Minggu, 16 Oktober 2011

tidak ada keinginan.

setidaknya, buat aku percaya pada satu orang saja sebelum aku merasa benar-benar kesepian....
 selain, DiriMu,,

Sarang heyo ALLOH,,

cerpen 2009

Egioni Yudi,
Saat itu hujan turun derasnya, kilat menghiasi dinding langit tanpa pilih kasih. Di dalam kamar yang sempit aroma tubuhku melayang-layang seperti  terbakar ruang pengakuan. Ya, semua orang benar. Akulah pembunuh hubungan dua keluarga yang sudah saling menghargai sejak usiaku masih remaja. Aku tidak mengerti kalau semuanya akan serunyam ini.
Seminggu yang lalu, sebelum semua orang bersiap dengan beberapa keranjang seserahan, aku meminta waktu rehat. Yang seharusnya tak kulakukan karena aku telah menyetujui pejodohannya.” Sepertinya, aku harus membatalkannya, pernikahan yang akan terjadi ini bukan pernikahan sungguhan..”
“ opo maksudmu?” ibu mulai terpancing, aku tahu jika aku telah memutuskan untuk mengakhiri secara sepihak akan timbul kontra. Tapi aku sudah siap dengan segala resikonya. Aku meneruskan dialog-ku dengan tenang,
“ belum menjadi menantunya saja, Pak Rojat sudah meminta yang aneh-aneh padaku Bu, Pak, sepertinya, mereka sengaja menukarkan anak gadisnya untuk memperoleh kedudukan yang lebih baik, aku tidak bisa menjamin apakah pernikahan yang demikian itu akan berjalan lama,” ibu, dan bapak tampak sedang menekuk wajah masing-masing. Kupikir semuanya diam mengiyakan tindakanku, tidak ada komentar lagi setelah semua orang berdiam diri.
Kecuali ketika malam menjadi sangat gelap, awan hitam menebal dan menutupi cahaya bulan yang biasanya menerangi tabir. Telepon di ruang tengah berdering, ini hari kedua, setelah kami membatalkan pergi untuk prosesi lamaran yang telah orang tua dalam kedua keluarga rencanakan.
“ halo,” tidak ada jawaban, penelpon itu diam tanpa banyak berkata. Aku mengulangi teguranku hingga tiga kali, tak ada jawaban lagi setelah beberapa kali kuulangi, terakhir, kudengar suara seorang gadis menggertak penelpon untuk segera turun.” Mbak, kenapa belum siap-siap...bapak sudah menunggu.”
Tut..tut..tut..
Begitu saja dan tiba-tiba tertutup.
Aku meletakkan gagang telepon seperti semula.
@
Esok harinya, di pagi yang tidak pernah berkabut sebab suhu udara selalu lebih tinggi dari curah hujannya, Said, teman sekampusku dulu yang merupakan sepupu dari mantan calon istriku, Reista Dafarius. Kami membuat janji, di tempat biasa di Ibukota Yogjakarta, kami bertemu. Said, mungkin memang sengaja melipat lidahnya karena dia tak mengerti harus memulai darimana.
“ bagaimana, kau sudah mengatakannya, bagaimana reaksi Pak Rojat, dia pasti sangat kecewa karena anaknya tidak jadi menikah dengan laki-laki mapan pilihannya.” Aku mengharapkan Said mengiyakan, aku tahu betapa hebatnya kekacauan yang timbul saat Said menyampaikan berita buruk pada keluarga Pak Rojat, sudah kuperhitungkan berapa kadar kemarahannya padaku, mungkin resiko tinggi yang harus dihadapi Said juga, dia pasti berat hati menyampaikannya. Selain sebagai keponakan yang tak dapat dipercaya, dia juga pasti terlihat sangat menakutkan saat itu.
“ aku berterima kasih padamu karena telah membantu banyak.” Said tetap diam, kulihat dia hanya terus mengempaskan napas kesal sambil menunduk.
“ kalau begitu aku harus kembali ke kantor, sekali lagi terima kasih, kau benar-benar sahabatku.”
“ ya, sampai hari ini saja.”
“ apa maksudmu?” aku sudah tahu apa yang akan terjadi, tapi seperti ucapku, aku sudah sangat siap denga segala sesuatu yang kulakukan.
“ kau pikir apa? Sudah kulakukan sebaik mungkin untuk mengenalkanmu pada keluarga besar Paklekku, mendekatkanmu dengan anak gadisnya, sudah kulakukan sebaik itu sedangkan kau,  apa yang kau lakukan? Merusaknya tanpa kompromi lebih lanjut. Kau pikir siapa, yang tidak marah jika anak gadisnya tidak jadi menikah sesuai rencana, kau pikir hati orangtua mana yang tidak akan sakit dan hancur saat mengetahui calon besannya membatalkan rencana yang sudah dirakit bersama-sama, kalau kau jadi Reista pun, apa yang akan kau rasakan,”
“ dia hanya terpaksa mengiyakan menerimaku sebab tidak ingin mengecewakan bapaknya, seperti semua orang tahu, dia gadis penurut yang tidak pernah punya hak mengatur hidupnya...”
“ dia memang tidak bicara sedikit pun saat aku menyampaikan berita buruk dari keluargamu, kau tahu kenapa? Karena dia marah, aku mengenalnya separuh hidupku, dia selalu diam saat dia marah, dia memang penurut, karena menurutnya, kau yang bisa membuatnya terbuka dan mulai memainkan kartunya sendiri, bukan ayahnya,  bukan siapa saja yang selalu membuatnya melipat wajah dan menurut saja. Dia pikir kau,” aku terperanjat, ada sedikit bilisan sesal, kalau ditanya seberapa berat akun penyesalanku aku tidak tahu, mungkin sebesar rasa terimakasihku karena Said sudah membantuku membatalkan perjodohan. Said, dia bangkit dari bangkunya, dan hendak berlalu...
“lain kali jika bertemu denganku, anggap saja kita tidak pernah bertemu, anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita.”
“ Kau mengerti maksudku, kan?” tambah Said menanyakan pengertianku.” Mereka bilang padaku untuk menyampaikan ini padamu, terimakasih, sudah mempermalukan keluarga kami di depan tetangga yang sudah membantu persiapan acara lamaran, dan terimakasih sudah mengenalakan pada Reista yang polos itu pada hal yang disebut sakit hati. Tidak perlu memikirkan apa yang membuat Pak Rojat marah padamu, mereka sudah mengkaliskan harta mereka yang tersisa untuk acara sialan itu! Kau tahu mereka keluarga tak berada, kau juga pasti tahu seandainya kau menjadi mereka, bagaimana kacaunya perasaanmu?”
Aku membiarkannya pergi, melihat punggungnya berlalu dan menjauh, sementara aku sedang menimbang betapa memang mereka sangat sakit hati akibat perbuatanku.
“bodo!”
@@@
Reista Dafarius,
Kami mendapatkan kabar baik setelah berita buruk yang dibawa Mas Said sejam yang lalu. Kabar baik yang membuat bapak percaya bahwa aku tida berbohong, aku bisa membuatnya terlihat lebih berwibawa selain harus melalui jalan aku menikahi laki-laki yang memiliki pekerjaan bagus dan pendapatan yang dapat menjamin hidup keluarganya.
Setelah mas Said pulang, bapak tengah duduk menghadap kebun di beranda belakang, sementara ibu sedang mengopor bayam di dapur besarnya. Dapur besar di rumah ini memang sengaja di bangun bersebelahan dengan arah beranda belakang, tujuannya, kata bapak, agar lebih muda mengetahui apa yang sedang istrinya masak setiap pagi.” Jangan menyesali apa yang sudah terjadi, itu artinya, mereka berdua memang ndak berjodoh,” cibir ibu keras-keras, ibu tahu betapa besar rasa kecewa bapak pada rencana yang tidak dapat diteruskan sepihak itu. Selain sejak awal, ibu memang tidak menghendaki ada perjodohan di rumah kami, menurutnya, dia dan suaminya saja menikah bukan karena perjodohan, tidak adil saja baginya jika melihatku harus menerima sebuah perjodohan, apalagi dengan seorang yang jauh lebih tua dari usia anak gadisnya.
“ lagian buat apa, kita mempertahankan besan dan mantu yang ndak bisa menghargai usaha kita. Kita ini sudah mati-matian keluar duit banyak Cuma untuk acara yang berakhir menyedihkan semalam itu, bukannya datang kemari minta maaf sendiri malah menyuruh Said menyampaikan kabar buruk, apa namanya kalau mereka keluarga yang ndak tahu malu!” aku sedang menguping di balik pintu ruang tengah saat perbincangan diantara orangtuaku pecah membelah isi halaman yang sebelumnya sepi.
Bapak hanya diam, tidak ada gunanya melempar alasan, menurutnya kali ini istrinya benar dan ia serba salah. Bapak menekuk wajahnya, semakin masuk dalam pandangan ke satu sisi yang memperlihatkan interaksi natural semut dan bunga menik, si putih bunga cabai.  tak lama kemudian telepon berdering, aku keluar bermaksud agar bapak tidak tahu kalau sedari tadi aku menguping perbincangannya dengan ssang istri.” Angkat teleponnya, siapa tahu itu mantan besan yang ndak tahu malu itu! Siapa tahu, mereka mau menyampaikan permintaan maaf,”
Bapak tetap diam, seraya bergegas  masuk ke dalam ruang tengah.” Kalau mereka minta maaf setidaknya mereka ndak punya hutang, impas dan kita ndak punya urusan apa-apa lagi dengan mereka...” suara ibu masih terdengar tangguh menyalahkan keluar Mas Yudi. Tetapi semarahnya mereka, mereka tidak akan pernah mengundat-undat masalah yang telah berlalu. Bagi mereka waktu memang terkadang tidak berpihak pada mereka, mungkin saat ini mereka sedang sial.
@
Bapak, lelaki yang usianya ganjil menjadi empat puluh tiga tahun saat ini, ia sedang tampak repot menata hati. Pertama, dia mengambil napas tiga detik, kemudian mengempaskannya lima sekon. Begitu mulai merasa rileks, kelima jemarinya mulai merenggang gagang telepon yang berwajah masam baginya.” Assalamualaikum...” tegurnya penuh hati-hati, kubilang dalam keadaan semarah apapun, bapak bukanlah orang yang gampang menuduhkan emosi kepada orang yang tak tersangkut pada masalah yang tengah ia hadapi. Ibarat dalam sebuah perusahaan, dia adalah salah satu karyawan profesional,
“ dari mana? Penerbit apa?” aku mendengar kalimat terakhir bapak yang meruyap bingung, aku mendekat, memperlihatkan diri di hadapan bapak terangterangan. Seteguk kemudian, bapak menoleh padaku, setengah matanya seperti sedang diracuni rasa bahagia tak terkira. Aku membalas tatapan bapak yang serius itu,” ya baik, besok kami usahakan datang tepat waktu, Pak. Ya terimakasih,”
“ waalaikumsalam warohmatulloh...” sungguh, terlukis besar sumringah yang tak pernah kulihat di hari-hari yang lalu, bibir bapak mengembang penuh, mata ynag biasanya berirama datar kini berbinar dalam gelap yang indah.
Isi wajahnya kini berubah sangat tampan dari yang dulu kukenal.” Ada apa, Pak. Kelihatannya bapak sangat senang sekali...” ujar Trias, adik lelakiku.
Bapak tak lekas menjawab, dia hanya memandangi wajahku searah dengan keterkaguman yang tak sudah dimatanya yang mulai tua.
“siapkan beberapa potong baju, bawa sedikit hal yang kau perlukan menurutmu, Nak.” Tukas bapak mendadak,
“ ada apa, Pak?”
“ kabar baik, naskah yang katamu sudah hampir enam bulan mengendap di penerbit itu, oleh penerbit akhirnya, hendak di proses...”
“ alhamdulillah...” serobot adikku, ia bersujud menghadap kiblat tanpa pikir panjang, menyebut nama tuhan semampunya, mengucap syukur sepuasnya.
“ aku sudah bilang, mbak. Penerbit pasti akan menghubungimu dalam minggu ini, aku sudah meminta Alloh untuk segera  menyampaikan kabar gembira pada keluarga kita, dan lihat, Dia mengabulkan...” adikku mengulangi tindakannya sekali lagi, sampai ia benar-benar merasa kegembiraannya telah mereda, dia menawarkan diri untuk turut.
“boleh, asalkan kau tidak mengganggu mbakmu saat kami bicara serius.”
“ aku janji bapak.” Dua jari yang membentuk huruf v tampat tegar diperlihatkan pada bapakku. Mereka segera mempersiapkan semuanya, mulai barang-barang seperti bolpen, kertas hvs, baju, dan lain-lain. Untuk kali pertamanya aku melihat, bapak dan ibu akrab karena memang ada sesuatu yang harus dikerjakan bersama.
Kami berangkat,
Ibu, bapak, Trias dan aku. Kami menyewa sebuah mobil milik kenalan. Harganya tidak terlalu mencekik kantung, masih terjangkau dan kami mampu membayar.
“saat kau sudah menjadi orang besar mbak, maka jangan pernah lupa bahwa tokoh yang kau pakai untuk novelmu adalah aku, artinya aku adalah keberuntungan bagimu, ingat! Jangan menyia-nyiakan keberadaanku.” Aku mengerutkan dahi, sedangkan semua orang dalam mobil terlihat tertawa terbahak.
@
Sejak saat itu, aku punya banyak penggemar, kata mereka karena tulisanku menimbulkan energi ketika mereka membacanya. Senin yang indah di kota semarang, bapak memutuskan untuk membeli sebuah rumah di daerah terpencil di kota santri, Jombang. Sungguh suatu kegembiraan yang tiada tandingannya jika dapat melihat bapakku merasa bangga dengan keadaannya sekarang, memiliki rumah sendiri, tidak bergantung papan panggonan lagi pada ibu bapaknya, kami hidup mandiri diluar keluarga besar bapak yang memang sejak awal sangat menginginkan kami keluar dari daerah mereka.
Seperti impian bapakku, rumah kami berdiri tegak menghadap jalan menuju masjid, setiap subuh kami sering mendengar suara merdu hafidz hafidzah membaca alqur’an penuh hati dan pemahaman. Sungguh selalu timbul rasa syukur yang melimpah setiap kami mendengar angin menyemilir menyibak wajah selembut ciuman kain sutera.
Bapak mengantarkanku menghadiri seminar di kota Semarang itu, aku merupakan salah satu undangan yang ditunggu ketdatangannya, sebenarnya ini memang acaraku, aku menyelenggarakan launching buku keduaku yang bertajuk tiga hal. Hidup, pengabdian, dan mati. Ada banyak pengunjung yang meminta tandatangan dan mempertanyakan buku ketiga.
Luar biasa, menjadi orang yang bermanfaat sangat menyenangkan, Tuhan. Banyak hal yang menjadi pelajaran dan peraturan.
@
Tetapi kami terhenti didepan toko buku, yang membuat bapak mengerem mobil adalah ketika seorang lelaki dengan sengaja menghadang perjalanan pulang kami.
Kami duduk bertiga, dengan urutan, lelaki yang tidak kukenal tetapi dikenal serta mengenal bapak, bapak lalu aku. Kami sudah lama berdiam diri satu sama lain, tidak pembicaraan tidak ada topik yang membuka hal ringan pun di antara kami.
Aku tidak berani berkata, meski sejujurnya aku snagat ingin merenggangkan situasi ynag sedang merebak. Aku sangat ingin tahu siapa lelaki yang duduk di sebelah bapak yang sejak tadi memandangku penuh senyum.
“ sepertinya, Nak Yudi baik-baik saja.” Geras Bapak tiba-tiba dengan mata kosong.
“ kami sekeluarga baik-baik saja. Mas Yudi? ”
“ sebenarnya waktu itu...”
“ itu, saya rasa hanya masalah tidak berjodoh. Reista tidak apa-apa, dia sudah bilang tidak kecewa, dan merasa di permainkan.”
“ saya, sungguh ingin meminta maaf atas kejadian itu, Pak. Sebenarnya diluar itu semua saya ingin menikahi Reista.”
“ tunggu,” sedatku, aku merasa perlu memotong pembicaraan karena dialog mereka menyangku pautkanku ke dalamnya.
“dia yang namanya Mas Yudi, Pak?” potongku dengan suara yang tenang kami memang tidak pernah saling bertemu sebelumnya bahkan pada acara perjodohan waktu lalu, aku tidak hadir. Pemilik nama lengkap Egioni yudi tersebut menelak bibir, dia membiarkan hiasan yang tak seharusya membuat wajahnya tampak wajar dan tak berdosa. Senyumnya memancar kuat penuh harapan bahwa akan ada akhir yang baik yang ia dapatkan dengan meminta maaf.
“ Ta, duduklah. Semua pasti ada penjelasannya.” Reda bapak. Aku menggeleng kuat,
“ndak perlu bapak, untuk apa, toh kita sudah tahu dari awal.”
“ biarkan saya menjelaskan, semua ini, membuat saya menyesal, saya sudah datang dua kali ke rumah, tapi bapak dan keluarga katanya sudah pndah, sementara mbah ndak ingin memberitahukan kepada saya dimana rumah baru panjenengan sekeluarga..
Sungguh, saya sangat ingin memutar waktu jika bisa, saya ingin menghapus semua masalah yang saya timbulkan, yang membuat batal rencana Pak Rojat dengan orangtua saya. Kalau saja saat itu saya memiliki lebih banyak pikiran baik, mungin saja saya dan Reista sudah melangsungkan pernikahan...”
“ ndak perlu, saya juga tidak menyesal jika akhirnya saya tidak menikah, sebab menikah bukanlah tujuan utama manusia dalam hidupnya.”
“ Reista,”sebut pemilik nama lengkap Egioni Yudi itu, matanya bulat pepat oleh ketidakmengertian.
Benar, aku adalah seburuk-buruknya perempuan saat aku sedng marah, jika di sampingku ada sebuah taman yang indah, maka aku adalah ulat bulu yang merusak keidahan serta ketenteraman yang mengisi sudut-sudutnya.
@
Pertemuan kami pada saat itu ternyata sama sekali tak membuat Mas Yudi jera mendatangiku maupun bapak, dia meminta kami masing-masing untuk berpikir berulangkali mengenai lamaran keduanya.
Selasa malam di Rumah, Mas Yudi beserta keluarga memang sengaja datang tanpa keluarga besar, mereka hanya berempat. Yakni Ibu, Bapak, Mas yudi dan adiknya. Kulihat ada segerombol perasaan bersalah yang menutupi setiap wajah yang menghadap pada bapakku. Itu yang membuat bapak memutar kembali keputusannya, mungkin aku akan menikahi lelaki itu, mungkin juga tidak.
Seperti hari sebelumnya, dengan pertanyaan yang tidak berbeda Mas Yudi memintaku menjawab apakah berkehendak untuk menerima lamarannya. Ada satu jawaban yang memang harus dikatakan seolah hanya ini yang menjadi solusi andalan bagiku. Aku mereguk dada dalam napas pendek penuh pertimbangan.
“ baik, saya akan menikah, dengan Mas Yudi jika bapak  mengijinkan.”
Senyum mereka merekah, aku tidak tahu sejak kapan  ternyata kalimatku barusn adalah berita baik untuk keluarga yang sudah datang kerumah kami lima kali berturut-turut sebelumnya. Sebenarnya mereka tahu bahwa tidak akan ada kata menolak yang meluntur dari bibir bapakku, sebab dari awal memang bapak yang menginginkan agar aku menikah dengan lelaki yang baik dan memiliki pekerjaan bagus, optimisme mereka terjawab sepadan dengan harapan. Mereka menang.
 Namun sekai lagi, menikah bukanlah tujuan utama dalam hidup manusia, menurutku aku adaah salah satu dari orang yang berpandangan demikian. Tidak ada keinginan lain di hatiku selain, hidup sesuai apa yang dikatakan bapak, atau ibu yang sudah membesarkanku...
@@@




Pernikahan Atau Pengabdian.




































Saat itu angin berembus pelan, aku merasa ada seseorang yang sedang dengan sengaja duduk di sampingku, menembaskan bisikan lembut seorang malaikat. Mungkin memang malaikat. Napas yang terdengar meretas-retas ke berbagai arah berlawanan, sentuhan lembut yang mengingatkanku kepada suara demi suara yang mengakukan padaku bahwa dirinya adalah sebagian kecil dari diriku yang terselubung dalam-dalam. Ada banyak hal yang terjadi di luar kamarku. Pintu menuju surga yang disiarkan sengaja di perjualbelikan seharga tiket terbang ke mars. Pembunuhan yang semakin merebak ke berbagai arah, hingga bumi primitiv. Isi dunia ini. Makin lama makin tampak tergerus bibir dosa.
 Nyaris tak ada celah, tak ada gang, tak ada bilik kecil pun yang menyediakan orang baik. Jika saja benar, ada seseorang yang diberi mukjizat dapat berbuat kebaikan aku sangat mengharapkan itu terjadi padaku.

sajak

SAJAK dan PUISI.
Saranghae ALLOH.

Aku meloncati pagar rumah,
berusaha lari dari kutukan.
Aku melempari laut dengan tanah.
Memang sedang berusaha membangunkanmu istana.(: ayah)###


 Ibuku, seorang perempuan gila.
Yang membiarkan semua orang merendahkan martabatnya.(: ibu)###


 Tidak ada orang tua di sini.
Hanya kumpulan masa lalu yang kawin muda.( : para tetuah)###


Namanya Chong Li. Seorang kapitan dalam barisan kami. Senyumnya seperti aroma darah , napasnya kembang api (di) langit, bilik matanya penuh misteri. Dadanya lukisan malam. Dia adalah seorang peregam kemalangan.(; kakek yang sedang terbaring di kamar steril rumah sakit.)###


Matahari sedang malu, menatap langit dengan ragu, menggurat senyum kicu.(: mendung yang tak berakhir baik)###


Kulihat matamu mengasup-asup dalam asap knalpot.
Menelan racun demi melihatku terperosok.
Tapi kau tak mengenalku.###



Di muara debu aku berdiri,
menanti kalimat kecil sesumbar.
Menunggu wilayah makmur ditaburi terigu.
Sudah usang mataku terduduk meredam hasrat memandang hujan mengering.###


Aku berlayar ke tengah samudra,
 mencari kadal yang masih berkeliaran.###


Saranghae ALLOH.

Musim.
Dingin.
Musim terpanang dalam usiaku. Membeku.###



Membaca
Sakura. Di wajahmu.
Mawar. Di selotip jemarimu.
Api. Di dadamu.
Aku tak tahu. Harus diam . atau berlari.
 Maka kutatap dirimu cemat di bawah ragu.###


Saranghae ALLOH.

 Angin berdesir.
Mencium hati uang risau ,
mencuri bimbang yang berputar.
Menangkap seseorang yang terpikirkan.
 Mengapa? Tetap kau yang terbayang? (2008)###


Aku tak tahu.
Mengapa jiwaku berkata lain.
Padahal keras aku berpikir.
Melempar jauh cahaya ke atas angin.
Lalu berlari. Secepat matahari( membuka harapan lain).###



Pintu kamarku sudah penuh mulut politik yang saling menjatuhkan.
Isi lemariku penuh argumen yang bantah membantah.
Dalam  laciku tumpukan rakyat meleleh.
Dalam tasku penjajah baru terselip.
Ku pandang mereka, wajah yang sedang terkenal namanya. ###



Gumal wajahnya, kutemukan dalam sangkar cicak, amis tubuhnya menutup ruang tak bersudut. Wanita itu tersenyum, melipat mata yang menatap, sejenak langkah menjadi satir, bergusur dalam gurun ketakutan. Matanya bulat, penuh ketidak pastian. Alisnya tebal, bagai tak pernah bercukur, bibirnya pasi seperti belum kawin.( mayat perempuan di bawahtempat pembuangan sampah)###


Ku dengar kau: Dra. Diana Agustini.
Kudengar kau, seorang wanita tegar yang pantang melipat kode putus asa. Kudengar senyummu, adalah hal terindah yang harus kulihat ketka kau di segarai masalah besar, ku dengar kau memang sedang berdiri di atas pecahan kaca dan beton api menganga.
Aku melihatnya, mata yang mulai merapuh dari ketangguhan yang menahun semakin lembek. Ada beberapa wajah lain yang tampak, satu dengan lelehan air mata lapuk, lagi dengan sejumlah nabi untuk memulihkannya.  Maka. Tunjukkan padaku, kebenarannya. Bahwa kau memang wanita yang harum oleh isi kepala seluruh perjalanan hidup (perempuan) perkasa.
@@@ sebab kau adalah sosok ibu yang ku kagumi, sebab aku tahu bahwa panyakit itu tidak akan berhasil meruntuhkanmu, semangat Bu Diana, Chai Yo! ###




Hujan sore itu
Langit mengambang ,
turun menjemput. Jiwa-jiwa mengerit.
Mencari adil yang adil.
Meminta pengakhiran yang tak koma.
 Hujan sore itu,
jatuh melumuri malam membersihkan hari.
Menenangkan cemas yang kembang kempis di napas.
###

Di pelupuk matamu kulihat: bagus ilham.
Terduduk aku, di sebuah pintu tempat para malaikat mencatat kemarahanmu, seseorang yang mengundang kagum pada angin lembut. Sedang ku cium aroma hatimu, kini terkikis mendung merah, sedang apa yang mengelilingimu terlihat berporos mencerabut gusar yang menembamkan.
Di pelupuk matamu kulihat: wajah lain dari sedih sebuah masalah. Suara yang tergetar oleh lorong kedinginan, pasti memang sedang di taburi dinding tebal dari makian istri, itu melemahkan? Ada sebuah rantai hitam yang menggulung kepala, berderai ke berbagai tempat mencari ruang liar.
Malaikat itu bergumam, meminta penyembuhan hati untukmu, (bersyukurlah) pada kegundahan itu. Sebab dia (adalah) guru besar dalam usia manusia.
@@@ Pak. Sebuah masalah yang menimpa kita itu bukanlah hal yang harus di lamunkan apalagi sampai ditangisi. Melainkan sesuatu yang harus di pelajari sampai akhir, sesungguhnya Alloh sangat mencintai umatnya yang bahagia dengan masalah yang tiba padanya, perhitungannya adalah, masalah itu tidak datang dari Alloh, tetapi dari perbuatan kita sendiri. Maka sudah seharusnya bagi kita untuk menyelesaikan sendiri. Sebab itu bagian kita.*_*



Ku gadaikan cintaku
Ku gadaikan cintaku. di musim semi pertama. Di saksikan merpati dan angin pagi. Berlalu seperti badai. Tanpa hati. Lepas rasa.
Ku gadaikan cintaku, menebus harta, memecah dillema, merajam fragmen kecil. Menyambungnya menjadi masa depan. Lihat aku.
Miris wajah ini terjajah ambisi. Tragis masa depan menyobek laut kebebasan. Lengkungan besar dalam mataku, ketidak kuatankah?
 Namun aku ( akan) kembali. Membeli wajah baru yang kuinginkan.###

Ternyata kau
Ternyata kau.
Teralu mudah berpaling,
terlalu mmudah dipancing.
Seperti ikan kecil bersirip mungil.###



Fragmen  februari 2010
Adikku, seorang perempuan cantik.
Di antara langit dan bumi.
Semua bangsa melihatnya.
Seperti  permata mahal.
 Selalu memiliki jerat
 memenangkan semua mata.
Aku sudah terbiasa. Menjadi yang tersisih.###


2010, siang di kota kami yang panas.

Aku duduk, di kisi-kisi gedung DPR.
Melihat aliran sungai suara rakyat yang bertaburan.
Menuntut janji, menagih isi kampanye,
aku berdiri di atas atap menangkap matahari yang meredup.
Terlalu kaku mulut berteriak,
Sahut menyahut seperti barisan jengkerik malam yang bangun terlalu siang,
terlalu pedas kalimat menyeruak,
mengundang ngeri menjerit bak bir lepas dari botol meja para dewan.###


2010, rumah sakit
Kanan kiri,
kulihat rumah sakit penuh isi,
mata kosong, mulut yang di matikan wabah penyakit tahunan,
barangkali sedang meminta sebuah pengutukan.###

Saranghae  ALLOH.
Jika saja aku sebuah tempat yang di tuju, maka aku hanya ingin Kau, yang menatap keberadaanku seraya bertanya. Mengapa wajahku penuh lumut saat menunggu, mengapa bibirku di kerontakan airmata yang tak berdasar.
Jika saja aku sebuah sumur yang diperebutkan, maka aku hanya ingin Kau yang menyapaku menggunakan senyum dingin, mata beku, kalimat maya yang berkeringat aroma tubuh surga.
 Jika saja aku sebuah guci tempat bersembunyi, aku ingin Kau, yang merobek separuh ketakutaan untuk kuredupkan.
 Jika saja aku bukan seorang afonia, maka aku ingin Kau mendengar isi kepala, isi wajah dan hati yang terbendung dalam kisi-kisi bibir ini: aku mencintaimu, tuhan yang selalu memerhatikan kakiku ketika dia bergegas, yang menggenggam tanganku saat dingin membelukar darah, meredakan gamang saat musibah membalut dada. Dan yang menembat bibir ketika kering merunyamkan kata-kata.
 Aku mencintaimu, Tuhan yang tidak pernah membuatku mati dalam arah tak pasti, yang tak pernah mencemburukan bunga yang selalu gembira saat sedang dimekarkan perasaannya.
Sungguh : sepenuh hatiku.###

Jangan ingat aku hanya SEMUSIM, yang hanya ENAM bulan dan terus berganti, jangan ingat aku seperti BUNGA yang , yang saat mekar kau sukai dan saat gugur kau tinggali, jangan ingat aku seperti BULAN, yang kau ingat waktu malam saja, dan jangan ingat aku seperti MATAHARI, yang kau ingat waktu siang saja, tapi ingatlah aku seperti UDARA yang selalu kau hembuskan selama kau masih bisa bernapas. (By: M.W)###

teenlit..

Angin pagi menjadi samar ketika kami berdua harus turun dari mobil, deretan orang munafik sedang berbaris menyambut kedatangan kami, kenapa mereka masih melakukan hal menjijikan seperti itu, padahal sering kuperingatkan kepada mereka bahwa aku membenci mereka saat mereka menghormatiku sebagai pemilik sekolah. Adik sepupuku, Rea Dyah tersenyum dengan indahnya. Diantara kami berdua hanya dia yang sangat senang diperlakukan khusus oleh para guru dan kepala sekolah di tempat ini, terkadang dia memanfaatkan namaku untuk memperoleh perhatian temannya, memperoleh jabatan bagus dalam kelas dari gurunya. Seolah aku hanya nama besar yang dapat mengatrol dirinya, tapi aku bisa apa, jika aku marah anak itu akan diam selama bertahun mengambek padaku seperti bayi-bayi perempuan lain. Dia adalah perempuan sensitif yang sering kutemui di rumahku, dia orang pertama yang selalu membuatku tidak tenang berada di manapun.
” Kak, tidak ingin keluar? Kelihatannya mereka sudah menunggu lama lho,” Seduhnya.
Aku adalah orang yang paling tidak suka di dekte, dan bukan tipe orang yang banyak membuang waktu untuk berbasa-basi, sebenarnya aku tidak pandai bermain lidah, makanya aku lebih tampak banyak diam daripada ceriwis tidak penting semacam apa yang dilakukan adik sepupuku. Rea memang selalu bicara setiap waktunya, jika jam istirahat berdentang, biasanya Rea menjadi pembicara yang handal di halaman kelas, jajaran siswa dan siswi sudah memasang diri dan telinga mereka demi mendengar bualan Rea, dia tukang gosip, juga pengarang fiksi yang tidak pernah lelah mengulang cerita bodo beberapa kali pun. Namun siswa yang telah menjadi pelaggan tetapnya selalu tidak banyak berkomentar, entah untu alasan apa mereka hanya diam dan mendengar apa saja yang keluar dari bibir tipis Rea.
Terkadang aku berpikir, adalah suatu kesalahan bagiku telah mengadopsinya menjadi adik kandungku, awalnya kupikir aku dan dia akan menjadi satu kesatuan, awalnya kupikir mendidiknya merupakan hal yang sangat mudah, kenyataannya terbalik. Aku tidak pernah berhasil mengingatkannya agar tidak membuang waktu demi pergi ke suatu tempat tidak berguna serupa mall, bioskop, kafe karaoke. Terakhir setelah aku memutuskan untuk tidak membatasi pergaulannya adalah karena aku tidak tahan dan tidak tau apa yang harus kulakukan, kalau dia mengemis ijin padaku, dia membuatku bungkam dan kehilangan otak.
” Kak, aku pinjam laptop yang putih, ya. Aku dengar dari Agung si kecil putih ini punya Ory.” Entah dari arah mana Rea merebut laptop dari tasku yang baru kubeli itu, dia,
Sudah terlambat, Rea memang selalu menang dalam hal apa pun dariku. Mulai dari urusan kecil seperti tadi, sampai urusan kebebasan. Ini membuatku sering mengharapkan agar aku bisa menjadi siswi biasa sepertinya, bebas melakukan apa yang aku inginkan, free spend my time for all days. Kudengar Agung sedang bergumam, ada pemahaman tersendiri dari dirinya, dia lebih banyak tahu sifat Rea daripada aku, seperti jika aku memiliki suatu benda Agung akan dengan sangat sigap memberitahuku bahwa aku harus berhati-hati. Karena  Rea selalu mengincar apa yang baru kumiliki. Seperti jam tangan pemberian Agung kemarin malam sebagai pengganti dirinya untuk mengingatkanku melakukan kewajiban-kewajiban yang kurancang sendiri.
” Jangan sampai dia tahu Non, kalau tahu bisa berabe nanti.” Di rumah kami memang hanya Agung yang selalu lebih perhatian padaku. Aku tersenyum, sebagai ucapan terima kasih karena dia sudah mengingatkan.
Agung bekerja pada kami sejak kuliahnya berhenti di semester tiga, di menjadi supir pribadi yang mengantar kami berdua kesana kemari sejak dua tahun lalu. Mulanya, Agung hanya seorang loper koran, ketika mengantar koran pagi di rumah kami aku mendapatinya duduk termangu di atas tangan yang saling berpangku, tepat di bawah pohon palem putri yang sengaja kami tanam berjajar di muka pagar untuk mengurangi suhu panas saat siang. Perlahan kuminta Pak Rukan, satpam rumah kami, menanyakan keadaannya, ternyata dia butuh pekerjaan lain yang membuatnya mudah membagi waktu untuk kuliah dan bekerja, lalu Pak Rukan membawanya kepadaku, sejak saat itu kami menjadi lebih dari sekedar seorang majikan dan supir. Agung lebih mirip di sebut sebagai kakakku, bukan supir. Dia banyak memahami siapa dan bagaimana aku, aku suka saat dia tersenyum mengejekku, aku juga suka saat dia mengelus rambutku. Ada kasih sayang yang mirip dengan yang diberikan Kak Sigit, kakakku, kepadaku dari nya.
Hubunganku dengan Agung lebih baik daripada hubunganku dengan adik sepupuku, dia sedang berjalan mendahuluiku, serambi menggandeng lengan Ilham, guru TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) di kelasnya. Kepala sekolah menyambutku dengan gaya yang tidak pernah berbeda dari hari-hari sebelumnya, tetap dengan menggunakan aplikasi kalimat basabasi dan raut wajah yang dinamis, juga mata yang berubah-ubah warna setiap detiknya. Begitu juga para wakilnya, mereka selalu bekerja sama membuatku luluh dan menuruti kemauannya saat mereka memerlukan tandatanganku sebagai pengesah rencana mereka. Terkadang mereka mengundang kelengahanku dengan berbagai cara tapi selalu gagal, selalu berlalu seolah omong kosong yang tidak perlu ditimbang.
” Rapat kerja hari ini akan membahas pengadaan dana sumbangan orangtua untuk dana kebaktian.” Aku berenti dari langkahku, mereka mengikutiku, berenti secara mendadak. Aku mengedipkan mataku beberapa kali sebelum akhirnya melempar sebuah pertanyaan yang akan membuat mereka kembali menciutkan nyali untuk bermain air denganku.
” Pengadaan dana sumbangan?” Ujarku pura-pura tak mengerti dan mencari penjelasan dari rencana mereka. Dana kebaktian apa yang mereka maksud untuk memeras orangtua siswa sekolah ini lagi, perlu diketahui semua orang bahwa sekolah ini didirikan keluarga kami bukan untuk menjarah uang hasil cucuran keringat orangtua yang menyekolahkan anak-anaknya di sini, tetapi untuk membantu mereka meringankan beban pangan. Sekolah ini adalah sekolah yang bebas biaya dan sumbangan, selama aku mengelola  tempat ini belum ada perubahan soal pungutan biaya yang diadakan atas nama sekolah , kebaktian atau kegiatan apapun yang tidak memberi para orangtua pilihan untuk menolak memberi sumbangsih, kami mendirikan sekolah ini bukan untuk permainan para guru yang memburu kesempatan dalam hal penghijauan finansial. Mungkin wajahku sedang memerah saat ini, sebab aku memang sedang marah, untuk alasan apa saja aku tidak akan mengijinkan.
” Bukankah, Pak Iqbal sudah menunjukkan makalahnya kepada Anda kemarin, acara serupa kami kira akan sangat berpengaruh terhadap reputasi sekolah.” Cara bicara yang sok resmi untuk mengimbangiku itu tidak membuatku memutar pikiran, sekali tidak aku tetap akan pertahankan.
Sepertinya aku lupa memberitahu, bahwa gadis kelas tiga kelas Ekonomi yang menjadi pengelola sekolah ini adalah gadis yang tidak mudah merubah pandangannya terhadap sesuatu yang menurutnya absolut.
Aku sedang memutar bola mataku sebesar sudut lingkaran penuh, kemudian menatap afiliasi wajah kepala sekolah yang angkuh itu seimbang dengan pengharapan dari mata lain yang terpajang di sisi kanankirinya, mereka mungkin sedang berdoa pada setansupaya aku mengabulkan pertemuan siang ini,” Baik,”  Kali ini aku sedang memiliki rasa kasihan pada setan yang mereka puja, setidaknya sebagi makhluk Tuhan aku harus sedikit berbagi kebaikan pada mereka yang memerlukan.
Aku permisi masuk ruanganku, di sebilah kursi yang selalu kugunakan untuk merebah terduduk Rea, aku tercengang, dia tampak sangat cantik setiap hari, tetapi kali ini dia membuatku lebih iri. Dia menggunakan kursi itu untuk merayu Ilham, tapi faktanya lelaki mana yang tidak masuk dalam pesona yang selalu menjadi sorotan setiap saat, semua orang setahuku memang selalu lebih mengenal Rea sebagai gadis yang penuh karisma. Ilham yang tengah sadar setelah sekilas melihat kedatanganku, menyapaku sambil meminta maaf atas kesalahan yang tidak ia perbuat, aku hanya meliriknya sekilas, kemudian duduk dalam kursi putar yang diatur sejajar dan serapi mungkin dengan meja berisi barisan kue nastar. Kini, kedudukanku menyamai kepala sekolah sombong yang selalu mengemis teguran dari para siswa dalam setiap orasi paginya di upacara senin rutin, memangnya untuk apa siswa harus menghormati kepala sekolah yang tidak pernah menghargai penghormatan yang selalu mereka lemparkan. Perempuan bernama Sri itu munafik sekali, di depan semua orang dia merasa dirinya dikucilkan, padahal ketika seorang siswa mencoba mengundang senyumnya saja dia melengos serupa anjing yang tidak menyukai daging yang diberikan majikannya, orang itu sebenarnya sangat rendah dibalik tinggi status ekonomi dan jabatannya.
Tidak lama setelah itu, aku keluar hendak menuju kelas, sebelum membuka daun pintu, aku memandang dua manusia yang membuat jantungku berdegup tak beraturan. Rea tampak sedang memandangi Ilham, menggunakan trik lama dia berusaha memikat hati Ilham, namun lelaki bertubuh lencir dan tegap itu agaknya merasa risih, dia berusaha lepas dari kurungan yang Rea naungkan padanya.
” Siapa, yang menaruh toples nastar itu, di meja saya.” Sambil menunjuk isi meja kerjaku, aku mempertanyakan soal nastar pada Ilham, biasanya selain sebagai guru komputer dia juga bertugas menjadi pengawas ruanganku, segala sesuatu yang menyusun ruanganku adalah tanggung jawabnya.
Ilham segera berdiri, mendekatiku dan kelihatan sedang mencoba melepas genggaman tangan Rea yang kuat.
” Kepala sekolah, setiap hari beliau meminta masuk ke dalam ruangan Anda untuk menaruh nastar tersebut, mbak.” Jawabnya dengan nada kaku yang tak terpecahkan, dia, memang selalu bicara serius denganku, tetapi gaya bicara yang sok resmi itu membuatku sama muak dengan bila aku menatap kepala sekolah yang selalu mencoba mengambil hatiku.
Kuambil toples berisi nastar kesukaan kepala sekolah dari mejaku, aku tidak berniat membuang toplesnya, namun jika tiba-tiba toples itu jatuh ke dalam tong sampah atas kemauan sendiri apa yang bisa kulakukan.
Bukan,
Aku bukan orang sekejam itu,
*
Kami tidak menyukai guru yang sering memberi kami tugas, lalu meninggalkan kami saat dia harus bekerja sebagai penyedia informasi bagi muridnya. Biasanya, jika aku ingat aku akan bertanya pada setiap kelas, siapa guru yang hari ini absen atau sekedar sering keluar kelas sewaktu jam pelajaran sedang berlangsung, lalu kuminta seseorang menuliskan nama-nama yang kami tanyakan dan menempelnya di papan besar. Ilham menyeret sebuah kursi dari bangku kosong di mukaku, memutarnya sebesar sudut lurus, lalu mendudukinya, dia menatapku sedekat sejengkal dari napasku. Teman-teman yang menyadari memecah hening yang sejak pagi mengisi ruangan, aku menunduk, pura-pura sedang serius membaca buku. Aku tidak menyukainya, pria yang menatapku dengan pandangan tak biasa selalu menjadikanku nampak bodoh dari segala sisi, aku tidak suka memerhatikan siapa pun, dan aku juga tidak suka terlalu diperhatikan oleh seseorang, kedengarannya munafik, tetapi itulah aku, gadis berambut sebahu yang memiliki mata lebar.
Aku tidak terlalu paham siapa namaku, tetapi Ilham sering menyebutku menggunakan nama,” Boleh saya duduk di sini, Yuan.” Dan sebagiannya mengeja namaku sesuka hati mereka hingga timbul sebuah nama yang sebetulnya tidak mengarah sama sekali. Aku tidak menjawabnya, dia sudah membuatku merasa kesal. Seingatku, orangtuaku selalu bilang namaku adalah Bunga Riestyah, terkadang mereka memanggilku dengan nama Riestyah saja, Tyah saja, atau Bunga saja. Entah bagaimana teman-temanku memutuskan untuk mengganti panggilanku dengan nama Yuan, atau Rome. Kedengarannya, itu nama anak lakilaki.
Aku tidak terlalu banyak memiliki teman, dikelas kami aku menyapa beberapa orang yang melihat ke arahku, selebihnya, adalah angin lalu bagiku. Kecuali pria yang selalu duduk sebaris dengan bangkuku, dia melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan pak Ilham setiap jam istirahat, dia selalu mengucapkan hal yang sama setiap hendak bicara padaku.” Kau ada waktu, aku ingin bicara sebentar.” Ada sedikit rasa takut yang membungkamnya agar tidak terlalu bersikap akrab denganku, karena sejak kembali dari Seoul, aku memang sedikit lebih banyak diam daripada bergaul dengan teman-temanku. Rama adalah seorang kenalan lama yang menjadi temanku sejak kami duduk dibangku SD, kami tidak pernah sekolah ditempat berbeda, seolah diantara kami memang ada yang sengaja menguntit.
Siapa yang menyangka kalau anak lelaki tetangga kami tumbuh lebih cepat dari dugaan, aku baru menyadari kalau belakangan dia sedang memelihara kumis, setiap minggu dari jendela yang terpasang horisontal dengan balkon kamarku, Rama selalu memperlihatkan cara bercukurnya kepadaku. Pisau cukur yang selalu membuat dagunya luka, juga menunjukkan hasil cukurnya setelah dia selesai.
Tetapi sejak Rea datang, anak lelaki itu lebih suka bicara banyak hal dengannya, terkadang kulihat mereka saling memerhatikan saat kami sedang duduk menghadap langit dari atas atap. Aku memilih lebih banyak diam saja saat Rama berusaha meyakinkan bahwa dia masih perhatian padaku, atau bahwa dia masih ingin menggantikan posisi Kak Sigit sementara kakakku belum pulang dari studinya di Korea. Aku cemburu pada Rea, dia sering  menjadi pusat perhatian setiap obrolan seseorang, adik sepupuku memang cantik, dan selalu menjadi orang istimewa untuk orang yang baru mengenalnya, betapa luar biasa dirinya jika dibandingkan denganku, aku hanya bisa tertunduk lesu menerima kenyataan yang bersikap sepihak demikian.
Sesekali, Ilham mengedipkan matanya padaku ia berusaha memintaku membantunya menjelaskan syntax dari HlookUp yang menjadi topik pelajaran kami di kelas hari ini, sepadan setiap pria yang duduk di depan sedang memandangku aku mencari seseorang yang duduk dibelakangku mungkin saja tiba-tiba dari kelas sepuluh Multimedia Rea memindahkan tubuhnya secara gaib untuk mencuri perhatian guru favoritnya. Ya, setiap malam saat aku sedang membaca novel Gabriel, Rea mengisi telingaku dengan curhatan mengenai perasaannya terhadap Ilham. Ahk, aku membenci pria seperti dia.
Tak jarang pula terkadang Rea akan dengan susah payah bertanya apa aku menyetujui perasaan tersebut atau menentangnya sebab Ilham adalah seorang guru dan dia hanya seorang murid, aku tidak suka membuat hati Rea kecil karena dia memiliki takdir besar, selalu kukatakan padanya seperti ini,” Siapa yang melarangmu? Aku?” dia selalu terkejut dengan kalimat yang menyembur dari bibirku dan juga selalu merasa senang.
Anehnya, ketika kulihat Rea terduduk lesu dalam sebuah kursi aku akan dengan sigapnya mendampingi, kemudian segera menanyakan keadaannya. Aku memang cemburu padanya, setiap melihatnya sedang berdua dengan Rama dadaku terus menyesak tak berbatas, namun entah perasaan apakah ini, jika melihatnya sedang sedih air mataku merembes tak beraturan dari bendungannya.
***





Rea sedang menungguku di depan kantor dia bilang ada urusan penting yang harus diberitahukannya padaku, aku menyisihkan waktu, sejenak kuabaikan segala urusanku. Dia duduk di sisi kiriku, sambil segera memesan minuman kesukaanku.” Tenang saja aku yang bayar kali ini,” Usulnya menengahi keheningan diantara kami. Pagi ini kami berdua tidak berangkat semobil jadi wajar jika Rea menghampiriku untuk meminta waktu demi mendengar sesuatu yang hendak ia ceritakan, aku tidak akan marah jika ternyata dia hanya membuang waktuku. Aku sudah terbiasa dengan kondisi tersebut, Rea sering mengatasnamakan keurgenan masalahnya agar aku mau mendengar curhatannya sewaktu-waktu, dia sudah sangat sering melakukan itu dan aku tidak pernah memarahinya. Karena dia, adikku.
” Aku tidak berniat menguping, saat itu kau sedang berada di sekolah ayah yang lain untuk mengecek laporan keuangan dan daftar gaji karyawan, sementara aku sedang keliling koridor setelah keluar laboratorium komputer, tepat di depan pintu kantor guru kulihat mereka sedang menyusun rencana, kak.” Dia tampak begitu serius.
” Rencana?” Aku tertarik, setahun belakangan anak ini yang membocorkan konspirasi kepala sekolah dan beberapa guru untuk menendangku dari tempat yang akan menjadi warisan pertama dan terakhirku, atas keberaniannya kami berhasil menurunkan harga diri perempuan berjilbab itu di depan siswa. Perempuan yang berwajah bulat yang bengesnya sengaja diberi warna merah maroon itu, memang sejak dulu menginginkan posisiku, jika dia berhasil membuatku terlihat tidak becus dan bodo mengurus sekolah-sekolah yang dialihtangankan padaku, maka dengan mudahnya ayah kami akan mendepakku dari sarang mafia ini, lalu bukan mustahil jika kepala sekolah dan anggota aliansinya akan memegang kuasa sepenuhnya atas sekolah kami. Bisa jadi, karena setiap tahun kelicikan mereka bertambah cerdas.
Sudah bisa di tebak apa jadinya sekolah ini setelah berada dalam genggaman si picik, barangkali semua orang yang bekerja pada kami akan berubah sama dengan pemimpinnya. Sama-sama menggunakan tempat yang kami bangun ini untuk markas bisnis bebas, seperti melopori adanya pungutan tidak jelas atasnama sekolah, padahal seperti yang publik ketahui ayah mendirikan sekolah ini bukan untuk mencari keuntungan, sebaliknya kami hanya ingin membantu sebagian kecil dari orang tidak mampu yang ingin bersekolah. Aku tidak habis pikir sebetulnya mereka itu manusia atau apa, mengapa melihat orang disekitar mereka bahagia saja mereka merasa tidak tenang dan berusaha menghancurkan kebahagiaan mereka.
Rea mengembuskan napas panjang, ada semacam ruh yang sedang mengekangnya dan membuat lehernya tegang kaku, sebentar setelah dia melihat isi wajahku yang penuh harap jika dia tahu sesuatu, matanya beralih mencari tempat lain yang lebih banyak berisi hal menarik seperti selajur tubuh Ilham yang terpajang di depan pitu aula besar. Minuman kami datang. Dia tersenyum terseduh di atas dingin gelas es krimnya, aku tidak segera bertanya ada apa dengannya, aku mencoba mencari sesuatu yang memungkinkan dia membuang muka dan bibir dariku,” Suara mereka sih, tidak terlalu terdengar,  tapi gelagat mereka sangat mencurigakan, kau harus hati-hati, pada dua kalimat terakhir aku dengar mereka menyebut bahwa kau pasti kalah tahun ini.” Ujar Rea serambi menurunkan not bicaranya setengah setengah oktaf dari: kata tapi.
Tiba-tiba dia mengakhiri perbincangan yang dia buka sendiri,” Saranku, kau harus tetap berjaga-jaga meski menurutmu mereka terlihat masih berkomitmen dengan taubatnya. Ahm,, kau yang bayar minumannya ya kak, nanti kuganti kok.”
 Aku mengerutkan dahi,” Apa maksudmu? Kau tidak mendengar apa-apa.”
Kemudian kulihat tangannya mengulur dan menepuk pundakku,” Aku akan membantu mencari tahu. Percayalah kau aman jika masih bersamaku,”
Itu saja. Lalu dia berlalu menjauhi tempatku. Seperti dugaan awal, dia menghampiri Ilham.
Tapi ini mengerikan, biasanya aku bisa tenang karena Agung selalu mencari tahu akar renacana yang sedang mereka susun untukku, sekarang aku harus berkerja sendiri. Betul-betul hanya sendirian, memangnya apa yang harus kuharapkan dari Rea, dia hanya senang tebar pesona pada lelaki yang kelihatannya bersikap kaku terhadapnya.
*
Sebuah wajah tergantung di depan bangkuku, mata yang memiliki sorot tajam, hidung yang panjang dan mancung, kumis tipis yang tergambar halus seperti sketsa, seperti tipuan. Rama memperdengarkan kalimat yang sama seolah memang hanya kalimat itu yang terpikirkan dalam hati dan otaknya,” Kau ada waktu, aku ingin bicara sebentar,” Aku meliriknya sejenak, kemudian kembali sok sibuk dengan membaca kamus rekonsiliasi yang kususun sendiri beberapa bulan sebelum tes di adakan. Aku suka membaca apa yang kutulis, itu membuatku menilai seni yang terdapat dalam isi kertasku. Aku juga suka mengambar, sketsa-sketsaku terkadang laku terjual beberapa ratus ribu dan cukup untuk menyambung pengadaan bea siswa untuk sekolah-sekolah ayah per semesternya. Selain itu biasanya bekerja sama dengan Agung dan beberapa teman fakultas keseniannya, kami mengadakan pameran lukisan dan foto, aku dan Agung menyukai sesuatu yang sama, sebab dalam beberapa waktu kami memang sering menghabiskan waktu bersama. Fotografi, melukis sketsa adalah sebagian kecil hal yang kami jadikan alasan untuk bisa berdua, selain membicarakan masalah bisnis dan kelola sekolah. Lebih kurang semua hal itulah yang mengisi hari-hariku setiap sebulan.
” Kau tahu hari ini hari apa,” Terus Rama, dia akan mulai bicara panjang. Aku tak segera berkomentar, kecuali jika dia memang mengatakan sesuatu yang menurutku penting untuk di respon. Ia pasti segera jera, karena aku sengaja mengabaikannya.
Rama mengambil kamus rekonsiliasi itu, lalu pura-pura membacanya. Berapa kali dia melakukannya dan kulontarkan tatapan marah kepadanya dia tetap melakukannya.” Aku tunggu di tempat parkir, setelah rapat hari ini aku ingin mengajakmu, kita jalan-jalan.” Sendatnya, di memutuskan sendiri ajakannya, karena aku diam saja maka dia selalu menganggap bahwa aku menerima tawarannya. Itu: Rama.
Aku berusaha menjauh dari anak lelaki yang tidak punya perasaan itu, demi dua alasan, agar lebih fokus mengerjakan kewajiban yang di bebankan ayah, juga untuk mencegah agar aku tidak terlalu menyukainya, lebih menyukai dari sekedar seorang teman. Ini persis yang Agung atau Kak Sigitku bilang,” Menyukai atau tidak, kita tidak bisa memutuskannya, dua perasaan itu bergantung pada kata hati. Meski pikiranmu menampik tetapi kata hati yang selalu menang.”
Entahlah,
Rasanya jerih jika kusimpulkan dengan mudah mempercayai kata mereka, aku yang memiliki hatiku, aku yang memiliki pikiranku, terserah salah satu dari mereka. Aku tidak ingin memaksa agar kata hati yang menuntunku atau yang lain, benar kata mantan istri ayah yang sudah meninggalkan kami karena pria yang sebetulnya sangat ia cintai lebih dari rasa cintanya pada ayah kami.
” Kau tidak meninggalkan dirimu atas bisikan kata hati, juga bukan atas komando pikiranmu, tetapi karena dirimu yang lain yang sedang ingin menunjukkan sesuatu yang berbeda dari dirimu, karena manusia memiliki dua jiwa di dalam dirinya. Terkadang kita harus saling memberi kesempatan, satu jiwa pada jiwa lain, seperti kebaikan pada keburukan.”
Ibuku seorang pebisnis batik, dia selalu menuruti apa kata peraturan rumah dan tradisi keluarganya. Menikah dengan lelaki pilihan orangtua, bekerja atas pilihan adat, bicara sesuai dengan tata etika yang disusun oleh tetuanya, semua hal yang ia kerjakan adalah keterpaksaan. Lalu melewati membatik, dia mengeskpresikannya. Jika sedang sedih, senang, terkungkung, atau sedang tidak kuat menahan semuanya kulihat dia terduduk, terenyam dalam kain, alur malam dari canthingnya terbentuk lugas menggambarkan kalimat protes dalam hati yang sedang berjelaga.
*
Manusia harus memiliki setidaknya satu media yang dapat ia gunakan untuk membuang kesal, kecewa, marah, sedih, ketidak kuatan yang tengah menderanya. Media itu terkadang akan mengingatkan betapa buruk, baik, konyol atau bergunanya kita pada saat-saat tertentu ketika sedang mengalami perasaan-perasaan itu. Media kita membantu kita untuk bercermin dan membersihkan bayangan yang kotor dari dalamnya.
Dan aku memilih banyak hal yang dapat kujadikan untuk pelarian, nama lain dari mengeskpresikan feeling bagiku adalah pelarian. Jika aku merasa bosan melukis, aku bisa mengambil peran dalam sebuah pertunjukkan teater di aula kesenian bersama teman-teman Agung, atau beralih untuk belajar memotret, membuat rajutan untuk menambah ikon toko aksesoris kami, menjahit sesuatu yang bisa dipakai sendiri atau diberikan pada orang lain, dan lain-lain. Aku belajar menggunakan waktuku sebaik-baiknya dengan belajar semua hal dari apa yang terlihat, apa yang terbaca, dan apa yang terpahami. Setiap wanita harus memiliki banyak kelebihan agar ia tampak mengagumkan dari semua sisi, juga untuk menutupi kekurangan yang mereka miliki.
Namun demikian, pada kenyataannya para pria menyukai gadis cantik berkulit bersih yang memuaskan mata. Memilih gadis adalah seperti memilih barang, jika kurang bagus maka cari yang lain, mengapa tidak mencoba untuk membantu si gadis agar memperbaiki dirinya dan agar lelaki tersebut merasa puas dengan perubahan yang separuhnya adalah hasil kerja kerasnya pula. Mengapa tidak berpikir bahwa gadisnya adalah takdir untuknya, suka atau tidak dia harus menerima kekurangan selain kebaikan yang gadisnya miliki, jika memag sudah mengatakan cinta. Sudahlah, aku hanya akan lebih bodo jika membicarakan hal sorong tersebut. Sebab aku tidak memiliki pengetahuan apa pun soal itu.
Rama segera berlalu setelah mengembalikan kertas kamusku, dan mengedipkan sebuah senyum dari bibirnya. Absahnya dia sedang berusaha mengambil hatiku lagi dengan sikap sok akrabnya, wajahnya setengah tawar ketika melihat aku mengecangkan sabuk padanganku terhadapnya. Aku bekerja pada sebuah radar penerbit surbar, aku bekerja sebagai penulis cerpen dan sajak setiap minggu aku akan menyisihkan sedikit honorku ke nomor rekening, ibu bilang aku tidak harus membuang uangku hanya untuk kesenangan dan kewajiban, aku juga harus berusaha untuk memenuhi hakku,
” Masa depanmu adalah hakmu, kau harus memikirkan masa depan agar tidak merasa bodo kelak hari karena mengabaikannya.” Jelas ibuku, aku ingat saat itu aku masih berumur sembilan tahun. Kami sering bermain bersama dan bicara banyak hal berempat, ibu berusaha menjadi guru yang ramah untuk pelajaran kehidupan kami, sementara Kak Sigit, aku, dan Rea senang dengan hanya menjadi seorang muridnya.
*
Rapat mengenai pengadaan dana sumbangan dari orangtua murid kemarin sengaja kupending, lalu aku menyuruh beberapa dari mereka menyusun sebuah acara lain yang lebih masuk akal dari hanya sekedar mengedarkan ribuan surat dan membagikannya kepada setiap kelas. Aku membentuk sebuah panitia pembentuk konsep. Sengaja kupilih orang-orang yang menurutku kompeten dan dapat menjaga sikapnya untuk hal ini, meliputi Ilham, Iqbal, Rukan, Arista, Meita, dan seorang guru senior Yadiatra. Aku tidak melihat preposisi mereka, setengah diri mereka bukan urusan publik yang terpenting tidak ada masalah yang akan terjadi ketika mereka menjalankan tugas.
Hasil rapat hari itu, kumenangkan. Kapan pun mereka melemparkan batu padaku aku selalu berhasil menangkapnya. Jangankan batu, api pun akan kutangkap dengan tangan sendiri. Karena aku tahu iblis tidak pernah menang melawan kebaikan, meski di awal mereka seorang awak yang tangguh, tetapi pada akhirnya sisi baik selalu muncul menjadi pemenang.
” Selamat pagi...” Tegur  Bu Diana, guru Sastra Indonesia yang satu ini selalu membuatku kagum dengan cara bicara, cara berjalan bahkan cara dia mengedipkan matanya. Terkadang aku berharap setengah dari dirinya adalah sosok ibuku yang baik.
” Pagi, Bu.” Jawab kami serempak.
Wanita yang usianya dua setengah kali lipat dari usiaku adalah seorang janda yang suaminya meninggalkan seorang gadis dan seorang anak lelaki untuk diasuhnya sebagai istri. Suaminya meninggal karena serangan jantung, dan bekerja di sini adalah mata pencaharian yang diandalkan untuk mencukupi hidupnya dan dua orang anaknya.
 Setahun yang lalu, tepat di bawah pohon kapuk yang tertanam sangat kukuh di halaman belakang sekolah, kami bertemu untuk kali pertamanya. Dia memang sengaja mengajak agar pertemuan kelas pertama kami di gelar di luar kelas, saat itu dia tidak mengajarkan sebuah bab wajib sebagai perkenalan dengan kami. Tetapi tanpa mengurangi perannya sebagai guru dia meminta kami mengenalkan diri dan menceritakan sebuah hal yang pernah kami alami, hal yang menurut kami luarbiasa dan membuat kami terkesan. Aku tidak punya, aku terlihat bodo waktu itu, kukatakan itu dengan jujur. Semua temanku menceritakan perkenalan mereka dengan seseorang yang sngat berarti untuk hidup mereka, misalnya pacar, atau guru yang sangat baik.
” Setidaknya ada seseorang yang menjadi motivatormu dalam menjalani hidup, Nak.” Motivator, mungkin belum. Bahkan untuk ukuran seseorang tersebut ibuku sudah menjadi samar dan tidak termasuk dalam kategori, semestinya jika ada, orang tersebut adalah ibu. Aku menggeleng lugas. Mereka menertawakanku seadanya, tidak ada yang tahu bahwa aku yang memegang sekolah ini saat itu, temanku, Santi, bersikap wajar seperti seorang teman. Bu Din: sebutan akrab Bu Diana, pun tidak memedulikan status itu, tetapi untuk saat ini, mereka berubah. Bu Din lebih menghormatiku seperti menghormati seorang atasan, dan teman-temanku sering merasa sungkan bicara lepas denganku.
Setenggak napas setelah dia duduk di hadapanku, Bu Din menyuguhkan senyum tawar, mungkin setengah dari itu dia sedang kelelahan.” Biasanya seseorang selalu memiliki hal yang membuat dirinya nyaman saat sedang kacau,” Bu Din tampak tak sehat, beberapa aroma tubuh yang kusukai darinya aku mengenal aroma kecil daun adas yang sedang di bakar di atas tungku bearak panas setengah suhu didih.” Tugas  kalian hari ini adalah, membuat deskripsi tentang sesuatu itu. Jika diantara kalian belum menemukan maka carilah,” hempasnya, aku senang berada di dekatnya, wangi tubuhnya selalu mengurangi rasa bosan dan dingin dalam dadaku.
Aku tidak segera bertanya apa yang sedang ia derita, terkadang seseorang yang sedang bersedih hati memerlukan waktu untuk memikirkan jalan keluar masalahnya tanpa bantuan orang lain, terkadang seseorang harus memiliki waktu yang lebih banyak untuk sendiri, untuk sekedar mengingat masa lalu bahkan membayangkan masa depan yang muncul seperti mimpi dibenaknya. Aku juga sering mengalaminya, aku sering menyibukkan diri dengan sekian kegiatan, kesibukan tersebut hanya menampakkan wajahku yang tengah serius memahami apa yang kulakukan namun jauh didalam semua itu aku sedang mengingat sesuatu dan membayangkan segala hal yang kuinginkan terjadi padaku.
Kutoleh kanan, kiri, semua orang sedang ribut dengan tugas deskripsi masing-masing. Aku kembali memerhatikan bolpen lalu segera menyamakan sikap, menuliskan apa yang diminta Bu Din. Sambil sesekali memandang pancaroba mimik wajah Bu Din, aku terus mengasak kalimat sederhana yang kupunya dari galian memoriku. Sebagai pancingan aku memang sengaja membuat agar Bu Din membuka perbincangan terlebih dulu, dan rencana lugu tersebut berhasil mengundang rasa penasarannya, kemudian ku dengar dia mendesah. Ada sedikitnya tiga atau empat kali dia lakukan, kemudian tanpa mengurangi pangjang senyumnya dia bicara sesuatu,
” Jika Anda tidak keberatan saya ingin ambil cuti beberapa jam,” mata Bu Din setengahnya terbengkalai kelelahan, dua bola putih berinti hitam di tengahnya sedang mengalami penciutan. Kedua sudut tempat bola itu tertempel mulai menyipit tanpa sebab yang jelas,” Saya janji tidak akan lama, pas-ti, hanya- bebe-rapa jam..” kalimat terakhirnya mengundang ketidakmengertianku, Bu Din pingsan beberapa detik sesudahnya.
 Semua orang panik dan bingung memapah Bu Din, siswa-siswa dari kelas sebelah segera memberitahukan pada guru yang mengajar mereka bahwa Bu Din drop. Kulihat Ilham keluar dari salah satu ruang kelas Bisnis menuju kelas kami, dia menatapku, dia sedang bertanya padaku lewat matanya yang tampak kacau, bingung dan tidak tahu apa-apa, jangankan untuk menjelaskan, aku sendiri tidak mengerti mengapa mendadak Bu Din meminta cuti beberapa jam kepadaku.” Siapkan mobil, Pak Arif!” Komando Ilham begitu Arif datang dari arah koperasi sekolah. Arif manggut lalu lekas berlari mencari kunci carry milik sekolah.
Beralih dari satu wajah ke wajah lain, aku hanya mendapati seraut wajah Ilham, ada semacam hasrat supaya dia datang kepadaku lalu meredakan rasa bingung yang menderaku dengan kalimat sejuk,” Tidak akan terjadi apa-apa, semua akan baik-baik saja..” entahlah aku membayangkannya sekarang. Aku memejamkan mata dan mulai gusar, Ilham tidak menoleh padaku sekali pun, dia lebih panik dari kelihatannya.*
Arif kembali, tetapi bukan dengan mobil sesuai pesanan Ilham, pegawai pengelola data siswa yang menebalkan kumisnya menjadi setengah senti setiap minggunya malah membawa seseorang. Dia tampak seperti mantri, tas kerja yang dibawanya berisikan stetoskop, tensimeter dan beberapa obat penenang. Mungkin seorang dokter, kami tidak tahu dia darimana, sekolah ini tidak memiliki petugas UKS tetap, kami mempekerjakan dua freelance setiap harinya untuk mengawasi dan melayani pasien di UKS sekolah. Diantara kedua freelance tersebut pun tidak ada yang berjenis kelamin pria, keduanya wanita.
” Kenapa bisa pingsan sebelumnya,” tanya pria dua puluh tujuh tahunan sebaya Ilham itu.
Semua saling pandang, terutama padaku. Karena aku satu-satunya yang harus tahu penyebabnya, Bu Din duduk di muka bangkuku sebelum akhirnya dia tergeletak lunglai mengisi mejaku. Aku memandang mereka satu per satu tanpa banyak berpikir untuk membela diri.” Mbak tahu sesuatu?” Hunjam Ilham, tepat sekali aku tidak bisa menjawab dengan sebuah kata iya, atau tidak. Aku hanya menunduk karena kejadiannya terlalu cepat dan Bu Din tidak memberi tanda apa-apa sebelum kolaps.
” Ada apa sebenarnya Mbak,” Ilham mencoba menggali informasi dariku tapi aku hanya dapat diam, dia terus menyerangku dengan sejumlah pertanyaan yang sama. Seseorang terdengar menyelahi, suara bass yang tak asing bagiku mulai menengahi.
” Apa maksud  Bapak. Bu Din jatuh tanpa ada yang tahu, meski pun Rome di depan bukan berarti dia tahu segalanya, bukan berarti dia mengerti penyebab Bu Din drop.” Sanggahan Rama terlalu tawar, dia terlihat tenang menyikapi semuanya, seperti membela seseorang adalah kebiasaan. Dia berdiri tepat di sampingku.
Dari arah lain terpacang wajah bersih Iqbal, dia ikut menumpahkan kalimat pembelaan.” Tidak perlu menyalahkan siapa, sejak pagi Bu Din memang mengeluh tidak enak badan, matanya sudah pucat sejak beberapa menit setelah tiba.” Aku masih diam, tidak ada yang bertanya dan membela lagi. Perlahan dari situasi sekarang semua orang sedang sama diam sepertiku.
” Tidak akan terjadi apa-apa, semuanya akan baik-baik saja...” bisik Rama. Aku menatapnya ulang. Entah sejak menit ke berapa, sebilah tangan besar anak lelaki yang memelihara kumis tipis sedang meregam lima jari kiriku. Aku menatapnya, senyumnya berias mengelabuhi. Aku melepaskan genggamannya dengan paksa, aku merasa risih. Seumur hidupku, tidak ada orang yang berani menyentuh tanganku. Sekedar menatapku tanpa ijin atau berkeperluan terhadapku. Dia yang pertama.
***















Aku duduk di sebuah kursi taman belakang sekolah yang sengaja di buat dari kayu mahoni. Di tangan kananku nikkon sepuluh megapixel terbaruku, karena insiden pingsannya Bu Din rapat kembali di undur, kami akan menunggu kondisi tubuh Bu Din membaik, jika sudah, maka rapat segera di teruskan. Sebelumnya kepala sekolah mendesak agar rapat segera dilaksanakan sesuai jadwal agar tidak mengganggu skejul mengajar guru. Belakangan Agung terlalu sibuk dengan kuliahnya, dia melepasku lima dalam enam hari tugasnya. Aku membutuhkannya sekarang, untuk melemparkan lelucon, untuk membuatku sibuk dengan sesuatu yang dia bawa, untuk membuatku sejenak melupakan bahwa aku sedang mengalami masalah besar.
Angin melambaikan tangannya penuh, rerumput setinggi lutut mulai menyampan udara, warna hijau natural halaman belakang sekolah yang diapit ruang kelas marginal dan kantin terasa lebar untuk dijadikan obyek pemotretan. Sebelum termangu aku sudah menghabiskan rol filmnya, kemudian saat menggantinya, aku mulai teringat musibah yang mendera Bu Din. Satu-satunya guru yang mengagumkan adalah dia, dia mengajar kami tentang sesuatu yang sempurna. Dia bukan psikolog, tetapi setiap waktu selalu meyulap kelas kami menjadi arena meluapnya emosi yang terbendung. Hasil kerja janda dengan anak dua itu terkadang membuat kami menangis karena rasa bersalah, atau tertawa karena memang ada yang begitu lucu dan pantas ditertawakan. Bu Din tidak hanya sekedar mengajar, namun membantu kami menciptakan diri.
 Aku tidak mengerti mengapa dia meminta ijin cuti beberapa jam, seharusnya jika sakit dia tidak perlu masuk hari ini, sampai benar-benar sembuh. Aku tidak pernah melarang siapa pun absen jika betul sedang sakit, ada tunjangan tersendiri bagi biaya periksa ke dokter dan obat untuk pegawai kami yang sakit. Semua itu disediakan semata-mata agar mereka tidak merasa terpinggirkan karena siswa tidak pernah membeli buku LKS dari mereka. Kami pikir semua fasilitas dari sekolah mencukupi kebutuhan mereka.
Angin mendayu. Sebuah aroma pekat yang kukenal serupa daun kayu putih melesat-lesat menyerbu hidung, aku menelisik sumbernya. Di kiriku lagi, seonggok tubuh lencir milik Ilham memasang tatapan, aku siap jika dia mempertanyakan sebab Bu Din pingsan kembali, aku tidak ingin terlihat lemah hanya karena banyak yang memihakku tadi. Aku ingin menjawab sendiri pertanyaan yang orang ajukan padaku sebagai bukti bahwa aku terbiasa melakukan sesuatu sendiri.
” Kondisi Bu Din membaik dengan cepat, beliau mengkhawatirkanmu.” Aku terpancing, pria yang duduk semakin dekat itu meraih tangan kiriku yang sedang tak berisi, lalu memandangku menggunakan mata yang biasanya, dia bersikap seolah aku adalah seseorang yang sedang dekat dengannya, apa yang dipikirkannya.” Kau baik-baik saja ‘kan, aku terlalu panik tadi, aku tidak tahu harus bagaimana. Pikiranku sedang buntu.” Aku hanya melotot menggunakan banyak kisaran jawaban, serambi terheran atas sikap Ilham yang begitu anehnya kuperhatikan gelagatnya, Ilham tertunduk lesu, untuk apa dia mengatakan semua itu?
Aku diam. Karena aku gadis yang dingin aku tidak mengangkat suara sedikit pun.
Selain tiba-tiba kulihat Rea sedang berjalan berdampingan dengan Rama dari arah koridor Lab. IPA, aku mulai berpura-pura sedang sibuk mengobrol dengan Ilham, hanya sekedar agar dadaku tidak sesak saat melihat mereka, bergandengan tangan seperti sepasang kekasih.” Sebelum jatuh, beliau meminta ijin cuti selama beberapa jam saja dari saya. Lalu entah darimana tiba-tiba beliau jatuh sebelum saya menjawab permintaan itu,”
Ilham memanggut, namun demikian tidak menyurutkan rasa kesalku akibat beberapa menit mendapati Rea sedang menggandeng tangan Rama.” Beliau memberitahu bahwa kondisinya sedang tidak memungkinkan untuk mengajar hari ini, tidakkah kau menyadarinya?” aku mengangkat separuh alisku, sebenarnya iya. Aku tahu kalau ijinnya itu untuk pergi ke ruang kesehatan untuk beristirahat sebentar.
Pertama karena, Bu Din jarang memulai pelajarannya dengan tugas, dia lebih suka membuka mukaddimah pelajarannya dengan membacakan sajak dan meminta kami memparafrasekannya. Lalu mata yang terlihat sedang terbebani, dan dua elemen kalimat tunggal yang membuatku tegang.
” Rome,” sapa Rama,
” Namanya Kak Tyah, jangan panggil dia Rome, dia paling tidak suka panggilan itu.” Dedas Rea, mereka berdua saling pandang lalu tertawa kecil menyusul.
Kembali dalam sipu yang tidak tergambar jelas aku diam, aku lebih senang memperlihatkan bahwa aku baik-baik saja jika mereka berdua bersama. Aku sudah memiliki vaksinator yang dapat mencegah penyakit hati, meski tampaknya ia sedang tidak berfungsi saat ini, lebih jarang kuuraikan mataku pada dua sosok yang sering menusuk jantungku dengan seruas belati itu, aku  mencari hal lain yang dapat menjadi peralihan untuk di pandang. Ada bayangan hitam menyelimutiku, bergentayangan  menggodaku untuk terus menerus merasakan sakit hati yang begitu dalamnya. Segera kuangkat kameraku, kuarahkan pada raut muka Ilham yang sejak tadi tidak bergeming menanggapi tebar pesona Rea. Aku mengambil fotonya, setelah tersadar aku memotret dirinya, segera kulihat bibirnya mengembang ke sudut kiri serta mengangkat dua jemari tangan yang membentuk huruf V, aku mengakhiri sandiwara dan berlalu pergi meninggalkan-tiga orang tidak penting saat ini.
Aku pergi menemui Bu Din, hanya ingin memastikan bahwa fisiknya sudah membaik seperti kata Ilham, sekaligus ingin tahu apa ada sesuatu yang membuatnya berpikir terlalu berat dan menyebabkan kesehatannya menurun. Setidaknya aku bisa memberi semangat jika berada disisinya, sebagai balas budi karena dia sering membantuku menemukan cara mengimbangi kesedihan dan dillema yang kualami.
*
Beberapa guru sedang berkumpul mengawasi isi papan pengumuman di muka ruang guru, aku terhenti, sekedar ingin tahu apa yang sedang terjadi. Aku melihat seseorang, dia menghampiriku lalu memberitahu sesutu yang tidak kutanyakan, siapa lagi yang suka mempermainkanku kalau bukan...Kak Sigit. Bibirku segera mengembang, dia mencubit pipiku dengan tangan besar yang terasa kasar.
” Ada yang sedang membuat gosip untukmu, Nak.” Serbunya sambil mengukur hati dan kepala, selalu baik bukan Agung pasti hanya kakak kandungku yang dapat membuatku sedang bersantai saat bicara satusama lain dengannya.
” Nak?” aku terbawa suasana. Kemudian menggunakan momen itu untuk berusaha tidak tidak kaku.
Pemilik nama lengkap Sigit Waluyo tersebut membuatku mencoba membangkitkan kembali sikapku yang sebenarnya, supel dan gampang bergaul. Dia tampak tersenyum dan menggulai wajahnya dengan tatapan ganas andalan, setiap bangun tidur anak kesayangan ibuku itu sering melemparkan tatapan mautnya ke dalam kamarku.” Kau tidak kangen padaku, Nak.” Apa maksudnya memanggilku dengan sebutan, Nak? Dia sering menggodaku dengan kata itu tapi setiap dia mengulanginya aku tetap tidak mengerti mengapa, dan marah tetap menyelubungi isi pikiranku. Aku mengernyitkan kening, berharap ia lekas menjawab apa alasannya berbuat itu.
Namun demikian sejujurnya kakakku tidak terlalu peka, dia memang dokter jebolan Universitas Korea, barangkali karena terlalu pintar dia jadi tidak cerdas melihat dunia sekitarnya. Teori mengenai keseimbangan cerdas intelegensi dan cerdas psikologi memang berlaku sekarang, aku mengenal kakakku dengan baik meskipun kami hanya tinggal bersama selama sembilan tahun saja ditambah liburan kemarin di Seoul. Tak lama seusai napas Kak Sigit tersedat dalam pemandangan abstrak dibawah cahaya matahari, dia merentangkan kedua tangan sebesar sudut segitiga, aku tahu dia ingin memelukku tapi malu memulai karena ini tempat kekuasaanku.” Kemana dia?” Kakak sedang menanyakan Rea, dia pasti lebih rindu pada Rea ketimbang padaku, lagu lama yang mudah ditebak. Tidak ada orang yang benar-benar menyukaiku, merindukanku, atau tulus membuatku bahagia walau sebentar saja.
” Sedang bersama seorang teman.” Jawabku singkat.
” Kalau begitu cepat traktir aku makan bakso, aku sudah kangen bakso buatan Bulek Weng, kau tahu sendiri ‘kan di Korea makanan itu ndak pernah di jumpai.” Alihnya, aku kembali mengerutkan mata. Terpaksa aku menunda untuk bertemu dengan Bu Din,
” Dasar orang Bantul.” Suaraku sedikit serak, belakangan teh di ruanganku terlalu manis, mungkin buatan OB baru, aku alergi pada gula, sedikitnya akibat memakan makanan bergula atau minum minuman yang terlalu manis pasti membuat tenggorokanku kering dan merubah susunan pita suaraku, biasanya butuh waktu seminggu penuh untuk mengembalikannya seperti semula.
Kami pergi ke kantin. Seperti rencana awal kami memesan dua mangkuk bakso, aku suka makan bakso tanpa saus dan kecap, aku lebih suka makan bakso berkuah putih dan sangat pedas. Kebiasaanku adalah satu-satunya dalam keluarga kami, termasuk soal teh tawar, kopi tanpa gula, atau anti memakan ikan laut dan daging yang masih berbentuk utuh menyerupai daging. Aku lebih suka makan daging atau ikan  dalam bentuk yang sudah diinovasikan kedalam bentuk baru. Misalnya olahan daging berupa baso, atau olahan sosis ikan laut.
Semua orang bergabung di meja kami, terutama Ghani, tetangga kami yang menjadi teman sekelasku sejak kami duduk di bangku SD. Aku ingat, sejak kedatangan Rea aku dan Rama jarang duduk sebangku dan aku lebih mengemis pada lelaki bermata sedang dan berkulit sawo matang itu agar mengijinkanku duduk bersamanya selama kami sekelas. Terkadang dia datang ke rumah untuk mengerjakan PR bersama, pada saat yang sama  Rea dan Rama juga sedang belajar bersama. Ghani mengetahui perasaan cemburuku terhadap kedekatan Rama dan Rea, tetapi dia tetap bersikap wajar dengan memilih menghiburku saja.
” Cepat, makan kalau dingin kenikamatannya akan berkurang,” Goda kakakku,
” Kau bisa saja Git. Apa kau sering mengatakan hal yang sama juga sama teman-temanmu di Seoul,” Kak Sigit memutar mata, sebelum akhirnya mengatakan,
” Iya...aku konyol ’kan?” Mereka saling menertawakan, mereka berdua selalu melakukan hal yang tidak penting. Tapi aku, mengapa denganku, aku juga ikut tertawa, Ghani melihatku matanya mencuri perhatianku,
Seakan menghindari insiden aku pura-pura diam segera, lalu bertanya, “ Apa yang kau lihat?” Ghani hanya tertawa terheran, besertaan mengangkat alisnya seperempat bagian, seperuha wajahnya disarati sorot memisau, ya ampun dia terlihat tampan jika sedang begitu, aku baru sadar bahwa dia lebih mengagumkan daripada Rama, anak lelaki berkumis yang tadi pagi mengajakku jalan-jalan sore ini tidak ada apa-apanya. Rama sudah berubah menjadi seorang playboy, hobinya sudah merajalela, menggoda semua gadis sekolah menggunakan kumisnya, memacari mereka, kemudian mencampakan mereka seenak hatinya.
Ghani menawarkan emping padaku,” Di sini semua orang makan bakso di campur dengan emping,” Kak Sigit memandangku, kami saling pandang setelahnya. Apa? Iya aku mengaku, aku tidak terbiasa makan ditempat ramai, makanya aku jarang tahu soal bakso yang rasanya lebih enak jika dicampuri pecahan emping di atasnya.
” Apa makanmu teratur, Nak.” Dia terus memanggilku dengan sebutan itu di depan Ghani, apa tidak menyudutkanku namanya? Aku mengangguk separuh sambil menelan ludah.
Sebetulnya aku hanya makan dua kali sehari, sebelum subuh dan setelah maghrib.
*
Kami berdua berjalan menuju kelas, tapi tidak ada perbincangan diantara kami, Ghani lebih memilih diam begitu setelah Kak Sigit berpamitan pergi. Tepat di depan ruang perpustakaan yang berinterval kuranglebih tiga belas meter dari kelas kami lelaki yang tubuhnya bertambah kekar sejak tiga tahun lalu itu menghentikan langkah.” Kau bisa jalan lebih dulu,” jedanya, apa maksudnya.
Aku tidak bertanya apa-apa, dia terkesan sedang ingin mengusirku, mungkin malu jika ketahuan sedang berjalan berdua denganku.” Teman-teman akan menduga yang bukan-bukan jika kita bersama. Kau mengerti maksudku?”
 Lebih dari mengerti. Tanpa melihatnya lagi aku pergi, segera setelah ini aku akan mengetahui seberapa bodo diriku, mengapa tadi diam saja saat berjalan berdua dengannya, seharusnya aku ke kelas sendiri saja. Aku tahu, pasti sekarang mataku sedang sekarat, biasanya saat aku kesal atau menyesal aku akan melihat ke berbagai arah untuk membuang pandangan tak berguna. Lalu mengutuk diri,” Dasar bodoh!”
Aku masuk ke dalam bangku yang biasa kugunakan dengan Asti, dia sudah menunggu lama, ada yang berbeda dari ruangan kelas kami, seperti sebelumnya memang sengaja diubah. Asti melihat ku menggunakan tatapan kecil yang berarti sedang mempertanyakan sesuatu,” Sepertinya ada yang berubah.” Gerutuku, Asti hanya mengangguk sambil mengiyakan.
” Sebenarnya mereka mengubah tempat ini karena mendengarmu merasa tidak nyaman dengan situasi kelas kita.” Aku mengangkat separuh alisku, kemudian bergunjing lantaran memperlihatkan ketidaktahuanku. Asti mengerti bahwa aku tidak tahu apa-apa, tapi dia terus bertanya apa sebabnya ruangan ini diubah tanpa sepengetahuanku.
” Jangan bertanya kepadaku.” Simpulku mengakhiri.
Ghani masuk setelah lima menit aku duduk dan membahas komposisi kelas yang berbeda dengan situasi sebelumnya, dia mengerling padaku, aku terlalu kesal padanya dan memutuskan untuk tidak menanggapi. Rama menghampiriku, sebelumnya dia sengaja menyenggol tubuh Ghani untuk alasan yang tak ingin diketahui siapa pun. Aku membuang muka, Rama duduk di depan bangku kami seperti biasa, memamerkan wajah yang berahang tangguh dengan seduhan hangat kumis tipisnya, bercampur harapan yang tidak mungkin terkabulkan dia memandangku, memulai bab basabasinya seperti hari-hari lain.
” Kau ada waktu aku ingin bicara sebentar,” aku yakin dia ingin membahas soal pagi tadi, dan ajakannya yang tertunda karena aku sengaja membuat diriku terlihat sangat sibuk hingga akhirnya keberanian anak lelaki berkumis itu meluntur tak berasap.
Tidak ada tanggapan, dariku atau dari Asti. Kami berdua sengaja mengabaikan sesuatu yang menurut kami tidak penting, dan membiarkannya berlalu dengan sendirinya jika sudah merasa bosan.
***




Rapat dimulai. Dikananku seorang ketua panitia penyusun konsep, dia dibuat ribut dengan persiapan presentasinya, Rukan Abi adalah satu-satunya guru IT paling dekat denganku, kemarin saat acara pernikahannya aku menjadi tamu istimewa, aku mengenal istrinya lebih dari seorang teman, mereka berdua adalah guru favorit para siswa di SMK Nusa  Bangsa ini. Rukan senang mengambil posisi paling dekat denganku agar dia dapat dengan mudah melihat pancaroba mimik mukaku yang samar, abstrak dan sulit ditebak. Rukan memulai sebuah percakapan kecil denganku, suasana santai sedang ia ciptakan untuk menunggu semua peserta rapat berkumpul, moderator acara hari ini bernama Ikang Raud, pegawai koperasi terpandai, peraih Toefl Best Skor tahun ini. Dia menyusul percakapan kami beserta keringat dingin, aku ingin melihat Agung hari ini, dia harus datang untuk memberikan masukan padaku, sebab selalu setiap pagi dia hanya menyapaku dengan-” semoga hari ini berjalan sesuai harapan, Mbak.”
 Aku meminjam ponsel Pak Rukan untuk mengirim sebuah pesan pada Agung, khusus hari ini datanglah jika Agung sudah selesai kuliah, tulisku. Aku berharap dia tidak membalas sms itu, melainkan langsung datang dan memperlihatkan senyum yang lama tidak kulihat.” Kali ini kumpulan ide siswa kalau masih di reject, kau mengerikan sekali untukku. Mereka pasti senang kalau rencana mereka tiba-tiba di pajang di papan mading sekolah, lebih lagi dibubuhi tandatangan orang nomor satu di sekolah ini.” Dia pandai sekali, mengicu dan membual seperti pekerjaan sehari-hari kelihatannya.
” Bapak mirip sekali dengan kepala sekolah.” Godaku, cengirannya mengiris sepi. Aku dan Pak Rukan memang lebih dari sekedar kenal, terkadang jika kami sama-sama memiliki waktu luang kami akan dengan sangat senang hati bercanda di bawah pohon beringin tua, demi mengurangi kaku otot.
Giris aroma mawar putih menguras kisi-kisi hati, ada seseorang yang sengaja sedang mencoba indera penciumanku yang terkena stabil, aku meliriknya, lelaki yang dua bulan lalu merayakan usia ke dua puluh tahunnya denganku di atap rumah tetangga, dibawah snar rembulan yang hampir tertelan mendung, aku ingat saat itu aku terlihat sangat bodoh karena terus menerus melakukan apa yang dikomandokan pengawalku itu. Seharian menjadi kacungnya untuk menyenangkannya, kejadian hari itu pertama dan mungkin terakhir kalinya bagi kami berdua, tetapi aku senang setidakanya pertukaran posisi selama dua belas jam itu menjadikanku lebih tahu seberapa sulitnya Agung harus melayaniku selana empat tahun tanpa keluhan sedikitpun. Hm.
Agung tersenyum padaku, aku melihatnya. Ada segenggam hal yang berbeda darinya, aku tahu dia sedang banyak masalah, dan aku sudah menghancurkan konsentrasinya menyelesaikan tesis terakhirnya. Senyum yang mengentas harpa dalam pikiranku itu sejenak melenyapkan kegembiraan melihat kembalinya Agung melakukan tugasnya untukku. Rambutnya selalu terpangkas rapi. Aku yang menyuruhnya, agar lebih banyak gadis cantik yang medekati dan mengemis untuk dicintai pria yang rajin mengurus jadwal makan saurku.” Duduklah, Nak. Aku ingin dengar sesuatu darimu, hari ini aku terlalu suntuk tidak melihat wajah lama tergantung menghibur majikannya,” Agung tertawa kecil tak beraturan, nada bicaranya mulai parau tak terkendali.
” Nak?” sengaja, aku memang sengaja menyadur ucapan Kak Sigit untuk mengetes emosi anak muda ini. Jika terpancing pasti dia akan mencuramkan isi matanya dan melotot menderap kecil. Tetapi kenyataannya dia meludahiku dengan tertawa kecil, apa ada yang pantas di tertawakan?
Kemudian dia duduk tepat di sebelahku, bergeser sedikit adalah tempat Ilham yang lama tidak terisi, konsepier yang akan menerangkan isi presentasi pembaharuan acara yang di sampaikan sedang buang hajat, aku tidak mengerti apa yang telah meracuni perutnya tetapi, tadi wajahnya berubah biru, sangat lucu dan akan menjadi bahan obrolan setiap guru di kelas yang mereka ajar. Lalu kami lihat seseorang dengan jilbab yang selalu divariasikan dengan aneka bros bling-bling, sebagai gambaran kegemarannya terhadap sesuatu yang mewah perempuan yang menyukai mobil chevrolet putih kami itu berjalan dari arah koridor kiri ruangan guru. Kelihatannya benar mereka sedang merencanakan sesuatu. Ilham membelah jarak, sambil tersenyum mengundang simpati pria berhidung setengah mancung dan berahang kuat tersebut meminta agar dapat duduk tepat bersebelahan denganku, menggunakan alasan masuk diakal  dia berhasil mengusir Agung dan merebut posisi terdekat dengan kursiku.” Bisakah kita bertukar tempat? Saya ingin tahu apa komentar Mbak Yuan tentang makalah konsep kami,” tentu saja tanpa isi pikiran yang matang Agung tidak bisa menolak permintaan yang kesannya terdengar seperti sebuah perintah atasan pada bawahan. Sebelumnya Agung menatapku, melihat apa reaksi mataku begitu mendengar kalimat Ilham yang menyedihkan.
Aku tidak memedulikan, kecuali merugikanku aku akan memberi isyarat pada Agung untuk menolak.” Silakan, saya akan menunggu diluar,” bisik Agung tanpa ragu, kedua dia mengingatkanku agar tetap memasang kuda-kuda. Soal gosip di luar yang menyalahkanku atas kolapsnya Bu Din, itu sebuah konspirasi. Sepertinya perang sudah mulai di agresikan kembali oleh musuh. Aku hanya mengangguk menyetujui peringatannya.
Meeting dimulai, akal-akalan saja sebenarnya kalau harus ada acara yang menarik dan bermanfaat selain hanya buang-buang uang untuk sekedar menyenangkan siswa. Udang dibalik semua ini adalah menolak pensi annualis, sudah kami adakan survei, aku dan Agung, satu sasi sebelum dia mengabaikanku dalam tiga minggu awal penyusunan tesisnya, ternyata semua orang mudah bosan dengan acara yang sama meski kami mengadakannya hanya dalam beberapa bulan sekali. Sudah semestinya kukubur dalam-dalam kebiasaan yang mendarah daging setiap tahun yang cuma memberikan kerugian besar bagi semua pihak. Yakni kami selaku pendiri sekolah, dan siswa yang banyak mengeluh karena acara penyegaran otak selalu disirami dengan acara tahunan yang membosankan.
*
Hasil rapatnya menyatakan bahwa aku menyetujui agar rencana dijalankan, sebagai perjumpaan akhir dalam meeting sekolah hari Rabu ini aku meminta agar Ilham segera memberikan print out rancangan konsepnya, aku ingin tahu apa yang akan dilakukan orang-orang itu sesaat setelah konsep itu akan kububuhi tandatanganku dan ayah. Pasti ada rencana kedua yang belum kuketahui, Rea benar aku harus terus waspada karena semua orang tidak dapat dipercaya termasuk dia. Kita datang ke dunia ini sendiri, pulang pun harus sendiri, kita harus bis hidup sendiri selama kita berada di dunia.
Terkadang bocah yang selalu membuatku merasa risih dan cemburu itu memiliki hal yang membuatku terkagum dan merendah.
Seseorang menyodorkan minuman kaleng dingin kepadaku, aku meliriknya, Iqbal. Kemudian dia duduk agak menjauh dariku agar tidak seorang pun mengira ada hubungan terselubung antara kami selain sekedar hubungan seorang guru dan murid. Aku terenyuh ini semua karena ulah ayah, semestinya aku menjadi orang biasa saja, seharusnya mereka tidak perlu menghormatiku sedemikian rupa agar aku meminirkan belas kasihan dan mau mengabulkan apa yang mereka inginkan. Biasanya orang yang datang kepadaku, membuat suatu kebaikan memang akan selalu meminta imbalan.
” Ada yang ingin kukatakan, soal Ilham,” Iqbal memandang gulungan benang yang kugenggam untuk dirajut. Serambi memainkan kaleng minuman yang sudah kosong, dia mulai menenggak kalimat kecil sebagai pembuka.
” Bicara saja, aku tahu, semua orang selalu menginginkan sesuatu saat menemuiku, jadi tidak usah sungkan,” Jawabku enteng, dia nyengir, seperti terderap bahorok dadanya tersembul keluar. Dia memutar tubuhnya setengah sudut lurus, atau sebesar sudut siku. Lalu bertanya apa maksudku, aku tidak menjawab karena kebiasaan lelaki hitam manis yang memiliki dua adik perempuan itu adalah mempertanyakan hal yang sudah dipahaminya.
” Saat itu kami sedang duduk berdua, kami membicarakan Rea yang sangat menyukainya, sikap Rea yang berlebihan, atau cara Rea menatapnya. Kamu tahu mereka sering pergi ke bioskop untuk menonton film-film komedi, Ilham diam-diam menyukai Rea. Awalnya memang seperti rasa sayang terhadap adiknya, tetapi mereka tetaplah seorang lelaki dan perempuan. Tidak menutup kemungkinan jika suatu saat mereka akan saling menyukai sebagai seorang lelaki kepada seorang perempuan dan begitu sebaliknya.” Aku mengkerut kening. Napasnya mulai tersengal sebab terlalu lama bicara dan mengurap kalimat tanpa jeda.
” Apa- urusannya- denganku.” Jawabku agak terbata, diluar itu aku lebih tidak mengerti dengan pemikiran Iqbal. Dia  melompat berdiri, mencoba menengahi agar perbincangan kami tidak terlalu menjurus pada urusan Ilham dan Rea saja.
” Aku hanya ingin bisa nonton berdua seperti yang mereka lakukan, setidaknya, sekali saja.” Beberapa tanda koma yang mematahkan penyampaian dialog Iqbal menjadikan ketidak mengertian dalam diriku semakin menumpuk. Mataku berputar-putar tak tentu arah, sebelum akhirnya tertunduk menatap tanah yang terpijaki kaki Iqbal meretaskan semua maksudnya dengan,
” lupakan saja, hari ini aku terlalu suntuk, semua guru membicarakan renacana akhir pekannya, aku hanya bisa diam mendengarkan.” Aku mengerti.
Iqbal sudah menjadi kakak bagiku, setiap kali aku mendapat masalah dia selalu memberiku solusi untuk memecahkan hardtrouble tersebut, jika ingin membalas kebaikannya kurasa ini adalah waktu yang tepat.” Aku akan bilang pada Rea, supaya sekali-kali mengajakmu.” Sudah kucatat dalam agenda, aku bisa dipercaya belakangan, daya ingatku menjadi sangat sempurna akibat jam agenda pemberian Agung. Iqbal yang mendapatiku mencatat sesuatu  pada fonografclock-ku berdaun tua, menampik tanganku dengan mata  zimologis.” Kamu berpikir apa? Aku tidak memintamu mengatakan pada Rea agar....”
” O, bagus, kalau begitu bicara saja sendiri padanya.”
” Ya ampun!”
Dia melipat lidah, dan menyembunyikan separuh wajahnya dalam sebilah tangan yang terbentuk seperti tangan seorang kasim.
***


















Pertama, entah sejak kapan, tetapi begitu kami keluar halaman rumah seorang lelaki duduk di beranda depan untuk menunggu. Bi Fatonah, atau Bi Nah mengabarkan kedatangannya padaku, katanya seseorang sengaja duduk dalam keranjang rotan untuk menungguku,” Saya, Bi Nah ndak salah?” ucapku meyakinkan, tentu saja tidak ada orang yang sepagi ini mencariku, kecuali seseorang dari mesjid yang meminta sumbangan.
” Siapa?” Tanyaku lebih mendalam dan untuk meyakinkan diri bahwa itu hanya orang mesjid, isi meja makan kami adalah seduhan teh hijau milik Kak Sigit dan setumpuk roti lembas kesukaan Rea. Semua memandangku, Kak Sigit, juga Rea.” Lihat saja, jangan-jangan ada orang yang sedang perlu denganmu.” Kak Sigit bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Bandung. Tahun ini jika uang tabungannya terkumpul sesuai rencana ia akan membangun ruah sakitnya sendiri, sekedar untuk menunjukkan bahwa dia dapat menyaingi sosilalitas ayah. Juga dapat menggunakan uangnya sesuai fungsi semestinya.
Rea hanya diam tidak mencampuri perbincangan kami. Dia lebih memilih diam dan meneruskan menghabiskan makanannya. Aku segera keluar, aku berharap ini benar-benar penting dan mendesak. Aku lebih suka seseorang yang datang kepadaku sepagi ini tidak sekedar membuang waktuku percuma, memang karena sangat memerlukan bantuan.
Seperti yang dibilang Bi Nah, orang itu duduk di sebuah keranjang rotan yang baru dicat ulang dengan plitur. Kelihatannya dia sedang menata suara dan merancang kalimat yang pantas untuk menjadi kalimat pemula, di tangan kanannya kulihat sebuah kertas resi pembayaran listrik sengaja ditulisi sebuah syair, terlipat seadanya. Potongan rambut dan bentuk kepala yang kukenal, aku mengawasi setiap gelagatnya, sejak tadi aku memang sudah megira kalau...
” Tyah,” Ghani, dia menyapaku seolah kami sudah terbiasa dengan keadaan serupa. Aku memutar otak, kembali berpikir untuk apa dia datang kemari.
” Kemarin aku temukan kertas resi pembayaran listrik ini di laci Bu Din, aku pikir...” aku meraih kertas itu, kemudian berpura-pura terlihat sibuk melihatnya, tagihan dalam jumlah besar, tapi bukan itu masalahnya,” ... memang tidak ada apa-apanya, tapi saat ku baca bagian belakang kertas itu... sepertinya Bu Din sengaja mencatatnya untuk memberi tahu seseorang yang menemukan kertas itu.” Aku terpancing, dan mulai memasang telinga baik-baik.
” Bu Din ingin memberitahukan bahwa dia sedang mengalami dilema. Dia sudutkan oleh urusan keluarga yang harus segera di selesaikan untuk menutup kesusahan lainnya,” aku semakin tidak mengerti.” Kau tahu ‘kan putri pertamanya kuliah di Universitas terkenal di Jakarta, untuk membiayai tagihan kuliah putrinya, makan sehari-hari, uang sekolah anak keduanya, semuanya mengandalkan dirinya,” Ghani menyodorkan selembar kertas bukti pembayaran dari kantor pos padaku,” Bacalah,”
Itu sebuah penawaran, tergantung padaku apakah menerima atau menolak, tidak ada yang melarangku jika seandainya aku memilih kubu yang memusuhi anak itu, mereka berjanji membantuku menyelesaikan masalah ini dengan cepat. Agar pening dikepalaku segera buyar tak bersisa, tapi berkhianat itu adalah oposisi prinsipku. Aku sendiri tidak suka dikhianati bagaimana orang lain, bantu aku, saat ini aku tidak punya seseorang yang dapat kujadikan dinding untuk bersandar, Tuhan Yang Maha Kuasa..
Lalu aku mengangguk,” Sepertinya itu rencana mereka,” membuat semua orang yang dekat dan akrab denganku bergabung dengan mereka untuk melumpuhkanku, ini memang cara termudah, dan tingkat akurasinya sangat membusur tepat sasaran jika berhasil. Benar-benar licik, tetapi kelicikan tidak perlu dibalas dengan kelicikan, sebab aku berbeda dengan mereka.” Rencana siapa?” Tanya Ghani,
” Bu Din pasti ijin untuk tidak masuk mengajar hari ini, kau tahu rumah Bu Din? Antar aku ke sana.” Lekas setelah memintanya mengantarku aku berlalu meraih tas sekolahku, bulan ini aku tidak mengirimkan cerpen dan sajak tepat waktu, aku terlalu sibuk, sementara uang tabunganku berkurang karena banyak pengeluaran seperti membayar gaji guru dan karyawan sekolah. Namun demikian setidaknya aku memiliki sesuatu yang dapat dijual, aku tidak berani menjamah jatah alokasi biaya bulan ini. Jika kuberanikan maka hanya akan mempersulitku.
Ghani memboncengku ke sebuah tempat langganan, biasanya di tempat ini dia menjual setidaknya beberapa barang berharga yang sudah membuatnya bosan. Pemilik tempat jual beli barang bekas merupakan kenalan.
Pertama Ghani menyapa lelaki berusia lima puluh sembilan tahun tersebut, kemudian memperkenalkanku sebagai teman dekatnya, sambil tawar menawar harga dia menceritakan banyak hal mengenai masa kecil kami yang samasekali tidak ada menariknya. Di dalam percakapan terkadang mereka saling menertawakan hal yang tidak lucu, mungkin, itu sudah menjadi kebiasaan. Bapak tua yang menyebutkan nama Suto itu memberi patokan awal dengan nominal lumayan rendah,” Dua ratus deh,” Ghani tertawaa lebar seraya menepuk lengan pahanya, giginya terlihat menggegat.
” Jangan bercanda Mat Uto, itu setidaknya laku lima sampai delapan ratus ribu jika digadaikan..” Ghani mencoba meminta tambahan harga, dia seperti sudah sangat sering mendapatkan harga yang sesuai untuk barang yang dijualnya, aku tidak banyak berkomentar, kecuali sesekali melihat isi dua wajah yang sedang beradu kalimat dagang di depanku, kubilang aku gadis pendiam nomor satu. Di kelas kami Ghani merupakan siswa terpandai dalam hal penjualan, paling komunikatif dan kreatif menciptakan ide. Perkara menawar nilai suatu barang adalah masalah kecil.
Axus besarku itu setidaknya jarang kusentuh, karena dia terlalu besar untuk dibawa, tidak praktis. Aku lebih sering menggunakan lenovo sepuluh inch-ku untuk mengisi hari-hari biasaku.
Ghani mulai melirikku bulat pepat.” Kau minta berapa untuk laptop besar itu,” aku mengedik bahu, biasanya dia akan memikirkan sendiri berapa harga yang pantas untuk menebus laptop itu.” Aku tidak tahu terserah kau saja.” Jawabku ringkas tanpa beban.
Sedikit kesal dia mengelap hidungnya dengan napas rendah, aku melihat itu sebagai ejekan, aku mengerut kening.
” Bisa tidak kita bilang kalau kita butuh satu juta kita tidak punya waktu banyak, sebelumnya kita juga harus sampai di sekolah tepat waktu.” Itu, kalimat terpanjang yang pernah kuucapkan. Tepat ketika kusadari semuanya aku membungkam bibir dengan sebilah tangan. Ghani yang terheran mulai membuatku menyurut dalam bentuk tubuh yang tinggi, betapa lebih kurus dan kerdilnya aku.” Dia kembali melempariku menggunakan tatapan minim.” Satu juta boleh nggak Mat,”
” Kamu sengaja mau membunuhku pelan-pelan Ghan,”
” Nggaklah Mat, masih jauh dari itu kok, ayolah Mat Uto kan orang kaya? Cuma segitu pasti enteng saja.” Ghani meruap dialognya dengan bubuhan rujak lelucon. Aku tertawa kecil, mereka melihatku bergantian, terutama Ghani. Seolah saat ini aku membuat sebuah pertunjukkan spektakuler yang mengundang jutaan manusia untuk menumpahkan sedikit waktu untuk memerhatikan hal yang langka dari diriku.
” Tidak apa jika Mat Uto memberikan separuh dari harga yang kami minta,” agar menghemat waktu aku mencoba menengahi.
” Apa katamu, dia si besar yang menghasilkan bagimu, tidak mungkin kau membiarkannya jatuh ditangan Mat Uto dengan harga seminim itu, ditambah lagi kau jarang memakainya, dia masih sangat bagus.” Aku mengerling pada Mat uto, dia sudah tua, apalagi kecuali ksihan tidak ada lagi hal yang bisa kubaca darinya, aku gampang berbelas kasih saat menampak seseorang dengan usia yang tidak muda lagi berjualan dan ditipu banyak pembelinya seperti dia.
” Jangan melihat karena dia tua, sebenarnya, rumahnya lebih besar dari rumahmu, bisnis jual beli barangbekasnya berhasil sampai dapat menyekolahkannya lagi ke Strata tiga Ekonomi, dia calon Doktor yang kejam, lebih penipu.”
” Hei jangan menghasud, dia membohongimu Nak,aku adalah orang yang penuh penderitaan, istriku kabur dengan laki-laki lain karena aku tidak mampu memberinya barang mewah original, aku selalu memberinya barang bekas, makanya, wanita itu pergi dengan teman selingkuhannnya.” Gusi Pak Tua itu bergetar, serambi mengusap air yang merembesi pipinya.” Aku malang ‘kan..” putusnya.
” Sudahlah beri kami satu juta, uangmu terlalu banyak untuk makan sendiri  sehari-hari dan tabungan bayar kuliah keprofesoran, jangan muntab Mat, serakah itu tidak baik.” Aku melotot pada Ghani, dia malah tersenyum tak terbebani. Mat Uto sebelumnya sedang berpikir panjang, aku menepuk punggung Ghani tanpa segan.
” Kau ini,”
Tetapi tidak lama setelah itu Mat Uto mengiyakan, dia mengecek semua isi laptopku dan memindahkan sebagian naskah penting ke dalam flashdisk milik Ghani. Kemudian kami berlalu aku sangat berhutang budi pada dua orang itu, karena mereka tidak membutuhkan banyak waktu untuk berpikir mau membantu. Khususnya Ghani.
***
Bu Din menyilahkan kami duduk, tepat seperti dugaanku guru sastra Indonesia kami meliburkan diri karena masih tidak kuat membawa tubuh. Aku menyerahkan uang yang kami bungkus dalam amplop coklat tipis.” Apa ini,” Ghani sedang memandangku setengah mata, lalu menjelaskan tujuan kami.
Mulanya Bu Din menolak karena sungkan dan berpikir bahwa urusannya akan lebih runyam, Bu Din mengira bahwa aku akan menganggap uang itu sebagai pinjaman yang wajib dikembalikan dalam beberapa waktu ke depan.” Tidak, bukan pinjaman Bu, anggap saja sebagai ucapan terima kasih dari kami karena Bu Din sudah memberi kami semangat untuk belajar.” Ujarku menjelaskan, aku tidak suka membuat seseorang merasa berutang padaku perkara uang. Bu Din permisi ke belakang membuatkan kami air gula.” Kau bilang dari kami, bahkan aku tidak ikut membantu menyumbangkan uangku,”
” Kau memang tidak membantu menyumbangkan uang, tapi kau yang mengantarkanku menjual laptop itu,”
*
Kami memotong jalan dari gerbang, Ilham menyambutku dengan hardcopy makalah konsep yang dirapatkan kemarin. Ghani menyusul dari belakang, tetapi bukan untuk menghampiri kami melainkan Rea. Aku tidak tahu apa kelebihan Rea selain wajah yang cantik, dia membuatku semakin cemburu ketika Ghani juga ikut-ikutan mendekatinya. Hatiku menyurut, dalam kepalaku berjumbai kutukan yang membodohkanku.” Dasar bodo, mana mungkin ada seseorang yang tertarik padamu, setiap orang yang kenal denganmu memiliki maksud terselubung untuk mendekati Rea.”
Ilham berdehem seadanya, kedua dia sengaja membuatku terkabur, agar segera menandatangani makalah dan menyuruhnya menempelkan di papan pengumuman. Tetapi aku bukan tipikal orang yang mudah lengah, aku memintanya mengantar makalah tersebut ke dalam ruanganku, membiarkannya tergeletak di meja kerja. aku masuk ke kelas tanpa menyapa guru-guru yang membuat barisan panjang seperti pagi-pagi lain.” Kepala sekolah mengadakan sembahyang tarawih begilir bulan puasa ini,” ada perubahan? Mengapa tiba-tiba kepala sekolah memikirkan masalah agama. Aku hanya manggut, tidak semudah itu menyimpulkan bahwa perempuan berjilbab itu sudah berubah menjadi lebih baik. Butuh waktu untuk mengumpulkan alibi agar semua orang termasuk aku merasa yakin.” Maaf, sebenarnya kemarin aku membuat adikmu patah hati, mungkin dia sedikit berbeda hari ini.” Aku menekuk diri. Apa. Seharusnya aku senang kalau adik sepupuku terkena batunya karena sering mudah jatuh cinta.
Aku memutar pandangan dan tubuh, lalu Ilham tampak takhluk dalam ekspresi penuh rasa bersalahnya.” Bagaimana bisa?” Kataku mengurap hatinya, sengaja untuk sekedar membuatnya angkat suara.
” Dia bilang menyukaiku, sebagai seorang pacar, itu lucu ‘kan sementara aku lebih tertarik pada ka-kaknya dari pada di-a.” Jelasnya terpatah-patah. Dia menembak jantungku tepat sasaran, rasanya begitu merasap dan membuat lubang besar di belahan urat nadi.” Anda pintar sekali. Sekali-kali Anda harus mencoba menjadi seorang wanita, dan disakiti seorang laki-laki yang Anda cintai, hanya sekedar agar Pak Ilham tahu apa yang Rea rasakan saat ini.” Aku memutuskan percakapan lalu bergegas pergi.
Ghani tampak sedang menghibur Rea, siapa lagi yang perhatian pada Rea selain Rama dan Ghani, mereka memang selalu membuat semua keadaan terlihat hebat mirip sebuah kompetisi perebutan hati seorang gadis. Pelahan, Ghani menenangkan isak tangis Rea yang tersedu. Rea sendiri berusaha mengesapkan dadanya agar tidak terlalu sakit saat teringat ucapan penolakan dari Ilham.” Awalnya aku sudah menata hati dari rumah, kalau Pak Ilham menolakku, aku akan terima dengan sportif dan hati dingin, karena perasaan tidak dapat dipaksa, namun kenyataannya, setelah aku masuk mobil ada perasaan hebat mengunci pikiranku menjadi buntu, dan malah menyalahkan Kak Tyah.”
Rea bilang aku tidak tahu menahu masalah patah hatinya, itu membuatku beljar mengendalikan emosi darinya, aku tersentuh, setidaknya Rea tidak seburuk yang kubayangkan, dia memiliki kepedulian yang tinggi terhadapku. Aku mengecil dalam postur tubuh yang makin meninggi setengah senti setiap sebulan sekalinya.
” Tapi, ketika Pak Ilham menyebut namanya, itu sudah cukup membuktikan bahwa... Kak Tyah yang sengaja merebut Pak Ilham dariku. Seharusnya dia bisa menilai berapa besar usahaku untuk mendekati Pak Ilham, lalu menimbang rencana busuknya itu.” Jantungku berdetak sungsang. Aku diam, dalam diam itu aku tidak banyak berpikir selain hanya ikut menyalahkan diri.
Tidak terjadi pembelaan setelah itu, Ilham hanya selalu menunduk jika berpapasan denganku. Di kelas pun, kami jarang saling bertaut tatapan, sementara Rea sangat membenciku karena menurutnya aku yang merebut Ilham dari tangannya.
***








Aku sedang gila,
Sejak kesalahpahaman yang diciptakan Ilham, Rea jadi jarang sekali menyapaku saat kami berada dalam satu ruangan pun dia lebih banyak memilih untuk diam daripada banyak bicara tanpa dasar seperti biasa. Isi meja makan kami menjadi duruk, jika saja aku tahu apa yang membuat kami menjadi lebih dari sekedar menjauh, aku akan segera memperbaikinya tanpa banyak mengeposkan surat lewat mata.
Kebiasaanku adalah melihat kondisi seseorang dari sinar matanya, tetapi terkadang aku tidak sadar bahwa cara lama itu tidak efisien waktu. Aku terdiam. Jika Kak Sigit menengahi keadaan di antara kami aku tidak akan banyak menyelahi, karena dia satu-satunya orangtua di kediaman ayah kini, setelah ibu pergi, ayah membeli rumah dan membangun yayasan panti asuhan kecil di daerah Pyong Pyang, dan dia melanjutkan kuliah di Seoul, tidak ada lagi yang bertindak sebagai mediasi penenteram di rumah kami. Semua orang ribut dengan urusan dan pekerjaan masing-masing.
Rea mengunyah makanannya tanpa melihat ke arahku atau pun ke arah Kak Sigit. Kembali situasi sepi mengedapi ruang di antara kami, aku mengendap dalam posisi kucal wajahku yang berias ketakutan. Sebenarnya aku ingin sekali menjelaskan sesuatu, bahwa semua perkara yang terjadi pada anak perempuan yang usianya sehari lagi bertambah menjadi tujuh belas tahun itu tidak ada kaitannya denganku. Aku berusak, dingin yang kian membeku merajuk diri untuk menebas pikiran. Kepalaku terasa sesak, nelasak, dan berangus seperti anjing kehilangan akal.
Namun demikian, kami tetap duduk satu mobil dengan supir yang sama. Agung menyulap jok-jok kami penuh dengan gurauannya, kami sengaja menerimanya sebagai salah satu bentuk terapi ego. Terlebih bagi Rea, dia senang bahwa setiap harinya dia terhibur banyak hal yang di ciptakan orang-orang yang menyukainya. Rama, Agung, Kak Sigit.. Ghani. Pantaskah dia menuduhku merebut Ilham, jika sebetulnya dia tahu sebab kelebihan yang dimilikinya, aku yang terluka secara perlahan tetapi tidak pernah terlihat dengan jelas karena memang sengaja aku sembunyikan. Jika saja dia menghitung berapa banyak orang yang memerhatikannya, sepertinya dia tak akan memiliki asas untuk menuduh dosa yang tidak kuperbuat padaku.
*
Terjadi sesuatu di koridor kelas multimedia,
Setidaknya ada lima laki-laki yang membentuk barisan kecil melingkari,REA. Apalagi yang sedang terjadi, aku tidak ingin tahu. Selain pengemisan cinta pada dara cantik yang merupakan adik kesayangan kakak kandungku apalagi? Masing-masing lelaki itu adalah teman sekelasku, Rama, Runas, Ditko, Sangka teman sekelas Rea, dan Ilqo. Mereka tampak bodo, merendahkan diri di depan semua orang gara-gara cinta sama saja dengan melorotkan harga diri ditatar oleh tumpahan hujan duri, jika di tolak timbul kecewa dalam jumlah besar dan melingungkan, jika gagal muncul rasa malu hebat yang dapat melelehkan hati menjadi terebus gerusan dendam, di situlah letak keburukannya.
Jika dendam tersebut berkelanjutan maka dapat ditebak betapa berkelitnya urusan kita dengan satu hal sepele yang membawa pengaruh besar pada manusia yang menerima tawaran untuk mengalami perasaan tidak penting itu. Mungkin ini sebabnya aku takut mengakui bahwa jika aku sedang tersenyum memandang Ghani, atau Agung, menyebutnya sebagai salah sisi organ cinta, aku lebih nyaman memanggil perasaan tersebut sebagai kekaguman semaya.
Aku terduduk menyepi dari keramaian, mengunci pintu ruanganku rapat-rapat, menghadap pada monitor komputer dan bersikap sok sibuk. Memutar-mutar kursi dari satu arah ke arah lain, separuh hatiku absah dengan hati yang panas, seperempatnya ialah pikiran buruk yang menghunjam, seperempatnya lagi merupakan imun yang mempertahankan pikiran-pikiran baik di antaranya.” Apa yang kupikirkan, sudah seharusnya semua orang hanya menyukai Rea, selain cantik dia juga sangat menyenangkan. Dibanding denganku,” kataku mengumik sendiri tanpa lawan bicara.
Diluar gerimis menerjang, atap teras menjadi bangas dari cuaca sebelumnya, tetapi meskipun tetumbuhan sedang basah oleh titik air langit, hatiku tetap kering oleh jutaan cemburu yang tak pernah sudah. Aku menutup kedua mataku, setelah ku tahu beberapa tetes menerobos jonjot pipi, aku baru sadar bahwa Rea benar-benar sudah membuatku sakit.
” Katakan, apa yang harus kulakukan, saat ayah kembali dari PyongPyang pun bukan keadaanku yang ditanya, melainkan memamerkan kekawatirannya terhadap Rea kepadaku, tidak wajarkah jika aku menganggap Rea penyebab semua hal dari diriku timbul? Menjadi arogan, mudah tersinggung.” Jika aku tidak salah mengingat, begitu kedatangan Kak Sigit nampak di hadapanku, sampai sekarang pun tak kudengar dia bertanya apa keadaanku baik-baik saja, atau...dia malah melengos mencari tubuh pagi milik Rea.
Kenapa Rea? Kenapa harus dia yang menjadi bagian terburuk dalam hidupku, aku sudah kehilangan ibuku, barang-barang yang kumiliki sejak kecil, kehilangan ayahku sekaligus kakak kandungku secara perlahan. Lalu apalagi?
*
Aku tak ingat kapan dia masuk, tetapi wajah berahang kuat milik Agung tergantung diantara dua kursi tamu yang berapa hari lalu di ubah menjadi menghadap jendela luar. Dengan senggu wajahnya berseri, aroma manis dirinya tersebar ke seluruh tempatku, aku tidak menyilahkannya masuk, kecuali hanya diam melihat ke arah si wajah bersih itu,
” Setidaknya, aku ingat kalau ini punyamu, tertinggal di jok saat Rea mengambil tasnya, seperti biasa kan? Dia merebutnya dari tanganmu.” Sebuah jam tangan bermuka miki muose dijulurkannya padaku, aku berdiri, menghampirinya menggunakan sepasang kekesalan dan perasaan kurat-karit.
Tidak ada kalimat yang tertulis di kepalaku, aku memandang bahu tebalnya. Ada kekuatan magis yang menarikku, rasa yang tidak karuan begitu hebat tiba-tiba membungkam diri mengempaskannya dalam dada pria dua puluh dua tahun yang bau matahari tersebut. Entah apa yang membuatku membuang sisa rasa malu sejenak, tetapi seperti ini menjadikanku merasa sangat nyaman, tidak ada kesal, tidak cemburu membelukar, yang ada hanyalah tumpukan ketenangan yang sama besar dengan ketenteraman saat melakukan meditasi, atau mengolah hati dengan senam semacam yoga. Namun ini lebih dari semua itu, dada Agung yang beraroma sejuk sangat ampuh melipat egoku. Dia tidak protes saat aku melakukannya lebih dulu,” Sebentar saja, aku tidak akan lama,” ucapku dengan nada yang sangat datar, sebagai hidangan penutup kedua lengan bawahnya merangkulku
***






















Sore itu hujan,
Aku sedang menganyam tikar di rumah Bi Nah, tidak jauh dari teras depan rumahnya adalah sebuah warung kecil yang  menjual aneka jajanan pasar. Aku sering ikut pulang ke rumah ini, jika tidak banyak orang di rumah dan Bi Nah meminta ijin untuk mengambil beberapa lembar baju sebagai ganti, aku memiliki banyak hal dari hal-hal yang dimiliki rumah ini. Misalnya, aroma pandan kering yang selalu menemani tidur Bi Nah, suami dan anak-anaknya setiap malam, aliran air bambu yang wangi yang sering orang-orang gunakan untuk mandi dan wudhu, suara burung saat subuh  berganti pagi, aku suka tinggal di tempat ini. Rasannya saat aku berada di tempat ini, aku sedang lupa bahwa aku harus melakukan ini itu dalam beberapa waktu.
Itu sebabnya, saat ini aku sedang termangu duduk sambil menopang dagu, melihat isi sekeliling rumah yang tengah di taburi tetesan air hujan yang besar, mengawasi segalanya yang menjadi tempat favorit orang di sini. Misalnya, waduk rekayasa kecil yang mereka sulap menjadi tempat pemandian masal. Setiap hujan turun seperti ini semua anak lelaki bersama dengan bapaknya masuk ke dalam waduk untuk mencari ikan mujaer, mereka begitu lucunya melompat gaya katak, aku kerap tertawa sendiri dalam momen berharga mereka. Terkadang bersama tempat ini aku menjadi merasa tidak terpinggirkan, aku dihargai sebagai anak perempuan biasa, mereka memperlakukanku seadanya, tidak ada yang sesuatu yang sengaja dibuat-buat. Nasi di sepiring daun pisang, gaya bicara yang mengalir sewajarnya seorang kepada temannya, atau seorang tua pada yang lebih muda.” Ayah...”
Agung menoreng dirinya menjadi berlumut daun bunga mawar, dia mencoba menghibur diri sendiri yang terlalu tertatih dibuat runyam dengan tugas menyusun tesis semester akhir program kesarjanaannya. Aku menghunjam mata, ketika semua orang sedang memerhatikan tingkah laku Agung, aku mengambangkan pandangan jauh keluar tempat yang sepi. Hujan yang berasak di tengahannya selalu kubayangkan, aku bermain api sendirian dengan tangan dan  hati yang terluka, lalu menangis seperti saat kehilangan ibu.
” Kau berjanji padaku untuk minum jamu buatanku seteguk saja,” dera Agung seterap wangi jamu kencur jahenya. Seperti biasa, beberapa keping jahe dan empuh kencur yang direbus di sebuah kendi kecil selalu ia sebut jamu. Padahal kata Bi Nah jamu itu dari empuh-empuh rempah yang diparut, diberi madu dan sedikit garam sebagai pemanisnya, Bi Nah paling jago dalam membuat jamu, setiap jumat malam sekali dalam seminggu Bi Nah akan menyuguhkan secangkir jamu kunyit asam atau kencur sirih di meja wakas kamarku, aku tidak tahu ada yang menyuruh atau itu usulan dari diri Bi Nah sendiri tetapi dia selalu bilang untuk menjaga kondisi tubuh cara natural lebih manjur untuk diandalkan.
Aku tertegun, sari kencur jahe dengan jamu kencur jahe itu jelas perbedaannya, sari jahe buatan Agung hanya berupa air berwarna sedikit keasaman dan berasa pedas, sengaja tidak diberinya madu atau perisa lain agar menurutku jamu adalah momok yang wajar untuk dihindari. Aku diam. Tetapi setelah itu lelaki perisai itu menyodorkan air yang disebutnya jamu kepadaku, kini, mau tak mau harus kureguk sedikit saja sesuai perjanjian. Aku tidak ingat pernah bersumpah meminum jamu buatannya, kembali sambil memutar memori aku meraih gelas dari tangannya. Terbentuk serat-serat dalam gelas milikku, seperti sebuah garis tanpa batas jika gelas ini hanya sebuah silinder sepanjang pipa paralon selokan umum, sedikit berpikir, kalau harus merenyamnya, betapa seram rasanya.” Aku tidak ingat pernah bersumpah untuk minum jamu buatanmu, kapan ya?” Arahku, benar, aku sedang sengaja, kata lainnya mengulur waktu agar tidak mengalami penderitaan secepat perkiraan siapapun.
” Jangan mengulur waktu, cepat habiskan! Setelah itu kita bergabung dengan mereka,” Tunjuk Agung ke tempat dimana danau tergeletak umum dan seding dipenuhi warga setempat. Sial, Agung lebih kritis dari hipotesisku, mengapa selalu mengerti bahwa aku sedang ingin mengulur waktu. Matanya membuang sesak, aku ingin mengakui bahwa nyaliku sangat sempit dan tidak sesuai sikap arogan yang tersiar cepat ke seluruh tempat yang pernah kupijaki.
” Ya, setidaknya hanya untuk membuktikan bahwa, kau salah mengartikan jika aku tidak berani meminum soda gilamu,” tatapan lelaki perisai tersebut beralih, menjadi sangat narsuk(nanar dan menusuk) dan tidak terelahkan oleh apa pun.
*
Dalam hujan yang deras dan keronta, aku menari-nari. Mengikuti apa yang dilakukan semua orang, berhangtuah, bernyanyi sekeras guntur, dan mengecipak air belumbang yang menyerupai lumpur kokain keruh dan penuh virus jahat. Sejenak, tidak ada kesalahan pada apa yang sedang kulakukan, aku senang dan begitu menikmati, setidaknya untuk beberapa menit aku harus tahu bagaimana orang kecil berlari di atas kerak bumi yang kejam ini dengan cara yang sederhana dan sahaja. Aku tertawa sesekali setelah saling berbalas menjatuhkan ke jalan berecek, ya, Agung dan aku.
***











Hari yang tidak pernah berasam sulfat,
Terlalu banyak kejadian aneh hari ini, beberapa tatapan asing yang dibuang dari beberapa wajah kukenal terhadapku, Iqbal yang lebih banyak menyisihkan waktu untuk menemaniku memotret lapangan sekolah yang masih perawan, pengajuan proposal baru berkonsep baltik untuk pertunjukkan pensi pembukaan tahun baru di sekolah kami, termasuk masuknya seorang pengemis di lingkungan sekolah, aku tengah tergerus ketidak percayaan. Pasalnya, kepala sekolah ini adalah wanita yang alergi dengan kebaikan, pekerjaan sehari-harinya tidak lain dari mempengaruhi seseorang untuk berbuat sesuai hasutannya. Dia mengejutkanku dengan hadirnya tiga tenda besar stan makanan minuman atau hasil kerajinan siswa dan sebuah panggung sederhana menghadap jalan, hanya terhalang pagar acara yang tadinya sempat kurejek tiga kali karena acara yang dipentingkan adalah pensi.
Rea tampak sedang menggandeng tangan Agung, mereka berjalan mendahuluiku, Agung mengepakkan tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya, mirip tatapan iba, tapi aku malas menanggapi. Dia tampak terpaksa dan timbul keinginan melarikan diri yang tersamarkan oleh ambisi Rea. Semalam, dalam perpustakaan pribadi keluarga kami, Rea bilang padaku akan mencoba mengetes berapa besar rasa cinta Ilham padanya, sesungguhnya dia tahu sesuatu, mungkin dari Iqbal, bahwa Ilham sejujurnya menyukainya lebih dari menyukaiku, pendekatan denganku tidak lain hanya karena atas rencana kudeta yang dihalarkan kepala sekolah dan kubunya, mau tidak mau Ilham tidak memiliki reason yang ampuh untuk menolak perintah seniornya, dia butuh pekejaan selama hidupnya masih direndam hutang budi pada orangtua. Aku pun tidak pernah menganggap ada seseorang yang dengan tulus menyukaiku, seperti semua orang menyukai Rea, dalam pikiranku sudah tentu bahwa aku menutup diri untuk menyintai atau bahkan sekedar mengagumi seseorang setara dengan rasa cinta dan kagumku pada Tuhan.” Aku sudah memilikiMu, hanya Engkau yang tidak pernah membuatku sakit karena terluka melihatmu lebih menyintai siapa dari kaum yang Kau ciptakan, aku tangguhkan, dalam silir anginMu yang sejuk, Aku hanya akan menyintaiMu Tuhanku, aku tidak percaya bisa membaginya bahkan pada ibuku,”
Tepat sebuah wajah tergantung lemah di antara empat tiang pencakar langit di lapangan basket, tertangkap oleh kamera digitalku seseorang yang sama saja dengan yang lainnya. Ghani menghampiri tempatku sedang menjepret beberapa sisi tempat dalam bentuk gambar layar mati. Tidak, dia hanya mengambil bola basket yang melompat dan terenti dibelakangku, selain hanya menatapku menggunakan sepasang mata meragukan sesekali wajahnya tertekuk ke bawah.
***tobe continue...
Tak ada keinginan
Bunga Ariestyah



Sejak saat melihat kami dekat, Tyah suka menghindariku.
Aku lebih lama dan lebih dulu mengenal Tyah daripada Rama si pendatang itu. Saat itu, kami sedang belajar bahasa inggris berdua di taman luam. Taman tersebut adalah tempat yang sengaja dibuat orangtua kami sebagai pembatas halaman rumah, rumah kami hampir bersebelahan seandainya tidak ada gazebo yang setiap pagi hanya berisi kumpulan orang tua yang sibuk menganyam klasa. Ayahnya bernama  Dann Hutagalung, wajah ayahnya sedikit mirip syupa kebaratan, Pak Hutagalung sangat akrab dengan ayahku, terkadang setelah kami pulang dri gereja keluarga mereka akan dengan sangat senang hati mengantarkan kami ke sebuah meja dan mulai meminta kami mencicipi masakan Padang ibu Tyah.
Aku tidak ingat siapa nama belakang ibunya, tetapi semua orang sering memanggil ibu Tyah menggunakan sebutan Nun Wilujeng. Kami adalah sahabat, bahkan saudara. Terkadang jika aku tidak bisa tidur aku akan melompati jendela kamar yang belum diterali besi berdiameter lima mili itu dan mengetuk jendela kamar Tyah, kemudian kami tidur di satu sofa berukuran dua meter panjangnya. Sebelum terlelap kami saling membacakan dongeng kesukaan, bertukar cerita tadi siang di sekolah dan menggarap lukisan sketsa yang jaras, samar dan tidak beraturan bentuknya.
Ketika aku dan Tyah keluar kamar lewat pintu besar yang menghubungkan kamar Tyah dengan ruang makan semua orang sedang terkejut, aku tidak bisa membuka mulut begitu menatap garang muka Pak Hutagalung, dia membuatku takut dan merinding. Pada saat yang sama istrinya yang mempersilahkanku duduk dan mereguk sedikit sereal dari mangkuk yang diisinya dengan susu kental gurih. Menggunakan keluguan anak lelaki tiga tahun aku bisa apa selain menerima tawaran Bu Wilujeng, duduk di depan meja, lalu menikmati sarapan yang di suguhkan. Sereal coklat dengan susu gurih itu adalah sarapan kesukaan Tyah. Orangtua Tyah sudah sangat terbiasa dengan kehadiranku yang tiba-tiba muncul dari arah kamar anak perempuan kecil rumah ini dengan kaus kaki warna merah jambu berjempol, sepertinya aku sering melakukannya sampai lupa berapa kali aku mengalami kemafiaan yang sama dari wajah garang Pak Hutagalung sebab tak pernah menghitung. Kemudian dengan ke-sok tidak tahuan yang kubuat-buat aku bertanya dengan nada terbata,” Selamat pagi, Pak Hutagalung, Bu Wilujeng.” Dan mereka membalas sapaan tersebut dengan setengah hati.
*
Ketika kami sedang duduk berhadapan melihat isi taman, seseorang datang. Tyah dan aku segera melompat mengintip siapa, sepasang anak perempuan yang pertama kali keluar mobil dan masuk ke rumahnya, lalu angin berembas legit, membelang wajah yang tengah kedinginan di bawah siang. Tyah segera keluar dari taman dan melihat siapa yang terakhir kali turun mobil, seperti ada rasa penasaran yang hebat, dia bertanya kepadaku berulangkali,
” Kau tahu siapa yang datang Ghan, sepertinya mereka akan menjadi tetangga baru.” Aku hanya diam dan tak banyak berkata, selain memungkinkan pernyataan Tyah.
Dan hari itulah, saat siang yang separuhnya masih sejuk menjadi waktu yang mempertemukannya dengan anak lelaki bernama Rama Madrin, kudengar mereka berasal dari tempat terbentuknya Gerakan Aceh Merdeka. Tetapi gaya bicara mereka tidak berlogat sebagaimana orang Aceh biasanya.
Menggunakan keberanian yang bulat, anak lelaki itu menghampiri kami. Mengirim sesumbar senyum sambil mengenalkan nama yang tidak pernah kami pertanyakan. Matanya berpendar begitu menatap Tyah, separuh pandangannya merupakan tulang  belikat yang sedang merapuh. Aku tidak berpikir yang bukan-bukan, kecuali jika anak itu mulai membuatku jauh dari Tyah. Model rambutnya adalah potongan favoritku, cepak dan seperti kelemis gel rambut, aroma tubuhnya basah dan ganda. Aku juga senang jika dia bersedia menjadi teman kami.
” Kalian tahu , suasana di tempat ini sangat mengagumkan? Ada banyak sawah yang berasak oleh sayuran yang sengaja di tanam di lahan tumpangsari, para petani perempuannya sangat telaten mendedar bibit padi membentuk barisan.” Kami berdua terpancing, Tyah sangat bersemangat mengomentari kalimat Rama, kemudian dia  mengalihkan pembicaraan dengan mengenalkan musim panen kacang tanah di tempat kami. Benar, setiap musim kacang setelah panen para petani berakhir kami satu sekolah biasanya menghabiskan waktu menggali lubang demi lubang dan mengais kacang yang masih tertinggal, semester depan seusai ujian momen tersebut menjadi hal yang sangat dinantikan.
” Bahkan ada lebih banyak dari yang kau tahu, seperti proses fermentasi tempe yang unik, kami saja baru tahu kalau ada tempat pembuatan tempe yang menjadi gugus baru yang menarik di desa ini.” Suguh Tyah, aku tersenyum, karena hanya itu yang bisa kulakukan. Hanya agar tidak terkesan aku merasa terganggu dengan keberadaan Rama di antara kami, meski sebenarnya aku lebih terganggu dari kelihatannya.
Aku sedikit takut kalau akhirnya Tyah lebih memilih banyak memerhatikan Rama si pendatang itu daripada aku, kalau itu terjadi aku bisa mati semangat.
***









Hari ini usia kami bertambah menjadi sembilan tahun,
Kami tidak berdua lagi, sekarang kami bertiga. Dan kekuatiranku soal Tyah yang akan menjauhiku terjadi beberapa kali tanpa pertanda. Pertama dia menolak ikut denganku ke taman luam untuk belajar matematika bersama, sebetulnya tanpa kuajak pun seharusnya dia datang sebab sudah menjadi rutinitas kami jauh sebelum Rama datang menjadi anggota baru dalam hidup kami, akan tetapi dia malah memilih datang ke tempat Rama dan mengajarinya membuat stek mawar yang baik, aku bisa apa? Sementara semua orang tahu bahwa Tyah adalah orang yang tidak mudah diyakinkan kalau tidak mengalami sendiri hal yang dia anggap merugikan waktunya. Kedua dia terlalu percaya bahwa Rama adalah seseorang yang akan dapat mengajarinya banyak hal, aku tidak mengerti.
Dua tahun setelah Rama datang dan merebut Tyah dariku, ada pertambahan anggota keluarga di rumahnya, sebuah mobil kijang merah hati, di masa kami mobil tersebut adalah mobil termewah, ketika ayah Tyah membeli dan membawanya pulang dari Jepang, semua tetangga berdatangan untuk melihat kehebatan mobil tahun 90-an tersebut. Pada saat yang sama kami sedang mengulang pelajaran yang diajarkan guru tadi siang, guru SD kami merupakan guru favorit Tyah, namanya Saudah seorang perempuan yang selalu tampil teatrikal saat menyampaikan sebuah materi kepada kami. Tyah paling suka pancaroba mimik wajah bu Saudah yang begitu dinamik tanpa jeda.” Ketika Bu Saudah memainkan wajahnya, itu yang paling membuatku terkagum dan melipat lidah, seolah ada sesuatu besar yang membungkam bibirku, aku tidak bisa apa-apa selain menikmati suasana yang dikuasainya.” Ulamnya begitu aku bertanya mengapa dia bersedih jika Bu Saudah tidak datang untuk mengajar karena sakit, sementara semua teman sekelas sangat girangnya.
Seorang anak perempuan turun dari kijang merah hati milik Pak Hutagalung itu, rambut yang terikat satu oleh sebuah jepitan warna kuning, bibir tipis yang menawan, sepasang mata yang giris oleh sepasang pipi lesung, saat ia memasang senyum, semua orang, termasuk aku berdiri memandangnya sepenuh hati. Aku tidak tahu apa, tetapi Rama dan aku memiliki perasaan yang sama saat anak perempuan itu menyapa kami. Kecuali saat dia mengulurkan tangan perkenalan pada Tyah, arah pandangan kami menjadi tertuju padanya, Sigit, kakak kandung Tyah, Rama, termasuk aku. Kecuali jika wajah Rea sangat dingin dan semistis milik Tyah, mungkin aku akan lebih tertarik dari yang kulakukan saat ini.
Senyumnya menebar ke seluruh sisi, aku tidak melihat ada kepalsuan meliputi isi mata Rea, jadi ketika Rea tiba hingga dia mengenalkan diri tidak ada keinginan untuk berpaling atau menghindar untuk tidak memerhatikan anak yang usianya bertekal dua tahun dari usia kami. Kemudian kami duduk berlima, masing-masing dari kami saling bercerita satu sama lain, selain Tyah tidak ada yang lebih kuperhatikan, menurutku, tidak ada yang lebih  menarik untuk diperhatikan daripada anak perempuan Hutagalung yang selalu memelihara rambutnya agar tetap sebahu itu, menggunakan wajah yang digayuti kesederhanaan, caranya berbicara, caranya menilai apa yang dilihatnya atau apa saja yang membuat dirinya tertarik, tatapan yang selalu beku dengan keteguhan, isi mata yang selalu tidak bisa menipuku bahwa dia sedang senang, sedang sedih, sedang cemburu, sedang marah, sedang tidak bergairah, sedang bosan..., aku menyukainya.
*
Dan hari dimana anggota keluarga mereka bertambah secara resmi sebab disaksikan banyak orang, saat itulah perubahan dalam diri Tyah bermula. Dia lebih sering memilih mengunci diri di dalam kamar atau perpustakaan rumahnya, lalu meminta supaya semua orang tidak mengganggunya kalau dia sedang ribut mengurusi buku-buku kesayangannya. Ruginya bagiku adalah, aku tidak bisa bermain gundu, dakon, atau  belajar bersama dengan si juara kelas itu.
Tidak hanya larangan bagi semua orang untuk menemuinya di rumah saat jam santai, tetapi juga saat kami berdua saling bertatap muka dia lebih sering memilih untuk berpura-pura tidak melihat atau mengenalku, aku tidak tahu apa masalah sesungguhnya, tetapi jujur aku sedikit kecewa dengan perubahan sikapnya. Namun demikian kami tetap duduk sebangku, kecuali pada saat guru meminta per bangku saling bertukar pikiran dalam jam pelajaran tertentu, aku tidak akan mendengar apa-apa dari mulut Tyah. Terkadang aku berpikir, mungkin saja dia iri karena seisi rumahnya lebih memerhatikan Rea saja ketimbang padanya. Lebih-lebih ayah yang dulunya serasa begitu dekat dengannya, tiba-tiba seperti menghilang karena harus memedulikan anak angkat perempuan baru di rumah itu agar merasa betah dan seolah tinggal di rumah sendiri.
Atau jika Rama sedang bersenang-senang dengan Rea, aku melihat Tyah duduk menepi pada sebuah bangku taman untuk mengawasi kegembiraan tiada terkira yang memercusuar dari kedua anak kecil itu. Aku mendapati setidaknya tiga hingga lima pukulan keras dengki yang hebat di dadanya, sekarang dia pasti sedang bergulat dengan ketidak percayaan bahwa Rama ternyata bukanlah orang yang bisa membuatnya merasa aman, tenteram, seperti jika dia bersama Sigit. Aku mendepis, sambil mengemban dada yang sama beratnya.
*
Tahun ini seperti biasa, Tyah menggondol tiga peringkat sekaligus, peringkat terbaik dalam kelas, peringkat NEM tertinggi sekolah, dan peringkat ketiga se-jawa barat. Sebenarnya mata yang sudah kehilangan binar dan serait itu bukan kali pertamanya kudapati, tetapi entah mengapa melihat dia mengurung diri setelah acara penyerahan gordon wisuda, piala-piala dan hadiah kecil sebagai insentif bagi pelajar berprestasi, ada hikayat tersendiri untuk bisa setidaknya duduk mendampinginya, memberanikan diri mengeluarkan suara dan menanyakan keadaannya.
Di bawah palem raja yang sedang tumbuh tinggi di belakang pagar pembatas sekolah dengan perumahan kumuh milik penduduk setempat, dia tersimpuh sewajarnya orang kehilangan gairah hidup, mengedapkan semua hal yang meliputi dirinya, mengheningkan situasi serta isi kepala yang kian meledak-ledak tak tentu arah. Sementara jika dia tahu, setelah acara pemotretan keluaraga besar sekolah lalu dia menghilang, semua orang sedang mencarinya, Sigit, Hutagalung, Nun Wilujeng, juga Rea. Aku tidak melihat Rama sejak pertama kali acara dimulai.
Tyah akan meneruskan studi di SMP milik kakeknya, sekaligus sebagai pengawas cara kerja para guru dan kepala sekolah yang dinilai agak mencurigakan oleh kakek. Aku mendengar rencana tersebut tiga hari sebeum nilai ujian diumumkan di aula besar, semua orang menyayangkan nasibnya, jika saja Tyah bisa sekolah di sekolah negeri mungkin namanya akan menjadi sangat besar dan bisa jadi merupakan seseorang yang diutamakan oleh berbagai pihak dalam.” Sekolah dimanapun, sama saja.” Ujar Tyah terkilah tanpa beban, lagipula sekolah swasta milik kakeknya bukan sekolah yang buruk, beberapa lulusan sekolah itu masuk sekolah menengah atas negeri dan mendapat beasiswa di universitas terkenal seperti Universitas Pajajaran, Institut Teknologi Bandung, bahkn Universitas Indonesia.
Aku terkagum, sejenak berada dalam kalimat sederhana yang kudengar dari bibir Tyah aku mengambang dalam dam belat dan tidak dapat bangun untuk menghapus perasaan kagum luarbiasa yang melesat dari sel-sel otakku. Seolah tidak ada yang dapat mengalahkan eksistensi Tyah, seluruh isi pikiranku sepertinya sudah dipenuhi namanya yang tertulis kapital dan terpapang sangat tinggi mencakar hati.
Tyah membalikkan tubuh, ketika melihatku setengah bola matanya tergerus waras dan setengahnya lagi sedang terkejut. Akan tetapi kulihat dia kembali duduk dan menikmati pemandangan yang terpajang juras di luar pagar besi, aku tahu maksudnya, dia menyuruhku pergi tanpa harus berkata secara terang-terangan. Aku tidak manggal, tidak ada orang yang seberani itu menyuruhku jika aku tidak ingin. Ya, aku adalah manusia berkepala batu yang pernah ada di dunia ini. Sekeras apa pun manusia berkepala es di dunia ini tidak bisa menandingi kepala es-ku.
Aku duduk di sisinya, menggunakan segenap wajah dan perasaan yang tertata dengan rapinya, aku sudah siap jika dia akan meludahiku lantaran kalimat pedas yang tidak pernah kuduga, aku sudah siap jika dia menyamakan diriku dengan orang-orang lain disekelilingnya yang beberapa waktu lalu terlalu banyak membuatnya merasa diabaikan. Napasnya terdengar lisut, sesekali tersedat karena angin yang mengembang mendorongnya untuk bernyali membuka sebuah percakapan. Tetapi dia adalah perempuan dengan hati selengas parang yang tidak mudah tumpul karena merasa sedang tidak enak hati. Mungkin dia akan tetap diam, sampai beberapa waktu berlalu, dan aku juga akan mengikuti apa saja yang dilakukannya, duduk tenang dan diam. Setidaknya tindakan seringan ini membuatnya nyaman dari hal terkecil merasa diperhatikan.
*
Angin mengalir tenang,
Setanggi hari yang disiari panas matahari menggugah hati untuk menatap wajah kecil berambut pendek tanpa poni itu, aku sedang mencari tahu apa yang bisa kulakukan agar Tyah menganggapku ada dan sedikitnya berbagi apa yang dirasakannya. Sementara sekali waktu aku sudah tahu pasti kalau dia sedang sedih, tidak ada tanggapan luar biasa dari keluarga atas prestasi yang diperolehnya, sedangkan dia mengharapkan itu. Rea mendapatkan peringkat kedua di kelas limanya, tetapi dia memperoleh lebih banyak tempat yang membesarkan namanya, Hutagalung lebih memilih membelai rambut putri angkat daripada putri kandungnya, aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi di dalam keluarga mereka namun ada hawa lain saat aku bertemu Hutagalung dan istrinya, seperti suasana tidak akur dan tenang seperti hal yang biasa terlihat harmonis dan mengagumkan bagi banyak mata yang menyaksikan.
Aku sedang ragu untuk memulai. Seolah ada sesuatu sebesar raksasa hanaloki yang mencegah keinginanku untuk mencampuri urusan Tyah, tetapi secara real, aku sudah memasuki masalah gadis berusia sebulan lebih muda dariku ini, jadi iya atau tidak aku memang sudah terlibat.” Kamu tahu ada sebuah tempat yang selalu menjadi tempat terindah bagi seorang Graham Bell,” kukira Tyah sedang memulai. Wajah yang terteku menoleh padaku, separuh dari hatinya sedang bertanya padaku, setengahnya lagi tentu sudah tahu bahwa aku tidak pernah tahu siapa Graham Bell, apalagi secoret hal yang terkait dengan dirinya. Karena aku bukanlah kutu buku sehebat Tyah, aku hanya suka membaca jika sedang berpura tidak memerhatikannya di dalam kelas, atau jika Tyah menyadari bahwa aku sedang melihat ke arahnya. Sebenarnya dia tidak pernah merasa keberatan jika aku melihatnya sedekat ini dengan tatapa yang berubah-ubah, sepanjang dia tidak merasa terganggu.
” Ladang gandum yang luas menguning disekitarmu, aroma sedap selai kacang yang dibuatkan ibumu, angin yang berajuk indahnya, mengaliri tubuh bersamaan dan membuatmu merasa, seperti berada dalam surga. Memang tidak ada yang tahu apa dan bagaimana itu surga, tetapi mengatakan sesuatu yang indah, mendengar sesuatu yang tidak buruk setiap hari dari bibir ayahmu, mendapatkan banyak hal yang dapat kita pelajari dari alam atau orang lain, dan bisa melihat seseorang yang kau cintai, bagiku semua itu adalah surga. Seandainya, ada ladang gandum seluas itu, selai kacang seharum itu kata-kata seindah yang dimaksud Bell,,” Suara yang lembut dan terdengar semakin dewasa, berapa lama tidak bicara dengannya, suaranya terdengar lain dan merebak telingaku denga sejuta keterkejutan.
Tampaknya, air matanya lengah menetes ke dalam dua belah pipi, dan kini kulihat dia sedang menyeka air mata tersebut dalam sebilah tangan  kiri yang berjari lentik. Di seruas jarinya tersemat cincin barmata tiga membentuk barisan melengkung, sehari sebelumnya kami memang tahu kalau kalau dia pergi ke toko emas untuk membeli dua buah cincin yang semacam, kemudian dia mengunjungi rumah kakeknya untuk melihat keadaan Nenek, mungkin salah satu diantaranya sengaja ia berikannya pada nenek sebagai hadiah. Aku tidak memungkiri, dia memang gadis yang sangat baik, hanya terkadang kebaikannya tidak pernah terlihat seimbang dengan sikap dinginnya yang seolah skak baginya sendiri. Semua orang yang tidak tahu siapa dan bagaimana Tyah sesungguhnya akan berpikiran bahwa Tyah bukanlah gadis baik yang tidak pernah punya pikiran buruk terhadap orang-orang disekitarnya, Tyah bernama komplit Bunga Riestyah itu tidak lain adalah gadis arogan yang yang dipenuhi pikiran buruk dan dengki yang sangat besar.
Tyah menatapku, kemudian tidak lama setelah itu kembali menekuk mata. Melipat lidah dan berdiri seolah sedang merasa sudah mempermalukan diri sendiri. Kemudian dia bergegas pergi, aku tidak melakukan apa-apa, selain hanya tetap berdiri di tempat tanpa pikiran positif yang dapat membantuku mencari jalan keluar dan, memandang punggung kecil berselimut mantel darkgreen yang menutupi lututnya. Bersamaan dengan panjang rok yang berkecipak, langkah gadis yang hendak berusia duabelas bulan depan terkesan menyibak perhatian. Aku diam, sambil mengutuk diri karena begitu payahnya membiarkan Tyah berlalu dengan hati yang masih dikalungi kalut luarbiasa.
*
Aku tidak tahu kemana Rama, rumah mereka terlihat sepi sehari sebelum acara wisuda di SD kami dilaksanakan. Daun-daun kering yang berserak di depan halaman tanpa pagar betis itu selalu mengotori pandangan, tidak ada orang yang mengurusi rumah mereka. Kecuali angin dan suara burung yang selalu berisik pada malam hari rumah itu sudah tidak berpenghuni lagi.
Kami berdua tetap duduk sebangku, di sekolah yang sama milik kakeknya aku dan Tyah menjadi teman sekelas dan sebangku, aku memang sengaja mengikutinya, kuakui, aku tidak bisa terlalu lama jauh darinya. Setahun yang baru di sekolah baru kami tidak pernah kulihat Tyah bergeming karena merasa tersisihkan, dia mendapatkan lima orang teman sekaligus dalam seminggu pertama, kemudian setelah acara persami hampir di semua kelas kudengar semua siswa mengenalnya, bukan sebagai seorang cucu pemilik sekolah atau gadis arogan yang diliputi pikiran buruk, melainkan sebagai gadis peraih peringkat tertinggi di papan pengumuman penerimaan siswa baru SMP Soerahsan yang supel dan terlalu mudah membantu seseorang yang membutuhkan.
Namun demikian kebahagiaan tersebut tidak berjalan lama, setelah Rea lulus dari SD kami dia juga menyusul untuk duduk di SMP yang sama pula dan merubah wajah  Tyah kembali menyusut dan tidak bergairah. Kondisinya kembali rumpang dengan hati yang penuh perasaan seorang siswa yang teman-temannya direnggut satu per satu oleh adik angkatnya. Aku tahu bagaimana rasanya diabaikan orang yang kita kenal dan mengenal kita karena lebih memilih orang lain, Tyah yang menunjukkan semua itu padaku, dia sering mengabaikanku dan sikap yang demikian jelas mendidikku menjadi terbiasa.
***









Kami mendirikan sebuah tempat dimana jika kami kemari akan bisa menenangkan hati sedang kacau, sebuah kamar persegi empat yang di penuhi dinding tebal didalamnya dan dibatasi oleh kaca transparan jika kami memandang keluar ruangan, tempat ini memang mirip sebuah galeri lukisan, tahun lalu setelah kami duduk di kelas dua Sekolah kejuruan kelas ekonomi, bertiga dengan Tyah dan Agung supirnya, kami mendirikan galeri untuk menampung sketsa hasil lukisan kami sejak kecil. Di dalam tempat itu, aku mengusulkan agar ada sebuah taman kecil yang menghidangkan hijau yang lembut sebagai pengimbang warna tembok batu yang kaku keabuan. Kami akan datang sekali seminggu untuk melukis sebuah sketsa, sebenarnya lebih tepatnya adalah meneparkan isi hati yang merusak sistem kerja hidup kami selama tujuh hari sebelumnya.
Aku tidak tahu siapa itu Agung, darimana asalnya, dan apa pekerjaannya sebelumnya. Tetapi sekilas dia terlalu baik dan dekat untuk ukuran bawahan terhadap Tyah, majikannya. Terkadang aku melihat mereka berdua berjalan seperti bukan seorang bos dan pegawainya, melainkan seorang perempuan dengan laki-laki yang tidak saling ada hubungan darah. Benar, aku sedikit cemburu. Walau begitu aku bukan orang berkuasa yang punya kendali untuk mencegah kedekatan mereka, bukan urusanku mereka mau apa, bukan urusanku mereka berdua akan menjadi sepasang kekasih atau tidak. Yang terpenting ketika melihat mereka bersama, sedikit banyak kulihat Agung sudah mencairkan kekakuan diri majikannya, meski ada perasaan terpelanting yang merebak seolah kembang tujuh rupa dalam dadaku, wangi menyengat yang tidak biasa dan membuatku sesak napas.
Seperti beberapa bulan belakangan, setelah semua orang tahu bahwa Tyah adalah pemilik yayasan sekolah menengah Hutagalung, Agung dan Tyah tampak sering bersama dan seperti tak bisa dipisahkan. Kemana Tyah melangkah, Agung selalu membuntutinya serupa ekor kera yang tak pernah bisa di tebas, dan Tyah pun seolah takut kehilangan ekornya yang berarti dia akan kehilangan daya hidup yang menguatkan pertahanan tubuhnya. Mereka seperti dua manusia yang saling memiliki satusama lain. Jika saja aku lebih dekat dengan Tyah, mungkin ada sedikit alasan untuk menengahi hubungan kedua orang yang masing-masing kukenal sepenuh dan seumur jagung hidupku itu.
Tetapi Agung tidak pernah menganggap majikannya sebagai seorang gadis yang pantas dia perhatikan lebih karena dia mencintai Tyah, begitu sebaliknya, aku sudah salah kalau memastikan semua hal yang terjadi di antara mereka akan berakhir menusuk dadaku dengan seruas samurai tajam, yaitu sebuah senjata yang paling kutakutkan jika aku mati suatu saat nanti, api cemburu yang  membakar seluruh isi pikiran dan hatiku secara pelahan tanpa jeda. Pada  kenyataannya, seperti kudengar, saingan terberatku bukanlah Agung, melainkan Rama yang sejak dia kembali dari pelayarannya di Aceh, dia kembali mencoba merebut posisiku di muara perhatian Tyah. Meski segala rencana yang dia lakukan tidak akan pernah berhasil satu pun. Jangankan Rama yang baru Tyah kenal beberapa hari lalu pergi menghilang tanpa kabar, kemudian kembali lagi dengan wajah tanpa rasa bersalah, bersikap seolah dia pergi beberapa hari dan kembali bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
Tyah dan aku sering bersama, kami tetap sekelas, tapi seperti biasa dia mengabaikanku setiap saat. Tapi aku sudah terbiasa, karena bukan hanya aku yang mengalami penderitaan tersebut sejumlah teman lain juga mengalami keadaan hati yang sama, namun kujelaskan pada mereka bahwa sebenarnya gadis pemilik sekolah ini adalah gadis yang baik, hanya beberapa sisi baiknya terlalu tertutup dan tidak banyak diketahui orang lain.
*
Aku sedang duduk menghadap taman buatan dalam kamar tengah rumah kami, ada sepotong gambar wajah gadis yang tertempel pada dinding berdasarkan warna burung kalibri, lukisan tersebut adalah hasil kerja tangan Hutagalung yang dihadiahkan pada ulangtahun pernikahan ayah dan ibu, serat cat minyat yang memberi kesan lembut pada siluet wajah dalam lukisan itu. Aku tidak tahu apa hubungan mereka lebih dari sekedar dekat, tetapi keluarga Tyah dan keluarga kami memang sangat erat satusama lain. Ayah bilang kami memang harus baik pada semua orang, sebab manusia saling membutuhkan, kita harus saling membantu satu sama lain jika sedang dalam masa sulit, berbuat baik adalah hal yang sukar karena saat kita melakukan kebaikan banyak prasangka buruk yang mengusut apa yang hendak kita lakukan itu.
Sementara ibu sedang menyiapkan makan malam, Kak Eva, kakakku membantu pekerjaan ayah di ruang kerjanya. Aku mengerjakan tugas sekolah dan berusaha dengan cepat menyelesaikannya, setiap malam aku harus menyisihkan waktu untuk keluar pagar dan mengintip jendela kamar Tyah, aku hanya suka memerhatikannya mematikan lampu sebelum akhirnya harus kembali pergi ke kamar dan tidur.
Ayah Tyah sudah lama menghilang, setelah perceraian yang terjadi tiga tahun lalu, ibu Tyah memilih menikah dengan mantan pacar lamanya, dan meninggalkan keluarganya ke Amsterdam. Kudengar Tyah tidak pernah bicara pada ayahnya sejak saat itu, mungkin ada alasan lain agar aku bisa mengerti semuanya. Betapa tidak dalam hal ini bukankah Bu Wilujeng yang bersalah, mengapa dia harus marah pada ayahnya jika dia sudah tahu betul masalah sesungguhnya dari keputusan pengadilan.
Hutagalung menyerahkan semua aset sekolah pada Tyah dibawah pengawasan kakek, sebab Sigit menolak untuk berhenti dari kuliahnya dan melepaskan beasiswa kedoktorannya di Seoul. Dia berpikir bahwa adiknya lebih pantas mengurus sekolah milik ayahnya, karena jiwa sosial adiknya, sifat kewelas asihannya seimbang dengan pikiran sehat yang selalu waras dan tidak mudah terpengaruh orang lain, dia tahu siapa Tyah, bagaimana seluruh komponen dalam pikiran Tyah selalu duduk dengan tegasnya menyelesaikan sebuah masalah. Maka, tanpa ragu Hutagalung menyetujui pengalihan tugas kepala yayasan kepada anak perempuannya itu.
Tidak satu pun orang tahu apa yang membuat keluarga idaman itu terpecah begitu saja, kecuali seseorang yang terlibat dan memerhatikan secara diam-diam. Rumah mereka terlihat sepi sama sepinya dengan alunan nada uir-uir yang lambat laun terempas terbawa kabar hitam. Sementara Sigit tidak pernah mengirim fax seperti janjinya padaku, setiap minggu kejadian dalam rumah Hutagalung kian membuat semua orang tidak paham dan tidak ingin mengerti,  kecuali aku yang selalu menunggu sebuah kebenaran. Aku sangat ingin tahu mengapa Hutagalung menceraikan Wilujeng dengan mudahnya, padahal yang kutahu hubungan pasangan itu tidak pernah lebih buruk dibanding hubungan ibu dan ayah.” He boy, cepat cuci tanganmu, kalau tidak makanan kau ini pasti dilalap habis oleh kakakmu!” julukan Kak Eva ialaah tikus kecil yang licin.
Entah sejak kapan, ayah mengambil air untuk mencuci tangannya dan telah siap memimpin cidukan pertama nasi yang masih wangi tungku. Kebiasaan di rumah kami nasi memang dinanak di tungku api yang sengaja dibangun samping garasi oleh para suami, kebiasaan tersebut adalah tradisi temurun yang hingga kini masih sengaja dihidupkan, agar kami  tetap merasa sedang bersama para leluhur yang telah berpulang ke sisi Tuhan. Bisa juga kurasakan kehadiran Tyah ketika kami makan suapan pertama dari tangan sendiri-sendiri, aku sering menutup mata saat melakukannya, dan selalu ada bayangan raut wajah anapk perempuan berusia lima tahun yang menyuapiku dari tangannya, agaknya terdengar sedikit konyol, tetapi itulah isi kepalaku ketika meja makan rumah kami dibuka tepat di setiap jam makan pagi dan malam.
Tyah memang sering membantu ibu memasak di dapur sebelum akhirnya duduk menikmati nasi yang ditanak ibu dari tungku, dia lebih menyukai nasi buatan ibuku dari pada nasi buatan ibunya. Anak perempuan Hutagalung yang selalu merawat rambutnya agar tetap tergerai sebahu itu, menjadi langganan tetap di rumah kami sampai usianya menjadi sembilan tahun.” Kau pasti sedang membayangkan gadis itu ya?” Ujar kakakku menggoda,sambil setengah tidak punya alasan manjur dia menyenggolku tepat di tengah diafragma, rasanya seperti ditusuk duri dari belakang, tetapi malah teresam geli.
Aku tidak banyak berkomentar, selain mengangguk tersenyum. Kakakku yang merasa menang lalu mengerek mataku agar tertarik menjawab dengan sebuah kalimat sederhana yang aktif dan memuaskan pertanyaan tersembunyinya.” Kau berharap aku akan bicara apa, bukankah kau sudah tahu semua hal yang terjadi padaku?”
” Itu benar, tapi setidaknya, sebagai adik yang baik kau masih menyembunyikan beberapa hal dari kakakmu, bukankah ayah bilang padamu, kalau ingin tahu apakah Tyah menyukaimu, kau harus tanya dulu padaku sebelum akhirnya mempertanyakan hal serupa padanya?” aku menekuk, lidah.
” Apa hubungannya denganmu? Aku suka pada gadis itu atau tidak, apa hubungannya denganmu?” Aku tidak pernah ingat kapan ayahku pernah bilang begitu, mungkin hanya akal-akalannya saja biar dapat mendengar dari mulutku bahwa aku betul-betul menaruh hati pada Tyah.
Eva sering memergokiku duduk termenung sendirian sambil mengamati lukisan sketsa buatan Tyah yang diberikannya bersama sebuah manekin J.F Kennedy sebesar genggaman tangan padaku, hari itu hari ulang tahunku, Tyah sengaja membawakan semangkuk sup asparagus hangat dan mengambil lilin dari meja makannya, kemudian meletakkannya di cangkir dan menyandingkannya di sisi mangkuk. Lalu kami meniupnya berdua. Begitulah, asal muasal mengapa Eva sok tahu tentang perasaanku, dia memang tidak pernah meleset menduga, karena otaknya sangat terhubung tepat dengan saluran pembaca hati. Aku tidak tahu apakah saluran pembaca hati itu benar ada atau hanya bualan Eva semata, tetapi kalau dipikir panjang, Eva memang lebih menakutkan dari pada Hutagalung dan bandit-bandit terkenal di Asia.
Eva masih menunggu kalimat balasan dariku, tetapi aku, tetap menunduk diam menghabiskan makananku sekaligus mengabaikannya dengan bisu selama beberapa menit hingga acara makan malam kami berakhir.
***











Hari ini adalah hari ulang tahunku, aku berencana membawa Tyah untuk pergi bersamaku ke tempat-tempat yang tak pernah ia kunjungi semasa hidupnya. Seperti, bioskop, mall, atau tempat kecil bernama Deg Sadas, tempat itu adalah lokasi perkumpulan anak-anak jalanan, tahun lalu bersama seorang pria Skotlandia bernama Edward aku mendirikan markas kecil itu, lalu menampung beberapa anak jalanan yang terabaikan hidupnya. Pria Skotlandia tersebut mulanya adalah seorang pengangguran akibat tergusur dari reputasinya sebagai aktor yang pernah membintangi banyak judul film. Tapi aku tidak pernah melihatnya di televisi seumur hidupku, aku seorang pecandu tayangan film beraliran action, jadi per judul film yang dibintangi sejumlah aktor atau aktris terbaru selalu mengisi absensi dalam memori otakku, kalau dia,, seingatku mungkin sedang berhalangan saat harus mengisi daftar hadirnya.
Belakangan aku dan Tyah sedikit dekat kembali, dia suka memandangku secara diam-diam saat aku sedang tidak memerhatikannya, atau terkadang dia tidak sungkan membalas senyumku saat kami saling pandang dan di sekitar kami sedang, sepi. Meski begitu, hal yang sangat sederhana tersebut sangat menjadi sesuatu yang eksklusif.
Aku duduk di muka ruangan khusus yang sengaja dibangun didekat tempat pengambilan buku tulis gratis untuk siswa tidak mampu. Beberapa siswa baru sudah memenuhi pintu keluar dan berhambur menyedot mata untuk memandang kerusuhan yang timbul. Aku tetap menunggu di tempat yang selalu sepi pada saat jam masih menunjukkan pukul enam dua belas seperti sekarang. Aku tidak perlu kuatir kapan mereka akan datang, mobil mereka selalu di sambut jajaran guru dan karyawan yang berderet meroter jalan masuk parkir tamu. Terkadang jika Rea melihatku, dia akan dengan segera menyapa dan mengajakku bicara hal-hal yang, tidak terlalu penting.
Kemarin sebelum acara meeting rutin hari jumat berakhir aku menunggu Tyah keluar ruang rapat untuk ajakan tersebut, lalu apalagi, aku tidak mendapat jawaban, kecuali sebuah tengarai kepala yang serati dengan ribuan pikiran mengenai sekolah, program kerja guru, atau sejumlah ikat kepala yang harus dia lengankan pada negara yang mudah terpengaruh bisikan asing di bagian tertentu dalam kepalanya.” Kau ada waktu, aku ingin bicara sebentar,” untuk beberapa momen, kalimat mukadimah buatan Rama manjur untuk disadur, jadi aku mencoba menyonteknya persis.
Tyah hanya melirikku dengan tatapan lima belas karat, sisanya terselip dalam lubang yang jauh dari jangkauan siapa pun. Selalu, ketika dia melakukannya, aku hanya dibuatnya terpaku kehilangan bendahara kata yang telah kususun dalam anggunan rencana berbasa-basi dengannya. Dia, selalu menekuk lidahku agar diam dan tak mengeluarkan suara kecuali terpatak pitakan matanya yang tajam mengisi dubilan kecil dalam keberanian yang telah kuhimpun selama berapa hari.” Aku mau mengajakmu keluar besok, menurutku, kau akan menyisihkan sedikit waktu untukku. Sebelumnya, terima kasih.” Ujarku sambil menutup kemungkinan baginya untuk menolakku, kau tahu teman, matanya terap terbelenggu sesajen, terketup dan sepertinya menahan beberapa partikel muntahan dalam bibir tipisnya. Sebetulnya aku tahu kalau dia pasti akan menolak dengan cara yang sama saat dia lebih memilih Rama dari pada acara rutin belajar bersama kami. Tetapi sebelum semuanya berakhir absurd dan membuatku menyesal karena tindakan bodoh itu, aku mengantisipai semuanya dengan kalimat panjang yang akhirnya kuiyakan sendiri. Sedikit konyol, tapi hanya satu-satunya cara agar aku terhindar dari sakit hati seperti hari-hari sebelumnya.
Rea menenggas bahuku dengan pukulan kecilnya, Tyah berada satu meter dari balik tubuh potongan millenium dua ribuan ini, rambut yang disetrika oleh obat pelurus rambut, wangi tubuh yang dikerubungi kemayu dan sifat pemalas, mata yang sayu karena terlalu banyak menggunakan obat tetes, juga rona muka lonjong yang ditangguhkan oleh hujan warna eye shadow serta perona pipi natural. Perbedaannya adalah disini, aku menyukai Rea karena dia memikat pandanganku, sementara aku menyukai Tyah lebih dari apa pun adalah karena dia memang cantik, tapi tidak tahu bagimana cara menonjolkan kecantikan tersebut kepada publik, dia tidak pernah secantik Rea saat datang ke sekolah bersama, isi muka Rea selalu nampak segar dan wangi. Tyah, aku tetap menyukainya karena dia selalu keluar rumah tanpa mengoleskan bedak compact secolet pun pada bidang wajahnya, dia selalu tampil apa adanya dan lebih suka tidak diperhatikan, itu yang menarik untukku.
Rea menggandeng tanganku mesra, dia memang suka begitu saat bertemu dengan anak lelaki mana pun, apalagi kalau dengan Pak Ilham, guru Multimedia di sekolah ini.” Sepertinya, kau ingin menemui kakakku ya, ada urusan apa?” Dia sudah membaca apa yang hendak kulakukan, apa jangan-jangan dia juga tahu apa yang akan kukatakan pada Tyah...
Rea selalu murah senyum, saking murahnya dia sering mengobral senyum tanpa limit.
” Dia sedang senang,” kulihat matanya mengerling ke belakang, ke arah tepat dimana Tyah masih mendengar  ocehan Kepala Sekolah, ” Aku tidak tahu kenapa, tapi tadi di meja makan dia melamun dan sesekali tersenyum sendiri tak ada sebab, kupikir dia sedang, jatuh cinta. Biasanya, kalau orang sepert dia sedang senang, setidaknya, mengajaknya bicara adalah waktu yang tepat hari ini. Katakan isi hatimu, Kak. Sebelum orang lain mendahuluimu. Kau tahu kan, sebenarnya kakakku banyak yang naksir, hanya dia selalu menghindar untuk alasan yang tidak konkrit. Just show your heart, bro!” aku mengerti maksudnya, maka dengan tidak sengaja saat aku sedang menata suara dan keberanian semua orang mendengarku bersendawa, semua tertawa, termasuk, Tyah, meski disembunyikan dalam sebilah tangan aku tahu kalau dia ikut menertawai sesuatu yang kukeluarkan dan membuat seluruh orang tertawa terbahaknya. Aku menelungkup dalam rahang tangguhku.
Aku belum mulai apa-apa, namun kutampak Rea sedang berjalan mendekati kakak perempuannya, dari kejauhan posisiku kudengar dia mengatakan bahwa aku ingin bicara berdua dengan Tyah, aku tersedat. Napasku mulai tak beraturan lantaran debaran jantungku berdenyut lebih derasnya dibanding aliran udara yang terenyuh oleh warna lain yang keluar dari mata serta bibir yang selam ini selalu terkenal lugas dan sangat tegas.
*
Kami duduk berdampingan dalam satu buah bangku taman yang diletakkan di belakang kantin khusus guru dan karyawan sekolah, sambil memegang nikkon terbarunya, dia membuang tatapan seperti biasanya. Aku memandangi tingkah lakunya, sedikit senang bercampur harapan yang besar, aku sudah tahu, bahwa hatiku sudah bertekuk lutut dalam jiwa gadis yang usianya hendak bertambah menjadi delapan belas tahun bulan depan. Beberapa kali kudengar kamera sepuluh megapixelnya menyorot setidaknya sudah tiga belas adegan yang wara-wiri menghiasi area luar mata kami, sejumlah angin menyibak rambutnya tampak lembut dan halus, wangi jahe merah tubuhnya sering menguras dadaku berdebar lebih deras dari sebelumnya. Separuh hatiku sedang melayang, sebab akhirnya setelah sekian lama Tyah menjauh dariku, dia mau duduk berdua denganku kembali. Separuhnya lagi masih dibingungkan oleh deretan perasaan gugup, cemas menemukan kalimat yang tepat untuk mengawali pembicaraan, aku tidak tahu harus apa, disamping karena aku tidak pandai berbasa-basi, aku juga tidak terlalu banyak menguasai kamus bahasa membujuk atau nama lainnya bahasa merayu.
Aku berdehem, sengaja untuk menghentikan sejenak aktifitas yang sedang meributkan seluruh isi tubuh Tyah.” Katakan secukupnya saja,” telaahnya, aku mengerti dia sudah tahu bagaimana aku saat berhadapan dengannya, rasanya isi perut dan kepalaku terburai ke permukaan laut dan musnah dilalap ikan-ikan kecil pemakan usus dan darah.” Seperti biasa.”
Aku mengerutkan setengah dahiku, pura pura tidak paham apa maksud kalimatnya, tapi aku juga tahu siapa Tyah, bagaimana dia jika aku mengulangi kalimat keduanya dan mengimbuhi tanda tanya di belakangnya.  Dia pasti hanya akan berpikir bahwa dia sedang dipermainkan atau orang yang sedang dihadapinya tidak lain hanya seseorang yang ingin membuang waktunya percuma saja.” Aku, tidak ingin katakan apa-apa, hanya ingin mengingatkan kalau kita ada janji, aku tunggu di tempat parkiran motor.” Wajah Tyah terangkat. Dia terlihat sedikit terkejut, kemudian memandangku menggunakan mata belati tajam yang tiba-tiba menumpul.
” Aku , tidak, bisa..” Jawabnya terbata-bata. Aku sudah menduga dari awal. Namun semua yang dia katakan tidak menyurutkan niatku, karena besok dia benar-benar harus menemaniku nonton film Harry Potter, lalu pergi ke tempat dimana tidak ada orang yang mengganggu kami, aku sudah sebuah tempat, mana mungkin batal hanya karena tolakan Tyah yang tak beralasan,” Setelah pulang sekolah aku, ada rapat reprogram sekolah, beberapa dokumen baru dan laporan keuangan harus diperiksa,”
Entahlah,” Aku bisa menunggu...”
Aku bergegas pergi agar Tyah tidak memperpanjang penolakannya dan menimbulkanku menyerah serta menerima alasan masuk akalnya.” He,” Cegahnya,  tangannya mencengkeram lengan jaketku, aku tertegun, sedikit terkejut aku menolehnya, sebentar kami saling pandang. Entah pada menit ke berapa, Tyah melepaskan cengkeraman yang membuatku tercengang setengah mati itu, em, tidak, biarkan seperti ini beberapa detik saja, ucapku dalam hati.” Aku tidak tahu jam berapa acaranya akan selesai. Kau tidak perlu menungguku.” Aku teringat sesuatu kemudian, separuh hatiku merunyam.
” Kau punya janji dengan orang lain ya?” hunjamku, sengaja aku tahu jika dia mengiyakan maka orang itu sudah barang tentu Agung, siapa lagi memangnya.
” Bukan begitu, aku,”
” Kalau begitu aku tunggu di tempat yang kukatakan,” putusku sendiri.
Aku berlalu.
 Sementara kudengar, Tyah masih sibuk mencoba mencegah apa yang akan kulakukan nanti. Tapi sekali lagi aku adalah manusia kepala batu, jadi sekeras apa pun Tyah menolakku aku akan tetap menunggu seperti ucapku.
***



Rapat itu selesai pukul setengah lima sore.
Begitu kulihat Tyah keluar bersama dua lelaki bernama Rustam dan Ilham, aku langsung menjabat tangannya lalu menariknya masuk ke tempat parkiran, aku memberikan topiku, cuaca sedang cerah, hari ini pukul lima pun masih terlihat diselimuti terik matahari. Kuminta Tyah mengenakan topi putih yang selalu kupakai saat pergi dan pulang dari sekolah, dia menatapku,bulat oleh ketidakpercayaan bahwa aku akan menunggunya, dia menyelah.” Kau keras kepala sekali,” aku tidak suka terlalu lama menunggu, kupakaikan topi itu membungkus rambutnya dengan paksa. Aku tidak pernah membawa motor ke sekolah meski ayah membelikanku satu dan kugeletakkan di garasi setiap harinya. Aku lebih senang membawa sepeda gunungku ke sekolah. Ayah bilang sepeda gunung itu bersejarah, turun temurun sejak kakek duduk di kelas tiga SMP, ayahnya baru bisa membelikan sepeda tersebut, jadi setidaknya untuk menghormati usaha kakek buyutku, kami masih menyimpan dan bahkan masih menggunakan sepeda hasil keringat beliau.
” Duduklah, memangnya kau ingin lari di belakang saat aku mengendarai sepeda. Jangan bercanda. Cepat duduk.” Pintaku.
” Kita mau kemana.” Tanyanya sambil menelan ludah.
” Menurutmu?” Aku balik bertanya.
Aku tidak tahu apa yang dia lakukan atau pikirkan selama perjalanan menuju bioskop, yang kutahu sejak keluar gerbang sekolah, bibirnya menciut dan terbungkam rapat. Aku terus bicara sampai hidung gedung bioskop terlihat, sebenarnya hari ini jatah pemutaran film Harry Potter sudah habis, kami akan melihat teater mahasiswa Universitas Padjajaran yang bekerja sama dengan beberapa merk motor seperti Honda, Yamaha. Biasanya seusai acara penonton akan mendapatkan cinderamata berupa kaus dan tas keren bergambar sketsa judul drama dan beberapa lukisan pemainnya. Kemudian,
Kami terenti, aku menyanggah sepeda gunungku pada cagangnya, ada ketimpangan, ratusan kendaraan yang berjajar memadati tempat parkir ini adalah mesin-mesin Jepang yang dijual murah di Indonesia tahun ini. Sepeda motor bermerk itu membuat semuanya menjadi tidak seimbang, kulihat Tyah, aku khawatir kalau-kalau naik sepeda butut roda dua ini membuatnya kehilangan reputasi dan wajah. Tetapi sepertinya tidak, dia datang kepadaku dan bertanya dengan lugunya.” Apa yang kita lakukan di sini?” angin berdesir menyibak belahan rambutnya dan menyemburatkannya ke seluruh arah. Aku suka saat dia mentapku, bola matanya yang bulat sayu mengundangku untuk memegang tangannya.
Dia melihatku yang tiba-tiba mengalungkan jemari pada tengkuk lengan bawahnya, aku terseraruk, entah darimana sejumlah keberanian yang muncul tersebut, sekali lagi itu membuatku terlalu senang dan lebih menyukainya dari sebelumnya. Gadis rambut pendek itu melepaskan tangannya dari regamanku pelahan, aku berpura-pura tak sadar melakukannya lalu lekas meminta maaf dan bertudung menggaruk kepala yang tak gatal.” Maaf, aku tidak bermaksud.. apa-apa.” Pelototan matanya memati.
Tyah diam, kurasa dia tidak keberatan kalau aku memegang tangannya lagi.
” Apa yang biasanya kau lakukan saat pergi ke bioskop?” dia menyisir keluar suaraku yang mengalir, berjajar dua ratus pasangan muda sedang bertautan tangan sedang bergurau sesekali tertawa bersama.
” Apa?” Jawabnya ketus.
Aku tertawa tersedu,” Ayo masuklah, setidaknya kau harus melihat siapa mereka yang disebut bintang panggung.” Aku akan mengenalkannya pada seorang pemain teater terkenal di Universitas Padjajaran, aku sendiri belum kenal, tetapi setidaknya sikap kesok akrabanku akan menolong pada saat-saat seperti ini. Aku menerunggang jemarinya kembali, sejumlah bendera sponsor dengan panjang dua kaki menjulang langit dan mengisi seluruh penjuru bisokop, di beberapa sudut dibuka stan dealer yang bekerja sama dengan acara, beberapa di antaranya sudah kisut pengunjung yang tertarik mengkredit motor.
Ayahku bilang tipe-tipe motor pada abad-19 hanya dapat diturunkan setelah tiga tahun sekali, namun seiring bergantinya pemerintahan dan sistem kerja dunia, negara kita memasarkan produk asing itu bebasnya dan dengan mudahnya. Kisaran tipe suatu merk motor pun setahun atau setengah bulan sekali sudah nampak nimbrung dan madati. Anak-anak muda pada jaman sekarang pun lebih suka menyisihkan kelebihan uangnya untuk mengambil kreditan motor, lalu mencari pekerjaan sambilan untuk membayar bulanannya.
 Kami bertemu seorang teman, dia adalah salah satu pemain panggungnya, namanya Diktro. Sudah lama kami tidak bertemu jadi lumrah jika saja aku terlalu banyak tanya mengenai keadaannya sekarang. Barangkali karena merasa risih, Tyah mengenggam tanganku berulangkali dan membisikkan sedikit kalimat kerisihan.” Kita pulang saja. Aku tidak suka tempat ini.” Aku menoleh padanya,” Tidak bisa semudah itu, aku sudah membeli tiketnya kemarin. Hari ini, adalah hari terakhir penayangannya. Kau tahu semua orang sudah menunggu mereka dan kau memilih melewatkannya begitu saja.” Kulihat tatapannya yang bertambah tajam dan absah dengan keinginan untuk pulang yang kuat itu.
Tyah menatapku setegup kelopak matanya saja, kemudian seperti ada lidah pembatas  di kedua serat matanya, Tyah melepaskan pegangan tangannya pada lenganku. Lalu berjalan keluat tergesa, aku memandangnya. Sebelum menyusulnya aku masih menyempatkan diri untung memperhitungkan apa yang hendak gadis itu perbuat.” Pacarmu, mau kemana boy.” Tanya Diktro, anak dokter spesialis kanker itu mengira jika aku dan Tyah sedang berpacaran. Aku nyengir saja, aku tidak tahu apa yang sedang ku pikirkan semuanya sedang samar dan bercampur aduk.” Aku permisi sebentar,” Diktro mengangguk sambil menewaskan esemnya.
Dia sedang sibuk memencet beberapa tombol nomor telepon umum yang terpasang di samping pagar masuk gedung bioskop. Kakinya sedang memainkan nada kekesalan, aku bisa membaca bagaimana jantungnya sedang tercecer kurat-karit di atas tanah karena tidak bisa bertemu dengan supir bernama Agung. Aku mendekat posisi gadis itu pelan-pelan. Sebeku hatiku mataku menebarkan tatapan beku pada gadis tujuh belas tahun tersebut, aku tidak tahu harus apa, rasa cemburu yang besar meledak-ledak saat kudengar nada bicaranya menjadi sangat manja terhadap Agung, lawan bicaranya dalam telpon.” Jemput aku di gedung bioskop yang sekarang ada penayangan teaternya, aku tidak tahu ini tempat apa, jalan apa,” dia terenti, memutar kata yang sama berulang kali,” Eii,” hingga bosan bukan main, telponnya ditutup. Aku yang meraihnya dari tangan Tyah, lalu meletakkan kembali ke dalam posisi awalnya. Begitu tersadar aku yang menutup sambungan telponnya dengan Agung, Tyah memelototiku sepenuh mata bulatnya. Tidak, dia todak menamparku atau memakiku seperti seseorang yang sedag marah sewajarnya, dia menutup bibir dan tersenggat dalam ketidak mengertiannya, soal kenapa kubawa dia ke gedung bioskop yang asing baginya, atau kenapa begitu lancangnya aku berani memutuskan telponnya. Dia terdiam tak berkutik dengan sikap apa pun, kecuali memutar badan dan pergi ke tengah sisi kiri jalan untuk mencegah sebuah taksi. Aku membuntutinya.
Tyah sedang marah padaku, tapi sedikit pun aku tak peduli. Napasnya terbengkalai sama tidak teraturnya dengan aliran angin yang beberapa kali menebas isi kepalanya yang menotok tengkukku. Aku kecewa, dia membuatku membentuk hati yang sama seperti hari yang lain, sesak dan mirip boneka, manusia yang dibendakan dan sengaja tidak memiliki nyawa.” Kenapa? Kau ingin pulang... ayo,” Aku meremas kertas tiket kami, lalu membuangnya ke dalam selokan.” Aku bisa pulang sendiri,” retaknya. Aku lebih kecewa dari sebelumnya, mataku mungkin sedang merah karena mau menangis dan berasap saat menguntit tangannya yang tak ingin disentuh oleh siapa pun, apalagi aku. Seperti jijih dia melemparkan lima jari tangan besarku yang menjenjamnya. Gadis itu, mungkin dia lupa kalau hari ini adalah ulang tahunku.” Setidaknya, beritahu aku sesuatu mengapa kau tidak pernah sebaik sikapmu pada Agung jika sedang bersamaku, sebaiknya kau beri tahu aku sesuatu..” ototku mengerung, keriput mataku pasti terlihat jelas dan berseling kelabut warna mataku.” Aku tidak ingin dibuatkan pesta yang besar, aku tidak ingin hadiah mewah apa pun darimu, cukup temani aku sehari saja, sudah cukup bagiku. Setidaknya, kau ingat kalau hari ini adalah hari ulangtahunku...” Rautnya terangkat tebal, menengokku seakan dia sedang terkejut.
Tahun lalu pada tanggal yang sama, Tyah tidak mengatakan apa-apa, padahal aku sangat ingin dia ingat saat usiaku bertambah menjadi tujuh belas dia gadis pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku, bukannya, Rea.
*
 Aku mengambil sepeda dari arena parkir ku dapatkan sebuah tubuh tinggi kurus dengan rambut yang terbelai angin kecil berdiri menatapku dengan tatapan sempurnanya. aku tidak berharap apa-apa kecuali memeluknya saat ini untuk mengurap air mata yang terbendung dalam sirip mataku, sudah barang tentu jika dia setuju dan merasa tidak keberatan. Tyah, menatapku penuh tanya, lalu memegang pedal sepedaku,” Sebenarnya, aku...” aku mengangkat pandangan dengan cepat. Ya, aku sedang membuat harapan agar sesuatu datang dengan ajaib dan menyulapnya menjadi lebih sedikit perhatian padaku.” Aku.. lapar.” Aku merendah merengkup harapan yang pernah timbul, ya ampun, apa yang sedang kau pikirkan, bodo.
” O, ya. Aku, juga..”
***




Petang itu adzan maghrib sedang terkusain dalam wajah terang langit yang ditabuhi bedug, aku mengayuh sepeda tua temurun keluarga kami sepenuh hati, aku tidak tahu dari mana sebuket kegembiraan mengalir dari bibirku, senyumku mengembang dan ada kekuatan magis yang menarikku untuk tetap terlihat bersemangat meski pun sedang marah pada gadis yang mengemis sedang lapar padaku.
Kami berhenti di perempatan jalan dekat gang rumah Hadi, teman sekelas kami yang menjual mie bungkus jika jam istirahat berdentang. Ada gerobak kecil yang bertengger di salah satu sisinya, pemiliknya adalah kakak Hadi, semua keluarganya hidupbagus dari menjual mie dan nasi goreng keliling. Kakak Hadi, insinyur pertanian jebolan Universitas Bandung. Namanya menjadi besar saat sifat enterpreneurship-nya merebak menjadi penjual mie keliling, di kampus dia menjadi buah bibir, ada yang salut, ada juga yang mengejek. Dia hanya berpikir hidupnya tidak tergantung pada ejekan atau rasa salut orang pada dirinya, melainkan kerja keras yang tidak merugikan pihak manapun. Hadi sedang duduk bergurau dengan kakaknya, ditangan kanannya seeksemplar buku tergantung pipih. Aku menjuraskan tubuh sepedaku ke pos ronda terdekat, lalu duduk menyusul Tyah,” Itu, Hadi kan?” aku mengangguk. Dia terpesona, tentu saja, Tyah sangat mudah salut dan kagum pada orang lain yang hidupnya lebih susah dan sanggup menjalani kesulitan demi kesulitannya tanpa bantuan hal haram.
Tyah menyapa Hadi, wangi mie yang sedap menggerogoti hidung kami. Terutama jika mie milik orang lain yang mengantre lebih dulu dari kami sedang dibuat, mungkin akan lebih gatal dan tidak tahan lagi lidah kami untuk menyantap masakan mereka. Sepertinya Tyah tidak akan merasa keberatan jika kami makan di tempat seperti  ini, tempat yang tidak higienis dan terlalu ramai polusi.” Duduklah, akan kusiapkan nasi goreng kesukaan kalian secepatnya, sodor  Hadi. Kami berdua memang lebih menyukai nasi goreng dari pada mie, entahlah, ada suatu ketertarikan tersendiri dalam nasi goreng menurut kami, rasa sudah pasti, mungkin kedua karena nasi lebih mengenyangkan dari apa pun yang berhidrat arang.
” Kalian berdua, tidak capek, pulang kuliah, atau pulang sekolah langsung berjualan nasi goreng.” Sorot gadisku, aku terpancing, mungkin ada hal lain yang ingin dia lakukan, selain mencoba sok akrab dengan dua lelaki berdarah sunda tulen itu.
” Apa lagi yang harus manusia lakukan untuk menambal lubang di perut setiap hari kalau tidak dengan bekerja, Neng.” Sergah kakah Hadi, Tyah tidak membalas kecuali tersenyum serambi mengangguk setuju. Aku juga lebih banyak diam, aku hanya memandangi wajah gadis itu sebelum akhirnya memujanya dalam hati, kau gadis itu, selamanya hanya kau yang akan menjadi gadisku...aku menyukaimu mungkin sampai mati,
Wangi nasi goreng, menggoda nyawaku untuk terempas keluar demi mencicipi masakan teman kami itu. Aku masih tidak mengerti apa yang sedang Tyah lakukan, aku terpancing untuk memerhatikannya sampai separuh kehidupanku serasa dikuahi ribuan balon merah muda berbentuk hati. Aku berada dalam pintu cinta yang berkursi salju, dinginnya membekukan suhu tubuh.
” Lihat, nasi goreng kalian adalah buatan Abangku, rasanya terkenal sedap, lebih dari sedapnya masakan bapak.” Tak tanggung aku segera mengambil sendok dari tempat garpu dan sendok yang tersedia di meja yang tergelar di samping gerobak mereka, kakak Hadi bernama lengkap Sirdan Soebandi. Lelaki berusia dua puluh empat tahun yang tengah menjalani kuliah S2-nya di Universitas Padjajaran itu terengguk dalam wajan yang mengangah, sambil menggoreng mie pesanan pembeli lain yang mengantre setelah kami, dia berteriak menyilahkan agar kami tidak usah sungkan jika mau menambah.
” Tenang, Bang. Buatkan lagi dua piring untuk kakak adik yang sangat baik dan punya semangat kerja luarbiasa ini, aku yang bayar hari ini.” Hadi memutar ingatan. Usai terbangun dari ingatannya dia menggaruk kepalanya yang tak gatal,
” Maaf Ghan, kali ini kau yang keterlaluan. Bagaimana bisa aku tidak ingat kalau anak lelaki penggemar nasiku sedang berulang tahun hari ini...”
” O, kau ulang tahun ya, selamat ulang tahun, ya semoga panjang umur panjang rejeki dan sodaqoh...” gurau pria yang senang mengenakan peci putih setiap berpergian kemana-mana itu. Tyah menatapku setengah hati.
Hari ini melelahkan. Termasuk di bagian ketika aku harus membukan maksud sebenarnya aku membawa Tyah secara paksa ke gedung bioskop. Atau di bagian ketika aku harus mengakui bahwa aku cemburu jika Tyah lebih memerhatikan lelaki lain seperti dia memerhatikan Agung.
*
Aku mengantar anak gadis Hutagalung tersebut sampai depan pagar rumah yang baru mereka perbarui menjadi lebih tertutup dengan dinding tebal yang ditengah bagiannya ditanami apel mint. Tyah turun dari sepedaku tanpa berkata apa-apa. Tidak mengucapkan selamat ulang tahun atau permintaan maaf karena melupakan hari jadiku yang ke delapan belas.” Masuklah,” perintahku. Aku memang suka tidak tenang jika tidak melihatnya masuk rumah dengan mataku sendiri. Ada hantu yang membayangiku dan gambaran hitam yang bukan-bukan menjalari nafsu tidurku, jika gadis ini tidak mematikan lampu kamarnya, insomnia yang besar menyerang isi otakku.
” Terima kasih, sudah mengantarku pulang.” Aku mengangguk-angguk saja tanpa komentar.
” Masuklah,” surukku. Tebal telingaku mengurung hati, aku sudah menunggu terlalu lama agar dapat mendengar sesuatu keuar dari mulutnya dan setidaknya memberiku kegembiraan tersendiri.
” Aku masuk.” Katanya,
” Tunggu,” Ulasku menderap, dia ternti dari langkahnya, memutar kembali tubuhnya lalu memandangku penuh tanya,” Apa tidak ada sesuatu yang ingin kau katakan sebelum aku pergi.” Matanya mereput,
” Kau ingin dengar apa?” Tyah bertanya balik dia sengaja membuatku yang membuka aga semua yang kuinginkan darinya jelas.
 Dia menatapku keluar dugaannya, kemudian mendekat ketika dia mendapatiku terbinggung memikirkan jawaban yang masuk diakal dan tidak mengundang supaya Tyah semakin mendedasku.” Aku, tidak,,” pipi kananku tersambar dengan cepatnya oleh setembang bibir tipis yang wangi nasi goreng. Aku,
” Selamat ulang tahun.” Ucapnya. Mataku terbuka lebar seolah ada batu yang menendapkan tatapanku, ia menjadi karat yang berat seberat jika kau memikul muatan truk barang. Ada sejumlah mobil dan debu tebal hingga untuk sekedar mengedipkan matamu pun kau tak akan sanggup.
“ Pulanglah,” tutupnya.
Aku,
Tidak percaya, tapi jika tidak, apa yang barusan tadi, mimpi? Mustahil, Rasanya begitu nyata, belahan bibir yang setipis dan selembut kapas itu menenggak pipiku. Aku menatap Tyah berulangkali, tidak ada jawaban yang kutemukan, ini mimpi atau aku baru saja benar-benar diciumnya, dadaku bergetar tak beraturan dan jalan darahku rasanya tengah tersendat tenaga endogen yang mendesakku untuk mengukur suhu tubuh dan kadar kesadaranku. Wajah Tyah kembali berubah seperti biasa, sumpah, aku mencintainya.
***













Semalam aku tak  bisa tidur.
Sudah barang tentu sebab ada yang menggangguku pikiran melayang tidak karuan, hati yang semakin berdebar saat aku tetap mencoba untuk mengingat peristiwa tak terduga itu. Wajah Tyah yang tampak sangat tulus mengecup pipiku dan mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku, sedikit di sisipan dadaku ada ketidakpercayaan yang menempa.
 Aku sedang berbaring di atas sofa rendah berwarna kulit sapi, beberapa tempat seperti lemari buku sengaja kubiarkan dalam keadaan sejak sepuluh tahun lalu, tiga hingga lima buah benda bergambar dan berelief sapi perah terpapang gagah menggunakan senyum tujuh jari. Ketika kami berdua kecil Tyah memang seorang gadis kecil yang hobi mengoleksi barang-barabg selucu tersebut. Selain sapi, dia juga suka kuda. Aku ingat, dulu anak perempuan  Hutagalung itu sangat suka duduk diatas punggungku sambil memecut buntutku.” Ayo, kuda masak kau kalah dengan bekicot, larimu lamban sekali,” aku tertawa terbahak sambil meringkik ala kuda poni. Aku harus apa, mengingat kejadian kecil itu saja aku jatuh cinta padanya, bagaimana mengingat yang lain,
 Saat Tyah menciumku, aku terdegup dalam alunan jauh dari dasar hati, timbul pertanyaan-pertanyaan. Ingatan demi ingatan, perasaan demi perasaan berdebur menjadi satu dalam jasadku. Kepalaku teredam  panas yang redas, turam menghunjam mata dan menggelitik seluruh tubuh perasaanku, cietah wajah yang selalu berbinar terbias dalam otakku. Senyuman yang jarang terlihat, kubayangkan terbentuk dalam sauna yang hangat. Bunga bibir yang menyendangi bulatan mataku, dia sangat cantik, meski menurut semua orang Tyah tidak pernah memiliki raut wajah seramah dan secantik adiknya.
Diluar tempat dimana aku sedang terdiam melamunkan anak gadis Hutagalung, sesorang sedang memerhatikan. Siapa lagi? Eva masuk tanpa mngetuk pintu. Dia tidak mengintip, kamarku tidak memiliki ventilasi atau lubang angin kecil yang bisa dia gunakan untuk menyusup.
Dia masuk, duduk, melihatku, dan terakhir tersenyum runyam sendiri.” Ada yang bisa kubantu?” sergahku saat mulai merasa risih. Eva tidak menjawab selain meringis memperlihatkan barisan gigi putih yang rapi dan tertata. Sesekali berdehem menghiasi dinding kamarku,” ada yang salah dengan dirimu, atau ini hanya halusinasiku.” Katanya meredap, aku terhenyak, apa maksudnya, aku mengerutkan jidat. Kembali Eva tersenyum lagi.” Kau, tidak merasa kalau kau sangat aneh hari ini, pulang sekolah maghrib, tanpa mengucapkan salam pada ayah atau ibu yang sedang duduk di muka tv, kau seolah seperti sedang kerasukan setan edhan tahu! Di meja makan diam melamun, tersenyum-senyum sendiri.” Kalimatnya begitu panjang, mungkin ini bagian dari latihan orasinya. Belakangan aku sering melihatnya berdiri dimuka cermin sambil menghapalkan isi bahan ceramahnya, aku tidak berkomentar apa-apa, kecuali diam dan, diam mendengarkan dialog panjang Eva yang memercusuar menelisik risem kupingku. Selain menggaruk-garuk telinga yang mulai gatal, aku memejamkan mataku ratusan kali, sekedar untuk mengingatkan Eva kalau ceramahnya menghamburkanku keluar masuk lingkungan kebosanan.
Hari ini banyak perubahan pada diriku, aku semakin bersikap ampang dan bodoh, dan semakin banyak memikirkan Tyah. Dan semakin banyak melamun saja. Sementara Eva masih ribut berceloteh, akumencari cara bagaimana agar aku bisa membuat Tyah tahu bahwa aku menyukainya sejak pertama dia memberiku gelas pensil buatannya berelief sapi. Aku tertawa kecil dalam hati, lalu sepertinya aku mengira bahwa anak gadis ayah yang sebentar lagi akan dilamar orang ini bisa membantuku, dia perempuan, kupikir dia pasti mengerti apa saja yang harus kuperbuat.
Terakhir kalimat yang dia ucapkan seingatku adalah,”... ibu menyuruhku menasihatimu agar kau tidak mengabaikan siapa saja saat kau sedang kesetanan,,”
” Hei Kak, kau perempuan kan?” Eva mengerutkan kening, sambil memelototiku, dia menjarah diri dengan kalimat tengkapan,
” Kau pikir apa?” dia menjitakku, auh! Rasanya sakit sekali. Tepat di belakang telingaku dia mengerutkan jarinya hingga membentuk japitan. Aku terukas padanya, tapi dia melengos dan berhasil menghindar, dia memang perempuan tetapi tenaganya saat memukulmu, sama rasanya jika tangan ayahmu sedang merebakkan pukulan dibagian yang sama. aku meredakan suasana panas yang mengangahkan emosi gadis dua puluh satu tahun dihadapanku ini,” Maksudku, setidaknya kau tahu, apa yang biasanya gadis inginkan dari seorang laki-laki yang menyukainya.” Eva meletakkan sepanah jari telunjuk menutup pada ubun-ubunnya, dia sedang berekspresi, mungkin sekedar ingin menunjukkan bahwa aku dia tahu arah pembicaraanku. Tapi dia tidak mengungkitnya,
” Kalau aku,” ujarnya sambil tertawa kecil sendiri.” Lebih suka kalau pacarku memberiku tiga tangkai bunga mawar putih dan setepar coklat putih, lalu saat kami duduk berdua berdampingan, dia mengatakan tiga kalimat jujur yang keluar tanpa rencana, aku ingin pacarku mengatakannya pelan-pelan sampai aku benr-benar memahami perasaannya padaku. Kau sedang jatuh cinta, Nak?” dia mengimbuhi kata Nak di bagian akhirnya, calon pewaris garmen temurun yang didirikan kakek kami di tahun 80-an itu meredekku.
Setelah merempangkan syal rajutan ibuku yang diselempangkan menutupi bagian lehernya yang kaku oleh dingin. Eva keluar kamarku di luar pintu kamarku dia berteriak agak menyudutkanku kemudian,” Ghani tidak sedang kerasukan kok Bu, hanya sedikit gila karena jatuh cinta.” Aku keluar pintu sesudah meraih seeksemplar buku berisi tiga kail berkas bab. Melengkupkannya menenggal pundak kecil kakakku, dia merusam. Mungkin setengahnya kesakitan namun senyumnya menebas ruhku untuk segera meminta ampun supaya Eva menghentikan tindakan bodohnya itu. Ayah dan ibu yang mendapatiku salah tingkah, terengus meringis saja.
***



Malam ini langit begitu indah,
 Ratusan cahaya bintang menengkas kelam, di bubuhi tanda tangan fase bulan sabit maka lengkaplah susunan selepas senja tengah pagi hari ini. Aku menatap jendela kamar Tyah yang balkonnya menghadap jalan. Pintu gerbang rumahnya terbuat dari kayu jati lama sedangkan dinding pagarnya merupakan susunan bata impor yang di atasnya di tanami apel mint. Aku terduduk di gazebo kompleks rumah sambil memandang sinar rembulan yang terangnya bersiar sebagai lampu malam. Ada segelas cahaya nampaknya, sedng berenang mendekati pemancing kapal terbang milik alien yang tengah duduk menunggu kaitnya di makan di atas bulan, itu dongeng, tetapi hingga sekarang aku masih penasaran apakah pemancing itu memang selalu duduk di kursi bulan sabit saat malam masih meregam tanggal muda.
Terkadang saat aku sedang bersantai sendiri, lalu sedang memerhatikan atap bumi, memang seperti ada yang duduk di sana sambil menunggu pancingannya mengait pada kapal yang melewati perbatasan jalan raya ruang angkasa. Aku tertawa, setengahnya karena terlalu senang mengingat kejadian sore tadi. Kalau saja aku sadar apa yang terjadi di muka pagar rumah besar bercat dasar kelabu itu, aku tidak akan tinggal diam dan pergi begitu saja. Aku, sudah pasti akan memeluk pemiliknya sampai aku puas.
Ya, aku sedang jatuh cinta. Eva selalu paham siapa dan bagaimana aku, caraku makan saat satu meja dengannya saja sudah mengundang pengertian dirinya, aku bisa apa kalau dia tahu semuanya, selain diam dan menunduk saja tanpa berkomentar.” Kau sedang memikirkan apa, bukannya hari ini malam minggu, menurutku, jangan menunda niat baik, setidaknya Tyah tahu kalau kau, menyukai dia.”  Ujar Eva usai mengambil posisi tepat disampingku, bersila dan menggayutkan kedua tangannya masing-masing pada lututnya.
Aku meliriknya sebelah mata, lalu mengunci mulut rapat-rapat tanpa menatap kakakku lebih banyak lagi sebenarnya, dia benar. Tapi apa yang harus kulakukan sebelumnya, membeli tiga tangkai bunga, mempersiapkan tiga kalimat jujur, lalu menata suara dan mengabsahkan diri agar tampak lebih berani dari kelihatannya, aa kau bercanda? Aku bukan laki-laki dengan dada sebusung itu, kalau aku adalah tipikal orang seperti impian itu, aku sudah melakukannya sejak beberapa waktu yang lama sebelum kakakku sering mendesakku untuk mengungkapkan perasaan pada Tyah belakangan ini.” Pergilah. Kenapa aku merasa kalau kau tidak melakukannya saat ini, kau akan kehilangan yang berharga.” Aku melipat dahi menjadi beberapa kerutan, aku teregus siung sendiri, kalimat Eva melemparku dalam bimbang. Sesekali darahku berdesir terbawa arus air yang mengalir luat. Dingin, rasanya merasuki celah-celah hati dan pikiran.
*
Aku tidak ikut masuk kedalam ruang keluarga dan menonton acara kesukaanku, kick Andy, aku masih menancapkan pantat ke dalam pangkuan gazebo rumah kami lalu bergunjing dengan jiwa lain dalam diri.” Apa yang harus kulakukan, bisa saj apayang Eva katakan benar, hari ini Tyah bersikap sangat berbeda dengan hari yang lain.” Tapi, aku, apa yang harus kulakukan, datang kerumahnya, dan mengatakan bahwa aku mencintainya? Itu sama dengan bunuh diri, Tyah, mungkin dia akan menamparku jika aku berani kurang ajar padanya, dia terlalu sibuk mengurus  sekolah dan tidak sudi sekali memehatikan laki-laki. Mungkin ciuman itu hanya, bentuk kepeduliannya pada seorang sahabat, bodo! Mikir apa aku ini.
*
Aku tidak tahu apa yang tengah menjudi dan menarikku berhenti di depan pintu rumah Tyah. Ada yang asing, aku melihat dua kopor besar merengkah pada dinding perpustakaan, tahun ini tidak ada yang akan pergi dari rumah Tyah. Sigit baru saja pulang dari Korea dan memulai nasib karirnya di Bandung sebagai dokter spesialis kanker. Ayahnya, mungkin. Hutagalung sedikit merasa bersalah dan ingin sekali menjadi bagian hidup dari keluarga yang takdirnya dibengkalaikan olehnya, barangkali dia ingin menebus kesalahannya dengan cara kembali lalu menyayangi putri kandungnya lebih banyak dari rasa sayag terhadap anak angkatnya. Aku meyakinkan diri, tentu saja, setahuku tdak akan ada yang keluar dari rumah ini lagi selain jika ada yang kembali, aku merujam dua belah gigi yang kering karena terlalu lama menunggu.
 Bi Nah datang, sesaat setelah melihatku beliau tersenyum seadanya sambil menawarkan kursi rotan yang di beri spon di atasnya agar terlihat empuk dan renyah jika di duduki. Aku mengangguk dan segera memenuhi tawaran tersebut, kemudian Bi Nah menanyakan tujuanku, ingin bertemu siapa, Non Rea, atau Den Sigit. Sama sekali, wanita berusia lima puluh empat tahunan itu tak menyenggar nama gadis utama yang memiliki rumah ini, padahal tujuanku adalah bertemu majikan yang lain.” Tyah,” Bi Nah mengerti dibalik kata o dia menyuguhkan isi wajah yang sedang dikurat-karitkan suasana. Aku menderus memelungkup mata pada komposisi kolam ikan patin yang sengaja di buat memutari luas rumah ini. Setidaknya itu cukup menghibur  dalam sebuah penantian panjangku. Sederak kuncangan dalam hati betabur menengahi darah, sesulit inikah menemui gadismu, padahal dia hanya manusia biasa seperti gadis lain yang mengenakan nama belakang keluarganya.
Agung keluar dari garasi setelah terdengar berisik suara mesin mobil sedang ia panasi. Lantas sedetik setelah ada yang mengalir mengarungi penciumanku, serupa aroma balsem pereda pilek yang sering digunakan Tyah jika merasa masuk angin. Ketoleh belakang, tubuhnya telah tergantung renyap sambil menatapku dalam-dalam. Matanya sedang dipenuhi bayanganku saja saat ini, aku bangkit. Pura-pura membersihkan celana yang tak kotor, arah jiwaku sedang buruk, aku tidak yakin bisa memulainya. Ada kesalahan yang membikinku datang kemari untuk bunuh diri.” Ada apa,” suaranya terdengar sedang bergaris-garis. Aku, entah dari arah mana keberanian itu muncul, mendadak kulihat tanganku meraih kelima jari kirinya meregamnya seolah tak mau melepas. Tyah memandangku nanar, dia tampak pusing karena aku tidak memakai sebaris kalimat untuk mukadimah tindakanku.” Kau kenapa,” imbuhnya, aku masih terbingung harus bicara apa, tadi di rumah pun tak terpikirkan apa-apa di benakku, aku saja tidak bermaksud untuk datang kemari dan menemui Tyah dalam keadaan tak karuan begini. Kubiarkan suasana hening merejas di antara kami berdua. Kutatap gadisku, dia tergusar sebab tingkahku yang aneh.” Aku, tidak tahu harus bilang apa, aku, bingung. Apa kau membaca niatku, Eva bilang perempuan sangat peka ketika seorang pria datang menemuinya, dia akan dengan sigap membaca tujuan pria itu. Apa sekarang kau, bisa membacanya?” Tyah melepaskan genggamanku, dia sudah mengerti lalu sgera duduk menghadap arah lain selain tubuhku yang berisi penuh dengan serati serta harapan agar dia tahu kalau aku menyukainya.” Aku tidak ingin mengatakan apa-apa. Kau saja.” Ujarnya, aku mengerti dia hanya ingin aku memperjelas kedatanganku saja. Dia meretaskan diria menyusup pada batako yang tersususn tak rata membentuk relief.” Non, mobilnya sudah siap,”
“ Masukkan saja kopornya,”
“ kau mau pergi? Tanyaku
Dia mengangguk, kakiku bergeser satu derajat dari posisi awal. Aku terderap, ada sedikit guncangan yang membuatku panik atau semacamnya hingga aku merasakan gundah yang dangkal,” kemana?” imbuhku. Ada ganji di hatiku, tiba mencuat menghabisi malam yang berkuncara dalam gelap pikiranku.” Aku tidak tahu tempat apa itu, setahuku aku hanya akan datang ke sana untuk sekolah.”
“ dimana itu, kau”
“ Seoul, ayahku pergi, kakak pergi, kurasa aku pun harus pergi. Ini seperti tradisi, kami bertiga sama-sama mendapat beasiswa di universitas yang sama. suatu saat adikku juga akan datang kesana untuk menyusul. Kau, tolongjaga dia selama kakakku tidak memerhatikan dia, setidaknya awasi anak lelaki bernama Rama itu, aku tahu dia hanya ingin mempermainkan adikku sepert dia mencampakan gadis lain setelah memacarinya. Hm, apa kau tidak tidak keberatan.” Racaunya, aku tidak menatap gadisku lagi setelah dia mengakhiri semuanya dengan kalimat bernada tanya padaku itu.” O, aku terlalu banyak bicara ya sampai kau menekuk lidah dan diam saja.” Tambahnya,
*
Agung sudah mengemasi kopor-kopor itu, lalu setelah Tyah merasa kami sudah selesai mengobrol, dia mengangkat kaki dan segera menghampiri Agung yang sejak semenit lalu membereskan segala sesuatu yang Tyah butuhkan, mengunci pintu bagasi dan terakhir membukakan pintu masuk terios hitam untuk majikannya. Tyah berjalan menjauhiku, dia tidaka memedulikanku sedikit pun dari besar prosentase kepedulianku terhadapnya. Gadis itu,
” Setidaknya sisihkan waktumu sebentar untuk, menjawab apakah kau punya sedikit rasa suka padaku?” sederak itu wajah kaki depannya tampak terenti dan merunyam. Kenapa dia, kenapa tidak berbalik lalu bertanya apa maksudku, aku ingin dia terpancing saat ini. Kemudian menunda keberangkatannya untuk sekedar bicara serius denganku sebelum akhirnya pesawat menuju Seoul membawanya benar-benar jauh dari mataku.
***

Kami duduk berdampingan, menghadap jendela perpustakaan pribadi putri Hutagalung, kemudian saling diam dan ribut dengan pikiran masing-masing. Aku sudah memulainya, dan  gadis ini sudah meresponnya.
Tyah, sama sekali tidak memadangku sejak kali pertama dia memutuskan untuk mendengar pengakuanku lebih dalam. Dia hanya lebih memilih mengawasi isi halaman rumahnya yang dibanjiri aroma mawar stek berbaur segar bayam yang sengaja ditanam menggunakan media air oleh Bi Nah dan Pak Bade, mereka berdua memang lebih suka menuruti apa kata majikan, itu ide Sigit. Setahun yang lalu ketika adik perempuannya mengidap anemia akut karena jarang memerhatikan pola makan dan jadwal minum suplemen penambah darahnya, dia meminta agar adiknya lebih banyak makan bayam usia muda dan yang baru dipetik. Bayam air menurutnya bervitamin serta bermineral lebih tinggi dari bayam kebanyakan.
Kudengar desah napasnya menggantung, aku memandangnya penuh.” Eva bilang, aku harus bilang padamu lebih cepat dari waktu yang kuanggap tepat, dia bilang perempuan tidak suka menunggu laki-laki yang mencintainya menyatakan hatinya ketika jumlah keberaniannya terkumpul cukup besar. Kurasa kau, juga sama. jujur saja, aku tidak suka berbasa-basi, karena ayahku tidak pernah mengajarkanku caranya.” Aku menunduk membisu dalam waktu yang semakin singkat,
Tyah tetap diam, dia tidak berkomentar sedikit pun kecuali mengatur napasnya agar tertata lebih teratur,” Aku menyukaimu, entah sejak kapan, tapi kurasa sejak lama, bahkan sejak sebelum anak lakilaki yang memelihara kumis itu belum datang dan menjadi bagian dari hidupmu.” Tyah tetap diam, tetap mengontrol sirkulasi oksigen dalam darahnya dan menyergah sesekalinya.
” Diamlah, aku tidak perlu mendengarmu mengatakannya berulangkali.” Rambutnya terbelah oleh angin kecil yang menyilir. Aku tersipu, rupanya dia sudah mengerti bahwa aku memang menyukainya selain sebagai seorang yang pernah menjadi sahabatnya.” Aku hanya...”
” Kubilang diamlah, ada banyak hal yang harus kau perhatikan selain mengungkapkan perasaan. Saat aku berada di Seoul, aku tidak mengendalikan Sekolah milik ayah. Aku mengalihkannya pada kakakku, tapi dia tidak terlalu tertarik kau tahu itu kan, jadi setidaknya, tolong bantu aku jika kau tidak keberatan, awasi cara kerja oknum sekolah dan situasi tempat mengerikan itu.” Tempat mengerikan? Kukira dia sangat menyukai tempat yang dibangun ayahnya pada tahun delapan puluhan tersebut, setahuku dia sangat senang berada di sekolah terlalu lama.
Pelahan, kupikir dia tidak akan marah kalau aku meraih tangannya dan mendekapnya beberapa saat sebelum kami berpisah untuk kurun waktu yang terhitung lama.” Biarkan, sebentar saja,” gadis itu hanya menatapku miring tanpa banyak berkata lagi.
Situasi menyenangkan itu, membuatku nyaman setidaknya untuk beberapa waktu aku menjadi lakilaki paling bahagia sebab barusaja mendapatkan gadis yang kuinginkan hari ini. Angin menerpa wajahku, membelai kunang mataku menyalip segala sesuatu yang terias dalam kenap-kenap hatiku.” Kau tahu, ada sebuah tempat yang selalu menjadi tempat terindah bagi seorang Graham Bell,” Wajah yang terteku menoleh padaku, separuh dari hatinya sedang bertanya padaku, setengahnya lagi tentu sudah tahu bahwa aku tidak pernah tahu siapa Graham Bell, apalagi secoret hal yang terkait dengan dirinya. Karena aku bukanlah kutu buku, dia sedang menyadari jika aku menyadur kalimatnya yang pernah dia katakan padaku lima tahun kapungkur.” Ladang gandum yang luas menguning disekitarmu, aroma sedap selai kacang yang dibuatkan ibumu, angin yang berajuk indahnya, mengaliri tubuh bersamaan dan membuatmu merasa, seperti berada dalam surga. Memang tidak ada yang tahu apa dan bagaimana itu surga, tetapi mengatakan sesuatu yang indah, mendengar sesuatu yang tidak buruk setiap hari dari bibir ayahmu, mendapatkan banyak hal yang dapat kita pelajari dari alam atau orang lain, dan bisa melihat seseorang yang kau cintai, bagiku semua itu adalah surga. Seandainya, ada ladang gandum seluas itu, selai kacang seharum itu kata-kata seindah yang dimaksud Bell,,” terusku,
“ Kau... mengingatnya dengan sempurna, apa kau mencatatnya dalam buku diarymu”
“ Ya, aku konyol kan?”
Aku adalah pria berwajah tangguh yang menemukan keberanian serta kebahagiaanku hari ini, aku mendapatkan gadisku, aku mendapatkan cinta lamaku. Sebelum bagianku berakhir aku membelai rambutnya, Tyah gemetar, ini seperti mimpi, kau duduk dengan orang yang kau cintai dan menyentuh pipinya, sebenarnya aku masih mencium kekakuan dalam diri Tyah, dia terlihat sama sekali tidak bersemangat dan mengabaikanku. Gadis itu mengambil tanganku dari meja pipi kirinya, lalu menggenggamnya selama berapa saat aku mengunci lima jarinya dalam rengkuhan tanganku yang tak berisi apa pun selain keinginan untuk memeluk pemilik rumah ini.
Aku bertanya pada gadis itu, kau, meminta apa dariku untuk kado ulangtahunmu?, kudengar dia menelingas, aku tidak ingin kado  besar, aku hanya ingin tahu apa definisi cinta sesungguhnya, dan aku ingin tahu mengapa orang-orang begitu mudahnya mengatakan cinta pada seseorang yang dia kagumi atau sekedar sukai,
Definisi cinta,
Bagaimana memulainya,
Setidaknya semua orang yang pernah hidup diberi hati oleh Tuhan mereka, dari segumpal organ itu, ada berjuta sel perasaan yang terkadang tak bisa dijelaskan, tak bisa ditatarkan.
” Setiap seminggu sekali aku akan menunggu definisi hal itu, kau tahu maksudku.” Tandasnya merusak fokus tatapanku.
Survey! Bukan pendapatku sendiri, itu maksudnya. Aku menyetujui, anggap saja sebagai kegiatan selingan sambil menunggunya kembali, aku akan pergi ke semua arah, selatan utara, timur barat, ketika kujumpai seseorang yang sedang jatuh cinta, aku akan bertanya apa itu cinta menurut mereka, tampaknya, ini akan menjadi hal menyenangkan seumur hidupku.
***
























Bus kami melintasi terowongan, ada banyak terowongan di Seoul masing-masing memiliki sejarah sendiri yang menimbulkan penasaran pada diri wisatawan domestik serta mancanegara. Aku bukan salah satu dari mereka, aku tidak pernah peduli jika ada terowongan yang mengharuskanku untuk tidak bernapas saat melewati tubuhnya agar apa yang tengah kupikirkan, suatu saat dapat terjadi nyata. Aku tidak suka memercayai kata orang bijak, kecuali jika pendapat mereka sejalan dengan persepsiku. Seperti kata ibuku, kita datang ke dunia ini sendiri, pergi juga sendiri, jangan terlalu memercayai apa kata orang yang kau temui dalam perjalanan hidupmu. Ibuku benar, bahkan pada seorang pria yang menyintai kita pun, kita tidak perlu terlalu percaya padanya, sebab semua lelaki di dunia ini sama, mudah beralih hati mudah tertarik pada hal yang lebih indah dari yang telah dia miliki.
Misalnya suami ibuku, Hutagalung. Mereka berdua tidak menikah karena cinta, melainkan karena sebuah perjodohan, akan tetapi kudengar, ibuku mulai menyukai suaminya ketika mereka sering bertemu dan Hutagalung membelanya. Kemudian mereka memutuskan untuk saling menghargai sebagai awal. Setidaknya sebagai sepasang suami istri, mereka harus terlihat mesra dan harmonis di depan keluarga dan tetangga. Mereka berdua saling berjanji tidak akan memperlihatkan jika masing-masing dari mereka tidak saling menyintai. Aku tidak tahu apa yang ibuku bicarakan, hari itu, adalah seminggu sebelum ibuku pergi dari kediaman yang setahuku interior dan model rumahnya adalah rancangan ibuku.
Kelihatannya laki-laki berdarah Sumatera Barat itu memang seorang pria setia yang tidak akan mudah berpaling. Kenyataannya, setelah aku berusia delapan tahun, ayahku datang membawa seorang perempuan kecil yang sangat lucu, aku menyukai anak itu. Dia sangat manis dan cantik, seolah segala hal yang menyusun dirinya adalah pesona mengagumkan. Ketika kakinya turun dari mobil baru kami, angin membelai rambutnya menerbangkan wajah yang bersinar dibawah terik matahari yang sejuk. Jangankan Ghani, atau Rama yang merupakan anak lelaki normal, aku saja sangat terpukau oleh kharisma wajah anak kecil bernama Rea Dyah itu. Dia tersenyum, rasanya hatiku tersayat, pada saat ku tahu bahwa Ghani sedang memerhatikannya tanpa berkedip sedetik pun. Begitu mempesonakah dia? Aku , merasa sangat iri.
Kami duduk di ruang perapian malam itu juga. Gadis kecil itu tidak terlalu banyak bicara ketika kami tidak membahas lebih lanjut siapa sebenarnya dia dan darimana. Ku perhatikan ibuku, tiba-tiba mengunci mulut meski dia sangat ingin memecah hening yang mengerubungi ruangan keluarga kami, televisi sedang berisik, diluar hujan deras menderap, angin meruap mengisi ventilasi dengan udara yang terasik. Rea memelukku, dia berpikir aku adalah seorang kakak perempuan yang baik, ayahku bilang dia adalah anak seorang teman yang hendak dititipkan di panti asuhan, tetapi karena ayahku berjiwa sosial tinggi, dia meminta pada orang tua Rea agar menyerahkan gadis kecil bermata bulat itu padanya untuk diadopsi, aku tidak keberatan, karena aku suka anak kecil, aku membayangkan bahwa setiap pagi sebelum berangkat sekolah kami akan mandi bersama dan saling menyisir rambut, kami banyak bertukar cerita malam itu, ditengah hujan yang deras yang seperti tak akan pernah berakhir.
Kupikir kehadiran anak kecil itu akan menjadi asupan kebahagiaan bagi keluarga kami, ayahku sering tertawa saat mendengar anak itu bercerita, berbeda dengan jika dia bersamaku, jangankan mendengarku bicara, melirikku saja jarang. Dia bukanlah ayah idaman bagiku, tetapi aku bangga memiliki ayah sepertinya, dia berjiwa besar, dan ringan tangan.” Permisi, boleh aku duduk di sini.” Kedengarannya itu bahasa Korea. Aku mengerling pada sumber suara. Siluet wajah terang dan sebersih kulit salju, senyumnya membias. Aku bergeser tempat duduk, mulai hari ini aku akan tinggal bersama mantan suami ibuku, kuharap tidak akan terjadi hal yang menyakitkan selama aku berada di Seoul, termasuk jika aku bertemu seorang teman yang baik, kuharap tidak akan ada orang lain yang dengan teganya membuat mereka meninggalkanku karena lebih memilihnya.
Seminggu setelah gadis kecil itu tinggal dan resmi diadopsi oleh keluarga kami, kami mulai sering mendengar orangtua kami saling bicara dengan nada tinggi, selalu setiap pukul delapan malam setelah mengantarkan kami pergi ke kamar mandi untuk mencuci kaki dan muka, sebuah pertengkaran pecah dibalik kamar utama rumah kami. Setidaknya beberapa kalimat dari pertengkaran mereka telah mudah kucerna.” Dia anakmu? Dengan siapa? Ratih? Kenapa harus sekarang baru kau katakan, kalau kau masih berhubungan dengan wanita itu.”
“ aku tidak pernah tahu kalau, sesuatu seburuk itu akan terjadi, aku tidak pernah berniat untuk membuatmu marah.”
“ o, tidak, sama sekali tidak. Aku tidak marah, aku kecewa, kenapa harus disaat aku dapat menerimamu sebagai suamiku. Kenapa tidak sejak awal saja,”
Ibuku tidak pernah menyintai suaminya, mungkin hanya sekedar kagum, karena selam mereka bersama ayah memperlakukan istri dan anaknya dengan kasih sayang yang melimpah ruah, aku juga menyintai ayahku. Sejak saat itu, ibuku enggan memerhatikan keadaan gadis kecil itu, dia memilih untuk diam dan lebih banyak menghindari suaminya. Hubungan berantakan orangtuaku mulai menyembur dan meledak saat usia kami mulai beranjak belasan tahun.
 Masih segar dalam ingatanku, jika dia bingung dengan sikap ibu yang dingin dia akan duduk disebelahku dan menunduk sedih luar biasa, aku tidak membencinya karena dia adalah salah satu penyebab pertengkaran hebat dirumah kami timbul. Melihatnya menangis mengundang miris dalam sisi kecil yang terselubung rasa kecewa yang hebat.” Ibu memang tidak pernah memerhatikan anaknya seperti ibu-ibu lain kebanyakan, dia terlalu sibuk mengurus dapur dan meja makan setiap pagi.” Aku mengerti sebenarnya bukan itu alasan yang tepat, tapi aku bisa apa, mengarang kebohongan kecil memang keahlianku untuk meredakan suasana yang mengganas disekitarku. Aku tidak suka ada orang menangis di dekatku, aku bisa berubah menjadi babi lembek dan tiba-tiba penuh kasih sayang untuk menenangkan siapa yang menangis itu. Itu, aku.
***


Awan hitam tebal meningkap diri, aku menerima e-mail baru tanggal merah kedua bulan juni, tepat sehari sebelum tanggal jadiku, Ghani mengirimkan definisi cinta pertamanya. Aku senang, entah kenapa tetapi begitu membaca alamat pengirimnya saja pun senyumku terasa lebar mengembang. Salju sedang melebur, diluar begitu dingin dan aku tidak bersemangat untuk keluar kamar, sehari penuh ayah menyiapkan kamar untukku. Dinding yang tadinya kosong kini bergambar bunga sakura, aku mulai merasa nyaman berada di tempat yang acaka-acakan ini. Di semua sudut ruangan, di rumah ini adalah kaleng-kaleng cat terbengkalai, tergeletak dimana-mana tanpa tersusun rapi.
Aku bertemu seorang laki-laki berkumis tebal, rambutnya tercincang habis, namanya Waluyo, dia sedang jatuh cinta pada istrinya, sebelumnya mereka menikah karena terpaksa, awalnya keduanya tidak saling cinta, tetapi kemudia setelah sering saling bicara dan bercerita masa lalu smasing-masing, dia mulai merasakan ada kenyamanan tersendiri saat berada dekat istrinya,. Maksudku, menurut Waluyo, cinta adalah sesuatu yang membuatmu nyaman berada di dekat seseorang yang bisa membuatmu bahagia, sementara bahagia adalah merasa senang dan mudah melakukan apa yang biasanya menjadi hal terberat setiap harimu.
Sepertinya, laki-laki itu benar. Cinta adalah hal yang membuat kita mudah melakukan kegiatan sehari-hari yang rumit dan membosankan. Selamat ulang tahun, gadis berambut pendek yang arogan.
 Kalimat terkhirnya membuatku geli. Aku tertawa kecil, ini seperti keharusan. Setiap aku menerima e-mail dari Ghani ada imbuhan kalimat yang menyudar, terkadang membuatku tersipu karena dia memuji, atau tertawa sebab geli.
*
Ayah membuatkanku pangsit mie, ada aneka sayuran yang sengaja dipotong besar direbus setengah matang lalu ditaburkan di atasnya sebagai garnis. Ayahku tidak pandai memasak tapi dia selalu memiliki teknik memasak sehandal koki terkenal, aku ingat mengapa semua orang berbondong datang ke rumah kami sambil membawa piring, menggunakan wajah kurat-karit mereka menggantung harapan agar dapat cicipan masakan ayah. Aku yang menyebarkan kalau ayahku bisa memasak pada orang-orang itu, lalu mengundang mereka jika tidak keberatan untuk menyaksikan sendiri kehebatan ayahku. Sama denganku, mereka terkesima melihat adegan demi adegan yang dipertontonkan ayah, teknikk memotong cepat mengguling-gulingkan pisau di udara, aku suka melihat ayah melakukannya.
Namun kemudian, setelah kami mencicipi hasil masakannya separuh dari kami yang lidahnya masih waras  berkomentar jika masakan ayahku hambar, tapi kulihat tadi ayahku memasukkan bumbu yang cukup banyak jadi mana mungkin rasana jadi lain, kami saling pandang, pada saat yang sama ayah bertanya pada kami, apa makanannya enak, kami bilang, ya enak, dalam kondisi terpaksa.
Ayahku hobi sekali memakan mie ramen buatan istrinya, terkadang kulihat mangkuknya bertambah dua porsi penuh jika sedang sangat kepingin. Sepertinya enam tahun belakangan dia tidak pernah mendapatkan mie ramen buatan wanitanya, kupandangi isi wajahnya yang terkatung-katung tak berasa itu, dia menoleh padaku, selaras dengan apa yang kupikirkan. Miris matanya mengundangku kembali berpikir bahwa, pemilik nama lengkap Dann Mayon Hutagalung tersebut sedang merindukan seorang wanita disampingnya, aku sangat mengerti dan bahkan mungkin bisa merasakan apa yang dirasakan lelaki yang usianya tidak terlalu tua untuk menikah lagi itu. Aku memakan apa yang disuguhkannya, ada kimchi yang direbus dengan taburan lada putih serta garam. Aku melipat lidah dalam pangkuan tangan. Mulai menggantung beberapa pertanyaan yang hendak igin kutanyakan, sungguh, sebenarnya aku gembira dapat duduk berdua dengan ayahku, menemaninya minum kopi, atau hanya sekedar melihatnya melukis sesuatu yang diabstrakkan. Ayah memang pernah membuatku kecewa sebab perselingkuhan dan mengakibatkab ibu meninggalkan kami lalu membentuk keluarga baru dengan lelaki lama yang pernah ia kenal, tetapi ayahku selalu memuatku merasa tenang jika sedang bersamanya, meski diluar itu ayah menyadari bahwa aku masih sangat kecewa padanya.
Ukuran tubuh kami tidak pernah berbeda jauh, beberapa potong pakaian dari Seoul terkadang datang di depan pintu untukku dan Rea, ayah sering membelikan Rea rok setengah lingkar warna parkit, sementara untukku sebuah blezer dengan warna gelap yang membuatku semakin tampak dingin dalam kebekuan es. Sore setelah aku tiba, dirumah seluas seratus lima puluh tiga sentimeter bergaya Jepang sudah kelihatan basah, kupikir hujannya tidak terlalu sumbar. Air yang jatuh terkesan sedikit dan kecil dalam kisaran waktu yang tidak sebentar. Jendela rumah ini bergambar bunga timbul, warna merah jambu kalas membuatku tiba-tiba menyuratkan sebuah pertanyaan ampang. Aku penasaran bagaimana cara ahli kaca itu membuat sepotong kaca berelief, apakah sebelumnya kaca itu adalah serupa selembar kain yang dapat dipotong lalu dijahit dengan benang sebelum akhirnya menjadi sebentuk baju yang indah. Aku mandi penasaran dan ribuan tekateki silang yang tak saling bertaut di otak, itu, membuatku terlihat tidakfokus terhadap apa yang sedang kulakukan.
“ apa ramennya tidak enak, Nak. Kau tidak menyentuhnya sama sekali sejak kkusuguhkan hangat-hangat.” Aku meliriknya, kemudian bangkit dan mulai mencicipi ramen buatan ayah, o, tidak. Lidahku rasanya ketagihan oleh beberapa komponen yang menyusun ramen ini, tekstur lembut mie-nya menyedat indera perasaku wangi lada yang mantap dengan koya buatan sendiri itu renyah. Ayah masih memandangiku, dia seang menungggu seberut komentar menyembur dari dari bibirku, aku  memanggut, ini tidak seperti  masakan ayah. Rasanya terlalu lezat untuk ukuran mie restoran yang kokinya seamatir ayah.” Tidak, iini enak.” Uajrku memuji, bahkan kalau isi panci yang masih di panaskan diatas kompor itu masih tersisa aku ingin menambah lagi. Ayah tersenyum, kelihatannya semua perkataanku membuatnya senang sekaligus bangga.
***



Jarak rumah dengan kampus tidak terlalu jauh, jika berjalan sekitar setengah jam harus kutabung untuk berjalan, di Seoul, sama seperti di Jepang semua orang menggunaka kaki mereka untuk pergi keluar rumah. Kecuali jika hendak bepergian sejauh berapa mil maka kami harus menggunakan motor atau mobil. Detk kaki demi detak kaki datang dan pergi, orang bilang mahasiswa atau siswa yang bersekolah di kota ini lebih suka mengahbiskan waktu mereka di sekolah daripada di rumah, fasilitas besar yang diberikan kepada mereka selama belasan jam membikin merek sangat merindukan agar malam berganti pagi dengan cepatnya. Sungguh aku saja tidak pernah merasakan sekedar betah sejam saja untuk tinggal disekolah. Ada ketidaknyamanan jika lebih dari lima jam aku harus duduk saja di perpustakaan atau ruangn kerja mengurusi laporan keuangan dan prosentase kinerja guru.
Aku duduk di sebelah seorang mahasiswa berkaus merah maroon, rambutnya terurai panjang, ketika sejelurik angin mengambang menyelahi kepiang rambutnya yang berbayang di atas permukaan paving abu-abu. Dia tersenyum kepadaku, serupa teguran yang menanyakan sebuah pertanyaan yang tak perlu dijawab, apa kau mahasiswa baru, susulnya, aku mengangguk setengah tak mengerti bahasanya, dia mengucapkannya dalam bahasa korea, logat Pyong Pyang-nya mendarah daging di lidahnya, aku menjawab ya. Aku tidak pintar berbahasa korea, sesekali kusisipkan bahasa inggris yang juga tengah pas-pasan untuk menengahi ketidak tahuanku jika aku sedang bingung harus berkata apa. Tak jarang beberapa orang yang mengobrol denganku tertawa kecil, mengejekku. Tidak apa, aku sudah sangat terbiasa.” Kau dari salah satu negara Asean? Wajahmu, tidak asing bagiku,” tentu saja, bukankah sejam yang lalu gadis yang usianya sekitar sembilan belas tahun itu berpapasan denganku sebelumnya?
Aku mengangguk kembali, gadis itu melipat buku tarrotnya, lalu mengajakku pergi berkeliling kampus. Di sela-sela perjalanan dia menjelaskan satu per satu sejarah tempat yang kami lewati, aku diam, selama dia bicara aku hanya tertegup memerhatikan tanpa banyak komentar lagi. Semua orang yang sedang duduk memenuhi seluruh sudut bangku yang tertata rapi segaris di muka kelas, terlihat sedang mengawasi kami. Aku menatap mereka nanar, sarat ketidak pastian, ratusan rasa curiga merebak diri. aku tidak tahu siapa dan bagaimana dia berani meraih tanganku tanpa ijin resmi dariku, seorang lelaki berkumis tipis berkulit putih salju agak terbakar, mm, bisa kau bayangkan? Mata sipitnya serta rambut cepak berwarna hitam kecoklatan kemudian menatapku penuh perlawanan. Aku merembuk jiwa yang setengah badannya melembut kaku. Dia menggiringku ke keramaian, tetap seperti cerita awal, semua orang masih memerhatikanku, kami terenti di depan beberapa lelaki dan perempuan yang masing-masing dalam pangkuannya sebuah laptop yang terhubung koneksi wireless, genggaman tangan yang tadi mencengkeram tanganku meringan sesaat setelah dia, lelaki itu melepaskan tanganku.
Dia memandangiku, aku melihat ribuan benang tanda tanya bergetuar dalam isi wajahnya, sesekali matanya bertautkan seruan keinginan untuk bertanya. Dia memandang sekelilingnya, ada semacam rasa malu mencuat karena telah melakukan sesuatu hal yang bodo, aku tengkurap hati dalam mata terkejutku. Dia memiringkan bibirnya separuh, mencoba menyampaikan sebuah perkenalan, em, mungkin.” Mahasiswa baru?” aku mengangguk saja, darimana? Lanjutnya. Aku diam, kubiarkan dia menerka-nerka, sepertinya dia sangat suka hal yang berhubungan dengan tebak menebak.” Indonesia, atau Malaysia?”
“ Menurutmu.” Dia kembali memamerkan barisan gigi yang teracuni kafein, barisan gigi yang sedikit dipecahkan warna garing kekuningan.” Bagaimana bisa, kau lupa padaku anak Dann Mayon Hutagalung,” aku tertegun, aku mengerti dia mengenalku, namun yang membuatku bingung adalah siapa dia? Mengapa aku seperti tidak pernah sekedar melihatnya.
 Kuhitung berapa kalikah matanya berkedip dan membuatnya terlihat sedang menungguku mengiyakan bila benar, kami memang pernah saling mengenal sebelumnya, atau mungkin di kehidupan lain. Aku diam.” Kita pernah bertemu sebelumnya?” dia menggeleng kuat. Aku merubak tulang dada yang tiba-tiba merengkas, aku berempat dengan kedua tangan serta mataku memegang erat kotak memori dan terus memutar jarum besi yang seharusnya tidak pernah boleh di putar balikkan. Lelaki yang belum mengenalkan namanya tersebut meretakkan giginya, aku mulai mengingat meski selamanya aku tidak akan pernah  bisa mengingat.
“ Entahlah pernah tapi mungkin belum pernah juga, bagaimana menjelaskannya ya,” serunya sambil menggaruk-garuk kepala yang tak gatal. Sikapnya membuatku tiba-tiba menaruh curiga tebal. Sebentar tatapanku menajam, lalu aku beranjak pergi,
Laki-laki tanpa nama itu menenggak tubuh lenganku seketika, itu membuatku risih Ghani saja yang seminggu lalu telah menjadi pacarku tidak pernah memegang tanganku jika aku tidak mengijinkan, terlebih dia selalu meminta maaf kalau aku merasa dia membuatku tidak nyaman dan marah.” Apa-apaan kau.” Celetukku menggunakan nada dasar do, pita suaraku memang rendah, tetapi bukannya  semacam infrasonik yang tak bisa didengar manusia dengan jelas. Aku hanya tidak suka meretakkan nada tinggi saat aku sedang bicara bahkan jika aku sedang marah pada lawan bicaraku, aku lebih suka terlihat tenang dan santai kapan pun dan saat apa pu keadaanku.
 Lelaki itu menatapku tajam, dia tidak mengerti apa artinya kalimatku, atau dia memang sengaja sedang menggodaku,” Aku Kim Hyun Jun. Kita lahir di bulan yang sama, tanggal dan hari yang sama meski tahun yang berbeda,” aku mengerutkan jidat, ada yang sumbang.” Kau pasti heran bagaimana bisa aku kenal nama ayahmu,” Aku mengangkat separuh alisku,”

yunita_wulandari19@yahoo.com