjauh yang selalu ia kunjungi di dunia. Mahesa dan aku sangat menyukai caranya memperlakukan kami yang sering tampak sumbang dan tak logis, tetapi sebaliknya sebenarnya sangatlah sempurna.
Ibu kami, setahuku, ia tak pernah terlihat sedang memerhatikan foto seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya dan meninggalkan dua bayi jelek dan merepotkan seperti kami. Dia selalu tampak tidak terbebani dengan apa yang dihadapinya.” Aku memang selalu tampak seolah baru bebas dari penjara, kau tahu betapa senang perasaan ibu ketika ibu berhasil pergi dari rumah dan mendiirkan rumah dengan dua lilin kecil di dalamnya? Itu hadiah yang tak terduakan…”
***
Sebelum ibu berpamit pada kakek nenek dan kedua orantuanya, ia sedang duduk menghadap taman di lantai paling atas rumah ini. Aku tidak tahu yang sedang ia lakukan, tetapi secara kasad mata dia lebih banyak murung ketika kami duduk semeja dan menunggu jam makan. Angin berdesir, kulihat butiran-butiran paginya menyapu pipi yang hampir dua hari ini selalu terasa lembab.” Ibu pernah bilang padaku, bahwa yang namanya berbohong itu menyakitkan. Yang namanya berbohong itu adalah hal yang paling menydihkan, bukankah, lebih baik jika kita memiiki masalah setidaknya kita ceritakan pada seseorang yang pantas kita beri kepercayaan…”
“ sudah, dan menurut ibu Dia memang tidak akan pernah membeberkan bagaimana kucar-kacirnya hati ibu saat sedang di timpah masalah.”
Ibu mengelus rambutku searah dengan bendungan kesedihan yang menghadapnya, aku menggeleng lemah, sebab separuh dari ketidak tahuanku itu tiba-tiba berubah menjadi bayangan yang menyuruhku untuk diam dan hanya mengiyakan apa yang ibu sulutkan demi membuatku tak ikut campur lagi. Tapi_;
Aku anaknya.
“ Bu,,” mataku tertahan sederak.
“ Dengarkan, kalau bisa jika kita sedang menghadapi suatu masalah yang menurut kita sangat besar, maka jangan sampai seseorang mengetahui betapa sedang kacaunya kita saat itu. Menurut pengalaman banyak orang, dari hal tersebut banyak orang yang dengan tidak ukuran mempergunakan ketidakstabilan kita demi mendapat keuntungan.”
“ Maksud Ibu. Ibu tidak bisa percaya meskipun pada kakek nenek.”
“ Orang bilang kita memang harus sangat berjaga-jaga, terhadap siapa pun.”
“ Ibu.”
Sepintarnya aku menceramahi orang lain, aku tetap tidak akan menang melawan cara ibu berpendapat. Jika kukatakan dia adalah gadis tujuh belas tahun, itu benar, sampai sekarang pun gurauan itu seolah berubah menjadi kutukan dalam kenyataan. Dia adalah gadis kepala batu.
*
Aku menemuinya, laki-laki yang belakangan selalu menampakkan diri di bawah jendela kamar ibu. Tetapi , sedang bersama siapa dia, seorang bocah lelaki yang memiliki rambut cepak hitam legam seperti habis di cat. Aku berhenti dari langkahku, siapa lagi bocah yang memiliki sepasang gigi seri mirip kelinci selain adik lelakiku? Si Mahesa itu selalu duduk dengan sikap mengejek, sebenarnya dia mewarisi sifat ibu yang sedikit angkuh dan acuh tak acuh. Kubilang, dia adalah satu-satunya anak yang memiliki kasih sayang penuh dari ibu kami.
Aku memerhatikannya, seraya mendekat agar dapat mendengar lebih jelasnya. Pembicaraan mereka seolah hanya polusi udara yang terempas angin, terkadang timbul, menebal ke segala arah, terkadang juga menipis hingga meredam tak terbahas. Mahesa tertawa lepas sambil mengendus seperti babi sesekali. Dia suka mendengarkan orang bercerita, tetapi jika cerita itu berisi dongeng dia tidak akan mau menoleh lagi untuk sekedar menyapa si pembicara. Hampir semua bagian diri adalah dirinya.
“ lalu kenapa tidak ada laki-laki yang mau dengannya paman. Bukankah ibuku seorang perempuan yang baik menurutmu?” mereka;
Mulai membicarakan tentang ibu. Aku memasang telinga lebih fokus arah suara.
“ Ibumu, selain dia polos, dia juga sangat mudah dibodohi. Dia adalah gadis yang sangat naif.” Ujar Gashaf sambil membubuhinya dengan senyuman kecil.
“ Bapak tampak sangat mengenal ibuku rupanya. Benar-benar lebih dari yang saya duga,.” Sahutku menutup. Sebenarnya aku ingin sekali duduk berdampingan dengan mereka. Tanpa harus memotong pembicaraan denga cara yang tak sopan sama sekali.
“ Mas..” gerut Mahesa menyelahi.
Aku hanya tersenyum tanpa banyak berkata, ada sedikit unsur campur tangan dialog tanpa permisi yang tercantum dalam kalimatku, aku tahu. Sebab hal itulah yang membuat mereka berdua sedang terlihat terkejut akan kedatanganku.
***
Aku duduk di nomor tiga mengurutkan diri, sementara Gashaf berharap aku memang akan memulai sesuatu terkait ibu. Aku melihatnya, seluruh isi wajahnya runyam seperti tumpukan sampah masa lalu.” Aku tidak tahu sejak kapan….. kami, sudah berada dan tinggal di sebuah rumah kecil setelah usiaku bertambah enam bulan dan mulai bersekolah, ibu sudah mendapatkan pekerjaan tetap di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang antar barang. Kami sudah lama hidup di kota kembang itu, kami sama sekali tidak tahu siapa ayah kami. Ibu tidak pernah bercerita siapa nama suaminya, bagaimana caranya memperlakukan kami saat beliau masih hidup.
Ibu lebih banyak menyimpangkan topik pembicaraan tentang ayah ke permasalahan yang lebih menarik seperti membahas bagaimana caranya agar seseorang tidak gampang tua di usianya yang tidak mungkin bertambah muda. Hh, gadis itu selalu memiliki banyak tema agar kami melupakan apa yang sempat terlintas di otak kami, melupakan sesuatu yang semestinya sudah sejak lama kami ketahui.” Aku melemparkan tatapan pada Gashaf, dia terlihat tergila-gila dengan ceritaku, aku berkedip.
” Tunggu, kau memanggilnya apa? Gadis?” sembat Gashaf mendadak.
” Kami tidak pernah merasa kalau dia adalah ibu kami, sikapnya lebih mirip gadis berusia tujuh belas tahun. Di rumah kami, sebutan itu tidak pernah mengundang kemarahannya, dan di perbolehkan setiap saat jika memang ibu memperlihatkan sikap kekanak-kanakannya.” Jelsku merinci. Mata Gashaf berubah menjadi sangat terfokus, aku tidak mengerti benar bagian manakah yang membuatnya telungkup mendengarkanku, yang kutahu dia memang sangat tertarik pada ibu.
” Anda tampak serius sekali.” Aku kembali memutar kepala di sembilan puluh derajat dari arah sebelumnya.” Teruskan saja semuanya,”
” apa ibu kami begitu menarik bagimu hingga kau sangat ingin tahu bagaimana kehidupannya saat dia berada jauh dari keluarga besarnya.”
“ bisakah kau teruskan , Nak. Aku akan mengerti jika mendengarnya secara keseluruhan.” Ujar Gashaf memebriku perintah.
” Sudahlah Mas, teruskan saja,, gashaf memang salah satu orang yang harus tahu bagaimana keadaan ibu saat tidak berada di dekat keluarganya. Kata Gashaf ibu tidak pernah mengirim kabar saat keluarganya kalang kabut mencari.” Mahesa menyebut namanya seolah mereka sudah berteman lama saat ini.” Sebenarnya selanjutnya, di rumah yang di beli ibu untuk tiga tahun sebelum kami menetap di sebuahkompleks, kami tidak melihat ada sebuah foto yang melukiskan wajah seorang laki-laki yang disebutnya suami. Kalau pun suaminya sudah meninggal,, sungguh tidak masuk di akal jika ibu tak memiliki satu pun foto ayah kami… atau ibu hanya membohongi kami saja. Atau sebenarnya kami tidak pernah memiliki ayah….”
” Bodo! Itu mustahil, tidak ada manusia yang terlahir di dunia ini yang tidak memiliki ayah dan ibu. Semua sel telur hewan maupun manusia selalu harus dibuahi sperma laki-laki atau jantan bagi hewan, kalau tidak, ya tidak akan ada yang namanya bayi. Banyak hal yang belum kau ketahui rupanya, Nak.”
“ Eh…. Itu wajar, aku masih sangat kecil untuk mengerti bagaimana terbentukanya bayi dalam perut seorang ibu.”
“ hah… kapan kau merasa ada yang perlu kau ketahui selain privasi orang lain. Tidak ada salahnya, kau belajar sesutau yang belum pernah diajarkan seseorang padamu, kata ibu kalau menunggu seseorang memberi tahumu kau akan ketinggalan pengetahuan. Primitiv.”
“ kau ini datang untuk apa? Mencari pengikut baru, mengejekku, Membuatku sebal saja.”
“sssst. Bisakah kalian diam? Kau, teruskan ceritamu.” Dia memcermati wajahku yang penuh pantangan untu menyerah.” Dan kau, Sa, mulailah menghargai dia sebagai kakakmu.” Nasehatnya meredam tangan Mahesa untuk memukulku tanpa ijin. Aku heran, apa sebenarnya yang telah di lakukan laki-laki ini, mengapa Mahesa mendengar nasehatnya. Padahal setahuku bahkan dengan ibu pun tidak akan dengan mudah patuh.
*
“ sebenarnya aku tidak tahu apakah ibu memang pernah menikah sebelumnya, atau dia hanya mengarang agar tidak satu pun laki-laki ada yang tertarik padanya, dia gadis yang kolot, bahkan pada orangtuanya saja dia enggan mengatakan apa masalah yang tersulit dalam hidupnya, katanya semua orang terdekat kita bukanlah orang terpenting yang harus tahu apa yang membuat kita sedih. Dia selalu tampak hangat dengan senyum sederhana setiap hari, seolah setiap waktu dia adlah orang yang tidak pernah di timpa sebuah musibah saja. Itulah dia, setahu kami.”
Tunggu apa yang telah kulakukan? Mengapa tiba-tiba aku harus berlagak sok akrab dengan laki-laki ini.” Kami harus pergi, kami harus segera berkemas pulang, pesawat kami akan lepas landas pukul enam hari ini.”
“ hari ini, kenapa naik pesawat?”
“ ibu lebih suka menghemat waktu, menghitung lagi dia memang suka muntah jika berada di tempat yang sesak penumpang.” Ku bilang ibu kami emang gadis yang sulit di duga.
Mahesa berdiri, tetapi dia tidak mengatakan bahwa dia akan pergi denganku,” bilang pada ibu, kalau ingin aku kembali ke rumah bersamanya, setidaknya diaharus menemui Gashaf sebagai gantinya.” What do you want to do?” tanyaku menginterogasi.
“ aku hanya ingin membantu membuatnya jujur, minimal pada dirinya sendiri, kau tidak menyadarinya, aku tahu memang masih kecil dan tidak mengerti apa itu cinta yang erjadi pada orang dewasa, tetapi menurutku, cara ibu melihat Gashaf, menampik untuk mengakui bahwa dia mengenal Gashaf, ibu memang masih menyukai Gashaf.
Asal kau tahu Mas, sebelum kita pindah ke sebuah tempat di Bandung, ibu telah menikah dengan Gashaf selama tiga minggu…”
“ apa maksudmu? Apakah aku,,” aku mungkin anaknya dengan Gashaf,
“ bisa jadi, dan aku hanyalah anak adopsi, kemudian pada kenyataannya ibu memang tidak pernah menikah lagi.”
“ tunggu, itu tidak benar.” Aku menutup setengah wajahku, kau pasti bercanda.
“ bukan, kami tidak pernah tinggal satu rumah setelah menikah, karena, Ibu kalian harus mengurus beberapa pekerjaan di pabrik sebelum dia memutuskan pergi ke Jakarta untuk menandatangani kontrak novel dengan sebuah penerbit. Bahkan dia pergi ke sana dengan ayahnya, tentu saja kau bukan anakku.”
“ apa-apaan ini?” Mahesa tidak menerima kalau hipotesisnya tidak benar. Dia segera lari untuk pulang , kami berdua menyusul dari belakang.
*
“ siapkan, kopor kalian, kita akan berangkat sekarang.” Ujar ibu, begitu melihat Mahesa masuk dengan napas terpotong-potong.” Dimana Mas Firman, Hesa.”
“ kami ingin tahu semuanya sekarang, Bu. Katakan pada kami sebenarnya kami ini anak siapa, kenapa bahkan dari pernikahan yang pernah terjadi antara kau dan Ibu dengan Gashaf tidak menghasilkan seorang anak saja.”
“ Sa…” tenggakku, aku juga sedikit belum mempercayai ini, jika kami bukan anak kandung gadis bernama Husnadari Yuar itu. Lalu siapakah kami, anak kandung siapakah kami,
Semua orang, kakek sepuh dengan kursi rodanya, nenek buyut yang saat itu sedang merebus air, ayah serta ibu gadis tujuh belas tahun yang telah dengan beraninya membohongi kami. “ Katakan apa saja,” kami ingin tahu kebenarannya, kami berhak.”
*
Semua orang sedang duduk melingkar menghadap padanya, aku yakin betapa sulit posisinya kini, dia pasti merasa seperti sebuah jalan yang tidak pernah memiliki cabang agar bisa di pilih. Atau setidaknya dia akan merasa bahwa dia sedang berada dalam sebuah padang rumput luas yang sepi tanpa bimbingan.
Gashaf duduk berdampingan dengan Mahesa, mereka tampak siku dengan semua bentuk di wajahnya. Seperti cerita awal, memang tidak ada satupun di keluarga ini yang tahu permasalahannya, bahkan mereka tidak pernah tahu jika Gashaf telah menceraikan Ibu sebulan setelah ia kembali dari Jakarta.
Bibir ibu sedikit bergetar. Caranya memulai membbuatku merasakan betapa ia sedang digelut miris tebal dan sedang bingung mencari obat penawar. Setanggi kemudian aku merasa dia tidak akan berhasil…. Memulai.” Katakan semuanya Na. sebetulnya apa yang sudah kamu snmbunyikan dari kami.”
“ apa perkaranya,”
“ jelaskan dari awal saja.”
“ cepat mulailah, Ibu ingin semuanya berakhir absurd… tidak ada kebenarannya, epat atau lambat kami akan mengetahui semuanya, Bu. Kalau bukan melalui kejujuran ibusendiri masalah itu terungkap maka di saat kami mengetahuinya secara perlahan, kebencian terhadap ibu sebab telah mempermainkan semua orang akan semakin menebal..” tantang mahesa, dia sungguh keterlaluan.
Kulihat dia, matanya bergelimang kebingungan, aku memang ingin mengetahui semuanya, aku sependapat dengan Mahesa, tetapi aku juga tak ingin ibuku terlihat buruk karena tidak jujur. Walau kami bukan anak kandungnya setidaknya dia sudah memperlakukan kami adil dan bahkan melebihi kasih sayangnya terhadap anak kandung sendiri. Aku belum tahu apa yang harus terjadi, mengakui semuanya memang adalah hal tepat meski sebenarnya mereka tahu bagi pelaku jujur itu menyakitkan.
“ Sudah!” hentiku. Mereka terdengar mengerem dialog masing-masing, lalu beralih memerhatikanku. Sekarang akulah sasarannya. Mahesa mulai tidak mengerti dengan sikapku, semua orang ingin ibu mengakui perbuatannya, aku juga, tapi…” berhenti menyudutkannya seperti itu.” Aku berlalu,
Ibu mencermati kepergianku. Dia tahu bahwa aku merasakan kesedihan, yang bersampul kebingungan memulai sebuah kejujuran tersebut. Atau dia benar-benar paham bahwa aku sangat tidak ingin melihatnya di pojokkan. Aku memang sangat menyayanginya. Dia, ibuku.
***
Sarang heyo, Alloh.
Kalimat yang terdiri dari dua kata itu selalu membuatku berpikir bahwa ibuku sangat menyintai semua musibah yang dihadapinya, pada malam yang sama, semua orang sudah mendapatkan pengakuan yang memuaskan. Itu yang diinginkan Mahesa, tahu semuanya tanpa memedulikan perasaan ibuku.
“ terkadang Kau harus mengelak jika kau sedang salah…” gumamku. Tidak semua kebohongan menjadikanmu buruk di kemudian waktu. Kau perlu sedikit menyiasati kemalangan yang kau hadapi, jika tidak kau akan merasa dipermainkan oleh takdir. Padahal sebenarnya tidak. Di dunia ini, semua manusialah yang memegang kartunya masing-masing. Mereka yang membuat hidupnya harus seperti yang mereka inginkan, menurut ibuku, itu memang hanya sebuah teori hakikat manusia tanpa dasar kenyataan yang kuat.
Tetapi aku menyetujuinya, berawal dari sebuah kekangan, seseorang akan lebih bebas memainkan hidupnya setelah si pengekang menghilang dari kehidupannya. Tidak selamanya seseorang yang hidupnya di setir orang lain akan selamanya terikat. Walau kebanyakan, memang korban pengekangan itu sering menjadikan penderitaan mereka sebagai titik api memperlakukan generasi penerusnya sama sisi dengan liku nasibnya, tindakan ini di sebut balas dendam.
Tidak semua orang tahu apa artinya jalan hidup bagi setiap manusia, namun, dia, dia berbeda. Gadis tujuh belas tahun yang mengadopsi kami dari jalanan adalah seorang anak perempuan korban pengekangan yang tidak melandaskan balas dendam sebagai landasan sistem pengasuhannya terhadap kami, dia memperlakukan kami sama seperti seorang ibu memperlakukan anak kandungnya.
Dia, benar-benar IBU ku.
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar